Menimbang Investasi Dengan Suku Bunga

Semua produk investasi pasti memiliki resiko, dan pasti pula memiliki pilihan. Untung besar dengan resiko investasi besar atau tidak terlalu besar dengan keuntungan tidak terlalu kecil. Semua hanya sebuah pilihan.

Neraca. Pada jaman moderenisasi ini begitu banyak produk investasi yang gencar mempromosikan produk mereka agar kita bersedia untuk menginvestasikan uang kita pada salah satu produk yang mereka tawarkan.

Sebuah investasi pada suatu bidang usaha, memang dapat menambah penghasilan seseorang namun investasi di sisi lain juga membawa resiko keuangan jika investasi tersebut gagal. Kegagalan investasi bisa disebabkan oleh banyak hal, misalnya faktor keamanan seperti pencurian aset, hukum, kondisi ekonomi dan faktor-faktor lainnya.

Ada beberapa bentuk investasi yang kita kenal. Misalnya tabungan, deposito, saham, emas, properti, obligasi, dan lainnya. Tidak semua investasi bisa langsung memiliki keuntungan yang besar. Selain itu, tidak semua investasi yang memiliki resiko yang besar.

Tengok saja sebuah tabungan, jika kita menabung di bank, maka keuntungan yang diperoleh tidaklah besar. Bunga bank per tahun sangat kecil, apalagi jika dipotong dengan biaya administrasi bank, bisa jadi aset kita berkurang meski sedikit. Namun resiko tabungan relatif kecil karena tabungan dijamin oleh pemerintah. Sehingga jika terjadi sesuatu pada bank yang mengelola tabungan, maka uang kita tidak hilang. Itupun dalam batas tertentu.

Tabungan dibutuhkan untuk berjaga-jaga sebagai dana siaga atau dana darurat. Jika Anda berinvestasi di valesa, sebaiknya Anda tidak menghabiskan seluruh tabungan. Disarankan 30% sisa dana tetap untuk tabungan atau deposito. Mengapa? Ini sesuai dengan tujuan berjaga-jaga. Jika Anda membutuhkan uang segera, secepat kilat bisa terpenuhi dari tabungan. Investasi di valesa tidak selalu bisa diuangkan segera.

Misalnya kalau saham sedang disuspen - perdagangannya dihentikan sementara - Anda harus menunggu transaksi saham itu dibuka. Ini bisa beberapa hari atau minggu. Alasan lain, kalau kondisi investasi valesa Anda sedang buruk, Anda tidak harus memaksakan menjualnya. Memiliki tabungan memang dibutuhkan.

Terlebih kalau investasi valesa anda benar-benar terpuruk, memiliki tabungan bagaikan setetes air di padang gurun. Inilah yang terjadi saat krisis financial global. Bayangkan kalau Anda menggelontorkan semua sisa dana 100% di saham. Lalu harga saham anjlok ke titik nadinya. Bukankah kalau Anda menguangkannya, karena butuh dana darurat, bagaikan sudah jatuh tertimpa tangga? Tabungan tetap perlu ada, hanya saja porsinya tidak perlu 100% dari sisa dana Anda. Mari kita dalami tabungan dan deposito.

Tabungan dan deposito adalah produk perbankan yang sudah lama dikenal orang. Sebagian orang berpendapat bahwa tabungan bukan investasi tetapi simpanan. Menurut penulis, tabungan termasuk investasi karena uang yang kita simpan di bank bertambah nilainya. Suku bunga tabungan bank 3% per tahun. Deposito Iebih tinggi, berkisar 6-7%.

Memang harus diakui imbal hasil yang diberikan sangat kecil. Maklum, tabungan dan deposito termasuk kategori Low Risk Low Gain. Meski demikian, tabungan dan deposito pernah menjadi High Risk High Gain saat krisis moneter. Suku bunga deposito kala itu mencapai rekornya, yaitu 50% lebih. Bukankah ini imbal hasil yang sangat menggiurkan? Karena itu, selama masih memberikan imbal hasil, tabungan dan deposito dapat dikategorikan sebagai investasi.

Memang betul, saat ini beberapa bank memberlakukan tabungan dengan saldo di bawah satu juta rupiah tanpa pemberian bunga. Kalau seperti ini, tabungan dapat dikategorikan bukan sebagai investasi, tetapi simpanan. Jika suatu saat menabung di bank, termasuk dalam jumlah besar, tidak diberi bunga 0% barulah tabungan dikategorikan murni sebagai simpanan. Jika kita memilik jauh ke belakang, tabungan di Indonesia memiliki sejarahnya.

Dulu kebanyakan orang menyimpan uang di celengan atau di bawah bantal. Bahkan sampai detik ini, penduduk di beberapa desa di Sulawesi masih menyimpan uang di buluh bambu. Bahkan ada juga cerita unik. Kisahnya tentang seseorang yang rajin menyimpan uangnya di atas langit-langit rumah. Setiap ada sisa uang, dia memasukkannya ke dalam satu rongga langit-langit rumahnya.

Setelah beberapa tahun, dia membuka langit-langit itu untuk mengambil uang yang telah dia kumpulkan. Pikirnya, “Wah uangku pasti sudah banyak nih”. Apa yang terjadi? Begitu dia membuka langit-langit, hanya ditemukan potongan-potongan uang kertas lusuh yang berserakan. Rupanya, uangnya selama ini digigiti tikus untuk sarang mereka. Cerita ini menunjukkan bahwa menyimpan uang saja memiliki resiko.

Kesadaran masyarakat terhadap tabungan semakin tinggi seiring munculnya bank-bank baru akibat kebijakan pemerintah yang mendorong tumbuhnya perbankan nasional. Ini sesuai dengan Pakjun Paket Juni 1983 dan Pakto Paket Oktober tahun 1988. lntinya, kemudahan mendirikan bank. Bank-bank baru bermunculan, masing-masing menawarkan daya tarik tabungannya, seperti Tahapan (Tabungan Hari Depan) dari BCA, Tabungan Lippo, Tabungan si Jempol dari Bank Bali, Tabungan Fleksi dari Bank Universal, dan lain-lain. Bank-bank berlomba menawarkan suku bunga yang menggiurkan.

Besarnya suku bunga juga dipengaruhi nilai tukar rupiah. Jika nilai tukar rupiah anjlok, pemerintah berupaya membuat daya tarik rupiah. Caranya dengan memberikan suku bunga simpanan yang tinggi. Sebagai contoh, puncak krisis moneter 1998. Untuk menyedot rupiah yang melimpah di pasar, suku bunga dikerek tinggi hingga di atas 50%.

Masyarakat diharapkan tertarik menyimpan dananya dalam rupiah. Demikian juga saat krisis finansial global. Saat kurs rupiah melemah, suku bunga pun ikut naik. Bahkan selisih suku bunga bank asing dan bank di Indonesia cukup jauh, berkisar 7% – 8%. Jika nilai tukar mulai stabil dan menguat, biasanya suku bunga akan diturunkan. (sahlan)

BERITA TERKAIT

Menko Polhukam - Rawat Persatuan Dengan Toleransi

Wiranto Menko Polhukam Rawat Persatuan Dengan Toleransi Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto mengajak…

Ekspansi di Timur Indonesia - SOTS Siapkan Investasi Rp 250 Miliar

NERACA Jakarta – Pacu pertumbuhan bisnis properti lebih agresif lagi di tahun depan, PT Satria Mega Kencana (SOTS) memiliki rencana…

Geliat Bisnis Investasi - PII Agresif Sertakan Saham di Anak Usaha IPC

NERACA Jakarta – PT Pelabuhan Indonesia Investama (PII) yang merupakan anak usaha PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) atau IPC, sampai…

BERITA LAINNYA DI KEUANGAN

KUR, Energi Baru Bagi UKM di Sulsel

Semangat kewirausahaan tampaknya semakin membara di Sulawesi Selatan. Tengok saja, berdasarkan data yang dimiliki Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sulsel,…

Obligasi Daerah Tergantung Kesiapan Pemda

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai penerbitan obligasi daerah (municipal bond) tergantung pada kesiapan pemerintahan daerah karena OJK selaku regulator hanya…

Bank Mandiri Incar Laba Rp24,7 T di 2018

PT Bank Mandiri Persero Tbk mengincar pertumbuhan laba 10-20 persen (tahun ke tahun/yoy) atau sebesar Rp24,7 triliun pada 2018 dibanding…