Keniscayaan Kompetisi dan Kolaborasi

Oleh: Fauzi Aziz

Pemerhati Masalah Ekonomi dan Industri

Tidak ada kompetisi, dunia akan sepi. Tanpa ada kompetisi ilmu pengetahuan dan teknologi tidak akan berkembang. Tidak ada kompetisi berarti bahwa kreativitas dan inovasi akan mati. Dan tanpa kompetisi manusia menjadi malas mikir dan sensor sensitivitasnya menjadi tidak berfungsi. Inilah dunia kompetisi yang tampaknya memang diperlukan dalam banyak aspek kehidupan.

Manusia adalah mahluk sosial yang gemar ngguyub. Karena itu, manusia selalu membutuhkan satu sama lain. Manusia cenderung ingin hidup berkelompok, berorganisasi, dan akhirnya memerlukan kerjasama dan kerja bersama untuk menghasilkan nilai tambah yang bisa dinikmati bersama. Di sini azas kolaborasi dan aliansi muncul agar hal- hal yang berpotensi melahirkan kompetisi yang tidak sehat dapat di hindari.

Amerika Serikat bisa berkompetisi dengan China, atau negara lain bisa saling berkompetisi. Tapi secara de facto dan de jure mereka bisa saling berkolaborasi dan membangun aliansi strategis karena ada kebutuhan bersama, meskipun kepentingannya bisa berbeda dilihat dari peta geopolitik geoekonomi, dan geoindustri.Sebab itu, di dunia lahir NAFTA di Amerika Utara. Lahir Uni Eropa, Apec, Asean, dan lain-lain.

Kompetisi dan Kolaborasi pada akhirnya menjadi indah, dan dunia menjadi dinamis. Dan jika kita fahami secara psikologis dan sosiologis maka ini dapat dipandang sebagai semacam bentuk pengakuan bahwa kita hidup dalam lingkungan saling ketergantungan.

Kita membutuhkan kompetisi karena kita ingin menjadi unggul atau ingin menjadi champion dan menjadi number one. Visi dan misi untuk menjadi unggul adalah need kita. Tapi ternyata, yang unggul tidak selalu harus semuanya number one flat. Kompetensi inti memberi pelajaran berharga agar kita dapat membangun kompetensi inti di bidang tertentu sesuai dengan talent dan passion kita.

Akses potensial ke berbagai jenis pasar dapat dilakukan secara langsung karena produk dan jasa yang kita hasilkan sangat kompetitif untuk bisa menguasai pasar. Tapi bisa juga dapat dilakukan secara tidak langsung, yakni dengan membangun kolaborasi dan aliansi strategis. Misal Chrycler industri otomotif di AS tidak lagi membuat mesinnya sendiri dan memilih mengambilnya dari Mitsubishi.

Satu pelajaran berharga dari model tersebut, maka kita dapat melihat disitu bahwa kompetisi itu penting agar mobil Chrycler tetap bertahan di ceruk pasarnya, tapi mereka sadar bahwa dengan membangun kolaborasi dan aliansi strstegis dengan Mitsubishi, akses pasarnya yang sudah diraih bisa dipertahankan, bahkan bisa ditingkatkan. Dengan demikian, kompetisi dan kolaborasi dapat dikemas dalam satu strategi industri dan bisnis untuk bisa mendaur hidup bisnis yang menjadi kompetensi intinya.

Kompetisi dan kolaborasi, akhirnya menjadi fenomena dan dinamika pasar yang hidup hingga dewasa ini. Supaya bisa berkompetisi, maka kita wajib membangun keunggulan. Pihak lain akan mau membangun kolaborasi dan aliansi strategis bila kita mempunyai keunggulan tertentu.

BERITA TERKAIT

Pasca Libur Panjang, 92% Lebih PNS Kemenkop dan UKM Masuk Kerja

Pasca Libur Panjang, 92% Lebih PNS Kemenkop dan UKM Masuk Kerja NERACA Jakarta - Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM Meliadi…

BEI Suspensi Saham INDR dan BNBR

Lantaran terjadi peningkatan harga saham di luar kewajaran, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara perdagangan (suspensi) saham PT Indorama…

Layanan BOLT Hadir di Serang dan Cilegon

Dalam rangka perluas penetrasi pasar, BOLT sebagai pionir operator 4G-LTE di Indonesia kembali memperluas jangkauan jaringannya ke kota-kota baru. Dua…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Pemudik Kampungan

  Oleh: Firdaus Baderi Wartawan Harian Ekonomi Neraca   Meski klaim pemerintah bahwa angka kecelakaan mudik tahun ini menurun cukup…

OTT Lagi

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo   Menjelang lebaran lalu KPK kembali melakukan OTT untuk…

THR, Gaji 13 dan APBN - Oleh : Edy Mulyadi, Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)

Masih percaya dengan Menkeu Sri Mulyani yang bolak-balik menyatakan APBN dikelola dengan prudent? Kisah anggaran Tunjangan Hari Raya (THR) dan…