Kontribusi Perbankan Dinilai Belum Maksimal

NERACA

Jakarta—Industri perbankan nasional hingga saat ini dipandang belum memberikan kontribusi yang optimal kepada pertumbuhan ekonomi. Alasanya karena belum adanya regulasi atau peraturan yang mendorong agar suistanable investment. "Termasuk di dalamnya adalah investasi ramah lingkungan dapat tumbuh dengan cepat," kata Direktur Utama BNI Gatot M Suwondo, saat Seminar dan Workshop bertema Challenges and Opportunities in Indonesia Banking 2012, di Hotel Le Meridien, Jakarta, Selasa (7/2/2012).

Dijelaskan Gatot, Indonesia mendukung pembangunan berkelanjutan antara lain melalui kebijakan pro-growth, pro-poor, pro-job, dan pro-enviroment. Karena itu, perlu kebijakan tersebut ditempuh untuk mengharmonisasikan pembangunan ekonomi dengan kelestarian alam serta pemberdayaan masyarakat, atau dikenal dengan konsep triple bottom line. "Artinya pembangunan berkelanjutan di Indonesia dilakukan dengan menerapkan konsep green economy yaitu pembangunan yang berorientasi jangka panjang untuk menyelaraskan pembangunan ekonomi dengan pemberdayaan masyarakat dan pengelolaan lingkungan," tambahnya

Lebih jauh kata Gatot, maka dari itu agar hal tersebut dapat terkait dengen beberapa faktor yang berkontribusi pada peningkatan kinerja, termasuk BNI. Di antaranya adalah perubahan paradigma untuk lebih mengoptimalkan bisnis beretika. "Atau bisnis yang bertanggung jawab yang mengacu pada united nation principles for responsible investment yaitu kepedulian terhadap lingkungan masyarakat dan aspek tata kelola yang baik," ucapnya

BNI bersama dengan The International Finance Corporation (IFC) dan Indonesia Nederland Association (INA) menggelar BNI Seminar dan workshop bertema Challenges and Opportunities in Indonesia Banking 2012. Melalui seminar ini, kerja sama dengan IFS dan financial acsess diharapkan mampu memberikan kontribusi bagi perbankan Indonesia untuk menjadi suistanable banking yang mampu mengelola tantangan menjadi peluang bisnis dengan cara yang bertanggung jawab.

Sementara itu, Ketua Perbanas (Persatuan Bank Nasional), Sigit Pramono menilai Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) perbankan masih memiliki peluang untuk diturunkan. Namun penurunan SBDK perbankan harus lebih spesifik, karena memang ada beberapa sektor yang lebih banyak peluang turun."(Tapi) SBDK tidak bisa digeneralisasikan. Kita tidak bisa berharap bank punya kemampuan sama untuk memberi suku bunga sama," ujarnya

Sigit menambahkan transparansi dalam perbankan memang baik, namun dari sisi risiko bank akan menjadi individualistik. "Saya selalu katakan ruang turunkan suku bunga ada. Bank itu diberi persaingan saja, dengn ada persaingan mereka turunkan marjin. Kalau pesaingnya banyak akan turun dengan otomatis. Teori persaingan sempurna kan begitu," terangnya

Meski begitu, Sigit menegaskan bagi beberapa perusahaan suku bunga bukanlah yang utama, melainkan akses pada perbankan itu sendiri. "Tapi bagi International Resources Group (IRG) tertentu, suku bunga bukan nomor satu, yang penting akses," pungkasnya. **maya/cahyo

BERITA TERKAIT

Operasi Pasar Beras Bulog Tak Diserap Maksimal

      NERACA   Jakarta – Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso mengakui bahwa beras yang digelontorkan melalui operasi…

BEI Belum Ubah Aturan Main Saham UMA

Meningkatnya tren saham yang mask dalam pengawasan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) atau bergerak di luar kewajaran dan bisa disebut…

Rupiah Belum Stabil, Utang Luar Negeri Naik 4,8%

  NERACA Jakarta - Bank Indonesia (BI) menyebutkan utang luar negeri Indonesia mencapai US$358 miliar atau setara Rp5.191 triliun (kurs…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Mandiri Inhealth Tingkatkan Kualitas Layanan - HUT Ke 10

    NERACA   Bogor - Menyambut Hari jadinya yang ke 10 pada 6 Oktober mendatang PT Asuransi Jiwa Inhealth…

BNI Dukung Perhelatan Asian Para Games 2018

  NERACA   Jakarta - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) kembali berpartisipasi sebagai Official Prestige Digital Banking Partner…

Industri Asuransi Jiwa Optimistis Pertumbuhan Unit Link

  NERACA   Denpasar - Perusahaan asuransi jiwa Prudential Indonesia optimistis pertumbuhan produk asuransi jiwa yang menggabungkan investasi atau "unit…