Utang Luar Negeri Indonesia Naik 10,1%

NERACA

Jakarta - Jumlah utang luar negeri Indonesia di akhir 2017 meningkat 10,1 persen (tahun ke tahun/yoy) dibanding akhir 2016 atau menjadi 352,2 miliar dolar AS. Peningkatan utang luar negeri (ULN) didorong dari kenaikan utang publik yakni pemerintah dan bank sentral sebesar 14 persen (yoy) dari 2016 menjadi 180,662 miliar dolar AS, berdasarkan Statistik ULN Kuartal IV 2017 yang diumumkan Bank Indonesia di Jakata, Senin lalu.

Sementara ULN swasta atau korporasi baik bank maupun nonbank hanya naik enam persen menjadi 171,62 miliar dolar AS. Posisi ULN swasta pada akhir triwulan IV 2017 terutama dimiliki oleh sektor keuangan, industri pengolahan, listrik, gas, dan air bersih (LGA), serta pertambangan. Pangsa ULN keempat sektor tersebut terhadap total ULN swasta mencapai 76,9 persen, sedikit lebih rendah dibandingkan dengan pangsa pada triwulan sebelumnya sebesar 77,0 persen.

"Perkembangan ULN ini terjadi, sejalan dengan kebutuhan pembiayaan untuk pembangunan infrastruktur dan kegiatan produktif lainnya," ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Agusman. Berdasarkan jangka waktu, ULN tetap didominasi ULN berjangka panjang yang memiliki pangsa 86,1 persen dari total ULN. Kendati demikian, dari sisi pertumbuhan, ULN jangka pendek tertcatat tumbuh lebih kencang sebesar 20,7 persen (yoy).

Bank Sentral pun memandang perkembangan ULN pada akhir 2017 masih terkendali. Rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) di akhir tahun lalu tercatat stabil di kisaran 34 persen. Selain itu, rasio utang jangka pendek terhadap total ULN juga relatif stabil di kisaran 13 persen. "Kedua rasio ULN tersebut masih lebih baik dibandingkan dengan beberapa negara peers (negara dengan kemampuan ekonomi setara)," kata Agusman.

Pengamat ekonomi Bank BCA David Sumual mengatakan, pertumbuhan utang luar negeri tersebut merupakan hal yang wajar lantaran pertumbuhan ekonomi masih tumbuh secara perlahan. “Keliatan juga dari pertumbuhan kredit domestik yang hanya 8,2% pada bulan Desember, jadi melemah masih relatif lemah, wajar kalau utang luar negerinya naik,” paparnya.

David menambahkan, perlu dilihat juga sumber dana perusahaan saat ini beragam, bukan hanya dari kredit dalam negeri, tetapi ada juga utang luar negeri dan ada juga obligasi dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) seperti komodo bond. Menurut David, utang korporasi dari tahun ke tahun semakin meningkat. Pertumbuhan utang luar negeri juga seiring dengan ekonomi Indonesia yang membaik.

Menurut Ekonom Indef Bhima Yudhistia, total utang pemerintah pusat yang ribuan triliun ini masih sanggup membayar atau melunasi tunggakan tersebut. Hanya saja, dia tetap mengkhawatirkan kemampuan bayar utang pemerintah semakin berkurang. "Ini karena prospek penerimaan pajak cukup sulit di 2018, target penerimaan pajak 2018 tumbuh lebih dari 20% dari realisasi pajak 2017," tambah dia.

"Di sisi lain ada utang jatuh tempo Rp 810 triliun yang harus dibayar pemerintah di 2018-2019, artinya kalau utang luar negeri tidak terkendali maka ruang fiskal makin sempit. Pemerintah disarankan untuk lebih bijak dan kalau perlu rem utang," sambung dia.

Namun begitu, Pengamat Ekonomi memprediksi Utang Luar Negeri (ULN) swasta tahun ini akan mengalami penurunan. Pemicunya lantaran bank-bank asing terlihat belum antusias memberikan utang kepada perusahaan dalam negeri. Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih mengatakan, kebijakan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat (Fed rate) belum banyak mempengaruhi ULN swasta.

Dengan demikian, melihat situasi ekonomi yang ada saat ini menciptakan kehawatiran kepada kreditur asing untuk meminjamkan dananya kepada perusahan domestik. Menurut Lana, jika ekonomi Indonesia belum bisa tumbuh di atas 5,2% diproyeksikan utang di luar negeri swasta itu masih akan cenderung melambat. "Kalau utang pemerintah yang dipercaya masih bisa bayar, tapi berbeda kalau swasta kemampuan dia membayar tercermin pada perekonomian kita,” ujarnya.

Selain itu, Lana melihat indikasi pelemahan ini karena bank-bank di luar negeri juga tidak terlalu antusias memberikan pinjaman pada sektor mining, tambang, karena harga tambang masih belum bagus pertumbuhannya. Untuk itu, lanjutnya, diperlukan pertumbuhan ekonomi yang baik untuk mendorong antusias kreditur asing tersebut.

BERITA TERKAIT

Utang BUMN, Mau Untung Apa Buntung?

Oleh: Pril Huseno Dalam rapat dengar pendapat antara Direksi BUMN dengan DPR Komisi VI pada (03/12), terungkap bahwa besaran utang…

Paviliun Indonesia di COP 24, Refleksi Implementasi Paris Agreement

Paviliun Indonesia di COP 24, Refleksi Implementasi Paris Agreement NERACA Katowice, Polandia -Indonesia membuktikan diri menjadi salah satu negara paling…

Taiwan Dukung Pertumbuhan Industri Non Migas Indonesia

HL6-4   NERACA   Jakarta - Kementerian Perindustrian Republik Indonesia menargetkan pertumbuhan industri pengolahan non-migas pada tahun 2018 sebesar 5,6…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Bappenas Dorong Pembangunan Papua Berbasis Pendekatan Adat

    NERACA   Jakarta - Pendekatan sosiologi-antropologi menjadi faktor penting dalam proses perencanaan pembangunan nasional untuk Tanah Papua. Pendekatan…

Devisa Sektor Pariwisata Selalu Meningkat

    NERACA   Jakarta - Devisa dari sektor pariwisata selama empat tahun Pemerintahan Presiden Joko Widodo meningkat 202 miliar…

2019, Belanja Pemerintah Pusat Rp1.634 Triliun

    NERACA   Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan belanja pemerintah pusat pada tahun 2019 akan mencapai…