Peran Pers dalam Menangkal Isu SARA

Oleh : Sulaiman Rahmat, Mahasiswa Lancang Kuning Pekanbaru

SARA menjadi permasalahan yang mudah sekali dihembuskan dan menyulut emosi. Pada 2018 ini akan digelar pesta demorasi rakyat yakni Pilkada. Isu tentang SARA juga kemungkinan besar akan muncul kembali untuk kesekian kalinya.

Biasanya isu SARA akan cepat sekali tersebar, apalagi di jaman sekarang dimana sebuah berita dapat diakses dengan mudah lewat telepon genggam. Saat ini media online menjadi yang sering dituju untuk mencari topik berita yang teraktual dan viral.

Karena itulah penting sekali peranan media/pers dalam menangkal isu SARA sehingga masyarakat indonesia tidak terpecah-pecah dan berkonflik untuk sesuatu yang seharusnya tidak perlu diperdebatkan. Sebuah perbedaan itu harusnya tidak perlu menimbulkan konflik ketika masing-masing bisa saling memahami dan bertoleransi sehingga tidak memaksakan pendapatnya untuk diikuti oleh orang lain pula.

Menurut pengamat media massa Agus Sudibyo, bahwa media sosial semisal Facebook dan Twitter memiliki pengaruh yang cukup besar dalam mempopulerkan sebuah berita. Perlu adanya sikap bijak ketika menggunakan media sosial agar tidak memancing hal-hal yang kemudian menyulut ke SARA. Adanya kesalahpahaman dalam melihat sebuah kebenaran juga bisa menyebabkan pelanggaran SARA mudah sekali meletup.

Disinilah pentingnya media massa untuk tidak semakin memperuncing permasalahan, tapi justru mengklarifikasi kebenaran berdasarkan data yang ada. Sebaiknya masyarakat juga perlu bijak dalam menilai sebuah informasi. Kita perlu jeli untuk membedakan mana berita yang valid atau justru hanya hoax belaka.

Menjaga perdamaian antar golongan, ras, dan agama tentunya bukan hanya tugas segelintir orang yang berkecimpung di dalam media massa, entah itu penulis, fotografer, reporter, ataupun lainnya. Tapi juga tugas seluruh masyarakat Indonesia. Lalu bagaimana ya cara menanggulangi agar kita tidak mudah terjebak dan percaya pada isu SARA yang sengaja dihembuskan oleh pihak-pihak yang menginginkan pertikaian? Mungkin ketika isu SARA itu berhembus, kita perlu kembali menelaah pancasila yang selama ini menjadi dasar negara.

1.Meyakini Ketuhanan yang Maha Esa

Sila pertama dalam Pancasila ini memang dimaksudkan untuh mengukuhkan persatuan. Indonesia yang memiliki berbagai suku bangsa dan bahasa dapat menyatu dalam sebuah negara Republik Indonesia. Dengan meyakini bahwa kita semua memiliki satu ketuhanan yang maha Esa, perbedaan bukan hal yang perlu diperdebatkan. Entah kita menganut agama yang berbeda, namun rasa toleransi akan muncul karena dapat menghargai pendapat dan keyakinan orang lain.

2.Kemanusiaan yang adil dan beradab

Tak dapat dipungkiri bahwa isu SARA biasanya sengaja diperkeruh menjelang Pilkada demi kepentingan politik. Berita-berita hoax bertebaran dan semakin menjauhkan dari kebenaran. Kemudia rakyat akan terpancing, tersulut emosinya.

Pergerakan rakyat yang marah tentunya bukan sesuatu yang diinginkan bukan? Hal ini bisa merong-rong persatuan dan kesatuan negara. Semakin kita terpecah belah, kita akan semakin mudah untuk dihasut dan semakin bertikai antar bangsa sendiri. Bagaimana pun, konflik bisa saja mengancam stabilitas negara.

Ketika ada permasalah sensitif mengenai SARA, rakyat Indonesia perlu mendamaikan pikiran dengan mengingat kembali sila yang kedua dari Pancasila. Kemanusian yang adil dan beradab bukanlah hanya sebagai hiasan simbol negara kita, tapi kita perlu mendalami maknanya. Sebagai manusia yang beradab dan berbudaya Timur, kita perlu mendalami permasalahan sebelum bertindak gegabah.

Yang perlu kita tahu, tak akan muncul asap dipermukaan jika tak ada api yang dinyalakan. Kita perlu mendalami motif apa yang ada dalam sebuah kejadian sebelum melemparkan isu SARA.

Di media online memang mudah sekali ditemukan berita yang seakan mengipasi permasalahan menjadi semakin besar. Kalau begitu, perlu tindakan bijak dari pengguna media sosial untuk menyaring kembali berita yang didapat dan tidak terburu-buru men-share berita ke publik yang berpotensi viral dan meresahkan.

3.Persatuan Indonesia

Bukan media massa atau pers saja yang dituntut untuk menjaga persatuan Indonesia, tapi juga seluruh rakyat Indonesia. Peran pers memang penting sekali di dalam menampilkan konten-konten yang semakin menciptakan persatuan bangsa. Namun, itu semua tidak akan bisa sepenuhnya terwujud jika tidak disertai kontribusi dari rakyat. Kita perlu menyadari bahwa menjaga persatuan bangsa dan negara adalah kewajiban bagi seluruh rakyat.

Dengan menyadari hal tersebut, kita tidak akan mudah terprovokasi untuk menyalahkan satu pihak atau membenarkan pihak lain secara emosional. Kita juga tidak akan mudah terpancing isu-isu SARA yang belum tentu benar. Menciptkan persatuan Indonesia adalah hal yang perlu dijaga agar aman dan sentosa bumi pertiwi ini.

4.Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan

Sila keempat dari Pancasila yang sudah dirumuskan jauh hari oleh para tokoh nasional terdahulu juga perlu kembali didengar di tengah pergolakan isu SARA yang ramai diperbincangkan. Sila keempat ini mengajarkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang bermusyawarah.

Isu SARA memang sensitif untuk diperbincangkan, apalagi diperdebatkan. Membahas permasalahan menyangkut SARA akan lebih baik dengan duduk berkumpul bersama. Disinilah peran media agar meliput jalannya musyawarah tersebut dengan apa adanya tanpa provokasi atau pun memihak satu golongan. Sebuah kebenaran perlu disebarkan dan disampaiakan kepada seluruh rakyat Indonesia.

5.Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Adapun sila kelima yang ada dalam Pancasia perlu ditegakkan demi memberikan perlindungan bagi seluruh rakyat Indonesia tanpa terkecuali. Entah itu para pekerja di bidang media maupun rakyat atau pemerintah perlu bekerja sama di dalam mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

SARA menjadi isu yang bukan main-main. Banyak orang yang akan terprovokasi dan tersulut emosinya ketika mendengar bahwa apa yang ia yakini, jaga, hormati, entah itu agama, ras, atau pun etniknya direndehkan atau dinistakan. Akan datang berbagai ancaman datang entah itu secara psikis maupun fisik bagi para pelaku SARA. Karena itulah keadilan perlu ditegakkan dengan sebenar-benarnya. Perlu adanya pengawasan agar tak ada yang main hakim sendiri.

Dengan kembali kepada pancasila, sebenarnya bukanlah sebuah hal yang sulit untuk meredam dan menghadapi isu-isu SARA. Sebenarnya media massa juga tidak sepenuhnya salah atas merebaknya isu-isu SARA jelang pilkada. Bagaimana pun juga media massa memiliki peran penting dalam menghubungkan informasi kepada seluruh masyarakat Indonesia, terutama untuk mereka yang tidak berada di kota-kota besar. Media massa menjadi suluh atas berbagai kekurangan informasi.

Yuk, sekarang bertindak lebih bijak lagi dalam mempercayai media massa. Bukan berarti kita harus apatis terhadap berita yang beredar, tapi kita harus cari sumber yang terpercaya. Bijak pula dalam menggunakan media sosial untuk tidak membagikan berita-berita hoax yang memperkeruh hati rakyat banyak

Untuk para pekerja di bidang pers, mari kita hadirkan konten-konten bermanfaat yang semakin mempererat persatuan negara. Menghadirkan tulisan-tulisan yang bisa mengklarifikasi kabar-kabar hoax tentang isu SARA yang sebelumnya bermunculan. Sebarkan berita kepada seluruh rakyat Indonesia dari sabang hingga Merauke yang mengandalkan media massa untuk mengetahui informasi terkini tentang sebuah peristiwa.

BERITA TERKAIT

Dewan Pers Tegaskan Kewenangannya Sesuai UU

Dewan Pers Tegaskan Kewenangannya Sesuai UU NERACA Jakarta - Dewan Pers (DP) menegaskan kewenangannya dalam membuat sejumlah peraturan terkait dunia…

Dukung Rumah Terjangkau MBR - BTN Siap Ambil Peran Pembiayaan Rumah

NERACA Bali - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk siap menjadi integrator dalam menggerakkan sektor riil melalui pembiayaan perumahan di…

DHE Wajib Simpan di Dalam Negeri, Investor Lari?

Oleh: Pril Huseno Dalam waktu dekat pemerintah akan mengeluarkan beleid Peraturan Pemerintah (PP) tentang kewajiban bagi para pengusaha (atau eksportir)…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Bilateral dan Multilateral

  Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi., Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo   KTT ASEAN ke-33 pada 11-15 Nopember lalu…

Isu TKA Bertujuan Jatuhkan Kredibilitas Pemerintah

    Oleh: Anisa Medina, Pemerhati Ekonomi, Sosial dan Politik   Pada 2016, China telah duduk di posisi ke-3 sebagai…

Teknologi “QR Code” Ubah Perekonomian Indonesia

  Oleh : Maria Natasia, GenBI Universitas Negeri Jakarta Perkembangan dalam dunia Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) yang sangat pesat,…