Tumbuh Berani di Tengah Gelombang

Oleh: Mochammad Bayu Tjahono, Staf Direktorat Jenderal Pajak *)

Tak salah jika menyebut tahun 2018 merupakan tahun politik. Pada 27 Juni 2018 mendatang 17 provinsi dan 154 kota dan kabupaten menggelar pemilihan kepala daerah secara serentak. Alhasil bukan hal aneh jika ada kegamangan menghadapi tahun ini. Tahun 2018 juga diprediksi perekonomian masih belum membaik, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 5 - 5,2 %. Perkiraan tersebut di bawah penetapan target dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2018 sebesar 5,4 %. Selain kebijakan pemerintah yang diperkirakan tidak akan banyak berubah di 2018, pernak-pernik pilkada sungguh menjadi riak bahkan gelombang bagi ekonomi dan bisnis Indonesia.

Meskipun demikian Presiden Joko Widodo menegaskan bahwa pilkada bukanlah alasan untuk tidak berekspansi bisnis. "Tiap tahun ada pilkada, masak mau menunggu terus! Pilkada ya pilkada, ekonomi ya ekonomi," begitu pesan Joko Widodo pada acara di Ritz Charton Pacific Place Jakarta akhir Januari 2018.

Pelaksanaan pilkada tidak harus dipandang sebagai gelombang yang akan menghantam perekonomian Indonesia, namun pilkada juga akan meningkatkan daya beli masyarakat. Industri kreatif akan terbantu dengan pelaksanaan pilkada, mulai dari perang desain kaos, suvenir, dan program-program pelayanan kepada masyarakat yang ditawarkan oleh para kandidat. Bahkan tidak sedikit kandidat yang memberikan sumbangan kepada masyarakat, baik dalam bentuk uang, makanan, maupun prasarana. Dalam program-programnya setiap kandidat pasti akan menampilkan kemandirian daerahnya dengan penggalian potensi yang ada.

Kesimpulannya adalah tiap tahun adalah tahun politik, namun bukan berarti bisnis harus terus tiarap tetapi saatnya bergegas menjemput peluang. Optimisme pemerintah juga diwujudkan dengan kenaikan target penerimaan pajak di tahun 2018 sebesar 9,3% dari target di APBNP tahun 2017.

Optimisme tidak hanya sekadar semangat saja tetapi beberapa kegiatan yang terjadi di tahun 2018, perbaikan infrastruktur dan layanan pemerintah mendorong kepercayaan akan tercapainya target penerimaan pajak.

Beberapa proyek infrastruktur yaitu 651 km jalan tol di pulau Jawa dan luar Jawa, 2 (dua) jalan kereta api, 3 (tiga) PLTA, 2 (dua) PLTU, 2 (dua) LRT, MRT, kilang minyak, pembangkit tenaga listrik, bendungan, sekolah, irigasi, jalan lintas Papua, Kalimantan, dan Nusa Tenggara serta bandara menelan ratusan triliun yang melibatkan pemerintah dan swasta. Pembangunan ini diharapkan akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia, mempermudah distribusi barang, dan mempermudah gerak masyarakat. Jika dahulu membutuhkan waktu yang relatif lama untuk dristribusi, saat ini bisa dipangkas. Hal ini sebagai nilai tambah bagi investor untuk memilih Indonesia sebagai tempat berinvestasi.

Pelaksanaan Asian Games dan IMF-WB Annual Meeting diharapkan juga bermanfaat bagi perekonomian di Indonesia dalam jangka pendek maupun panjang, khususnya dalam peningkatan di perdagangan dan pariwisata. Pelaksanaan Asian Games didahului dengan pre test Asian Games yang saat ini sudah berlangsung. Pelaksanaan ini sudah mendorong perekonomian mulai meningkat, tingkat hunian hotel juga mulai naik. IMF-WB Annual Meeting yang dilaksanakan di Bali juga memberikan pesan bahwa pulau Bali aman untuk tempat pariwisata, pengaruh letusan gunung agung sudah tidak terasa sehingga turis mancanegara bisa berpariwisata lagi di Bali.

Meski tahun 2018 penuh dengan titik dan intrik politik yang bisa menimbulkan gelombang yang menghantam perekomian Indonesia, namun Ditjen Pajak sebagai institusi pengumpul penerimaan negara masih memiliki banyak gerak untuk mencapai target penerimaan. Beberapa senjata sudah disiapkan untuk mencapai target penerimaan tersebut mulai dari pertukaran data, pemanfaatan data internal dan data pihak ketiga, serta beberapa peraturan pelaksanaan setelah amnesti pajak.

Pelaksanaan hajatan politik yang terjadi di tahun 2018 dan 2019 biarlah berjalan dalam relnya, Ditjen Pajak tetap harus menjalani perintah undang-undang dengan tetap mengedepankan pendekatan persuasif sehingga tidak menimbulkan kegaduhan, tetapi melakukan sederet hal positif dengan lebih berani dan tetap profesional.

Sedikit bergerak kebelakang, April tahun 2017 terbit buku yang menarik dengan judul Angsa Hitam. Penulis buku mengemukakan bahwa di tengah keteraturan sesungguhnya muncul juga sesuatu yang di luar perkiraan, bergerak diluar keajekan, berakibat ekstrem dan hanya bisa dijelaskan setelah kejadian. Dari sekumpulan angsa putih yang ada di kolam memungkinkan munculnya angsa hitam. Kemunculan ini oleh sebagian orang dianggap sebagai gelombang.

Di tengah gelombang isu atau sentimen negatif akan pilkada, Ditjen Pajak dituntut untuk tetap tumbuh dan eksis demi membiayai pembangunan dan pelaksanaan pilkada. Sekali lagi tahun 2018 memang menantang, potensi timbulnya gelombang yang menghantam perekonomian bisa terjadi, termasuk munculnya angsa hitam sebagai akses suhu politik selalu ada. Bersikap menolak hal ini sama saja dengan membohongi diri sendiri. Namun dengan fokus pada kekuatan yang dimiliki dan pendekatan yang persuasif, Ditjen Pajak yakin akan pencapaian target. Sikap profesional dan tidak mendukung salah satu calon akan membantu untuk tumbuh berani di tengah gelombang. (www.pajak.go.id) *) Tulisan ini merupakan pendapat pribadi

BERITA TERKAIT

Transaksi Saham Sepekan Tumbuh 12,53%

NERACA Jakarta – Sepekan kemarin, laju indeks harga saham gabungan (IHSG) mengalami peningkatan sebesar 4,38% menjadi 5.944,07 poin dari 5.694,91…

Sido Muncul Menaruh Asa Penjualan Tumbuh 10% - Perluas Pasar dan Produk Baru

NERACA Surabaya – Masih terjaganya daya beli masyarakat menjadi keyakinan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) bila…

Presiden Minta Koperasi Melek Teknologi - DI TENGAH ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Jakarta-Presiden Jokowi berharap koperasi di Indonesia bisa mendunia. Untuk itu, Presiden minta koperasi di negeri ini mencontoh koperasi terbaik di…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Kerusakan Lingkungan Hidup dan Pembangunan Infrastruktur

Oleh : Linda Rahmawati, Pengamat Masalah Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam            Sampai pertengahan Juni 2018, pengerjaan proyek kereta…

Kesenjangan Barat-Timur RI Tak Bisa Segera Berakhir

Oleh: Sarwani NKRI Harga Mati !!! yel yel  ini sering kita dengar sebagai reaksi atas munculnya gerakan separatisme atau ancaman…

Riak-Riak Permasalahan Pasca Pilkada 2018

  Oleh : Wulandari Dewi Setyaningsih, Pemerhati Sosial Politik              Setelah “berhasil” dilaksanakan tanggal 27 Juni 2018 yang lalu,…