Pemerintah Musnahkan Barang Ilegal Rp45 miliar

NERACA

Jakarta - Pemerintah memusnahkan barang-barang ilegal yang menjadi objek penyelundupan dan merugikan negara lebih dari Rp45 miliar yang di antaranya terdiri dari minuman keras, telepon seluler, rokok, obat-obatan, dan pita cukai palsu. Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam konferensi pers di kantor pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Jakarta, Kamis, mengatakan pemusnahan tersebut memiliki skala terbesar dalam sejarah Bea Cukai.

Pemusnahan dilakukan terhadap 142.519 botol minuman keras hasil dari penindakan di Jakarta dan Bekasi yang masuk melalui kontainer impor, pabrik, maupun dari jalur pelabuhan atau jalur tikus di kawasan Sumatera. Terdapat pula 720 liter etil alkohol diperoleh dari pabrik tanpa izin di Jakarta. Sri Mulyani mengatakan penangkapan miras ilegal secara nasional pada 2017 hingga 2018 terjadi sebanyak 1.328 kasus dengan perkiraan nilai barang lebih dari Rp87 miliar dan perkiraan potensi kerugian negara lebih dari Rp250 miliar.

Jumlah ponsel yang akan dimusnahkan sebanyak 20.545 unit dari 1.208 kasus yang berasal dari impor, barang kiriman, dan barang yang dibawa penumpang secara ilegal. Penangkapan ponsel ilegal dilakukan di beberapa lokasi yang tersebar di Jakarta, Depok, dan Tangerang. Penindakan terhadap ponsel ilegal secara nasional (2017-2018) memiliki perkiraan nilai barang lebih dari Rp59.6 miliar dan perkiraan potensi kerugian negara lebih dari Rp10,3 miliar.

Kemudian, sebanyak 12.919.499 batang rokok juga turut dimusnahkan oleh pemerintah. Rokok tersebut diperoleh melalui modus antarpulau dan diperjualbelikan tanpa pita ataubmenggunakan pita palsu. Pemerintah juga memusnahkan 1.008.624 keping pita cukai palsu yang diperoleh dari Kantor Pos Semarang dalam bentuk ekspedisi. Terdapat pula 11.974 kemasan obat-obatan, kosmetik, dan suplemen yang dilarang BPOM juga turut dimusnahkan.

"Kami ingin menjaga momentum ini terus, dengan demikian Bea Cukai tetap bisa menjaga kepabeanan dari penyelundupan dan meningkatkan penerimaan negara. Penerimaan negara kita naik 67 persen dari setiap dokumen impor, dan industri dalam negeri meningkat lebih dari 30 persen," Dalam kesempatan yang sama, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan akan terus menelusuri importir yang terkait dengan kasus penyelundupan yang terungkap.

"Mereka secara sistem akan diblokir sehingga tidak hanya rugi namun juga tidak bisa masuk lagi. Kalau tidak begitu maka tidak akan kapok, yang nakal-nakal sebaiknya tidak usah dagang lagi," ucap dia.

BERITA TERKAIT

Strategi Pemerintah Atasi Defisit Neraca Migas

      NERACA   Jakarta - Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Djoko Siswanto membeberkan sejumlah strategi…

Eksportir Wajib Konversikan 50% DHE - PEMERINTAH SIAPKAN ATURAN KHUSUS (PP)

Jakarta-Pemerintah akhirnya siap menerbitkan aturan yang mewajibkan eksportir mengkonversi devisa hasil ekspor (DHE) yang semula berbentuk mata uang asing ke rupiah.…

Industri Tekstil Indonesia Bidik Ekspor Senilai US$14 Miliar - Sepanjang 2018

NERACA Jakarta – Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional diyakini mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap penerimaan devisa dari ekspor…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Kampanye Negatif Masih Jadi Tantangan Energi Terbarukan

  NERACA   Tangerang - Kampanye negatif berkait isu lingkungan masih menjadi tantangan utama pengembangan pembangkit listrik berbasis energi baru…

WTP Pemda Punya Korelasi Kinerja Pembangunan

  NERACA   Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan laporan keuangan pemerintah daerah dengan opini wajar tanpa pengecualian (WTP)…

Taiwan Pamerkan Produk Unggulannya di Indonesia - Taiwan Excellence Day

      NERACA   Jakarta – Taiwan External and Trade Development Council (Taitra) menyelenggarakan Taiwan Excellence Day atau pameran…