Matinya Edisi Cetak ?

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo

Realitas industrialisasi media berdampak sistemik terhadap matinya edisi cetak. Bahkan, Newsweek akhirnya bertekuk lutut untuk beralih ke edisi online mulai tahun 2013 dan hal ini adalah lanjutan dari kasus sejumlah media yang mengakhiri edisi cetaknya karena kalah bersaing dengan tuntutan perubahan era digital. Selain itu, di awal tahun 2018 majalah Rolling Stone Indonesia juga tutup setelah 12 tahun terbit tepatnya sejak 2005. Siapa menyusul kasus ini?

Flavian dan Gurrea (2009), dalam artikel yang berjudul: ‘Users’ motivations and attitude towards the online press, dimuat Journal of Consumer Marketing menegaskan motivasi dan sikap pembaca terhadap pers online sangat terkait dengan perilaku melek internet. Hal ini membenarkan argumen perkembangan teknologi dan didukung revolusi internet mempengaruhi semua rutinitas kehidupan, baik dunia industri atau individual (Huang dan Yang, 2008). Terkait ini, industrialisasi pers tak bisa mengelak dari fenomena yang berkembang dan dituntut melakukan inovasi untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dan mengantisipasi persaingan di industri pers. Oleh karena itu, koran edisi online menjadi acuan yang tidak bisa lagi ditawar. Bahkan, kini e-paper juga menjadi kewajiban untuk disajikan kepada pembacanya. Jadi, media pers dituntut menyajikan e-paper sebagai salah satu versi, meski edisi online juga telah disajikan, selain edisi cetak yang terbit tiap hari. Lalu, bagaimana nasib edisi cetak?

Kebutuhan terhadap internet nampaknya semakin tidak terbendung dan masyarakat kian antusias mengikuti perkembangan internet. Bahkan, kini masyarakat juga semakin habit – familier dengan era internet. Hal ini akhirnya memungkinkan masyarakan kian melek internet, selain tarif internet yang kian murah dan kecepatan koneksi yang kian lancar. Semua ini jelas berpengaruh bagi daya jual semua produk lewat internet, termasuk daya tarik pers oline dan e-paper. Oleh karena itu, temuan Chen dan Corkindale (2008) dalam artikelnya: ‘Towards an understanding of the behavioral intention to use online news services: An exploratory study, dimuat di Internet Research kian memperkuat argumen tentang adanya sejumlah faktor yang mendorong seseorang untuk membaca edisi online dan atau e-paper.

Peran Internet

Versi Budi Raharjo (2001) beberapa hal yang menyebabkan jaringan teknologi internet populer sebagai media komunikasi data yaitu pertama cakupannya yang luas dan mampu menjangkau dunia, kedua: implementasinya relatif lebih murah dibanding menggunakan jaringan atau fasilitas lainnya, misal menggunakan Value Added Network (VAN) sendiri. Untuk menjadi bagian dari internet cukuplah dengan hanya menghubungkan sistem ke koneksi internet terdekat, misal melalui Internet Service Provider. Bandingkan misalnya jika memakai VAN, maka harus menggelar jaringan sendiri dan cukup mahal. Terkait hal ini maka internet sebagai basis media online dan e-paper sangat memungkinkan karena harganya yang semakin murah dan distribusi yang lebih luas serta real time online.

Ketiga: teknologi internet yang terbuka open standard sehingga tidak tergantung kepada satu vendor tertentu. Keempat: penggunaan web browser mempercepat pengembangan - peluncuran aplikasi dan mengurangi learning curve dari pengguna. Kelima: teknologi internet memungkinkan konvergensi berbagai aplikasi menjadi satu. Sebagai contoh, kini telah dimungkinkan mengirimkan data, suara dan bahkan gambar melalui internet tanpa batasan lagi tentang waktu, tempat dan kondisi. Oleh karena itu sangat beralasan jika kini makin berkembang citizen journalism sehingga masyarakat bukan lagi sekedar obyek tapi juga subyek pemberitaan. Artinya, edisi online dan e-paper memungkinkan publik untuk melakukan citizen journalism secara real time online, meski tetap harus didukung dengan kontrol internal agar sajian beritanya layak.

Allen dan Johson (2009) dalam artikelnya yang berjudul: Preserving Digital Local News menegaskan bahwa media pers edisi cetak memiliki kelemahan untuk kepentingan arsip perpustakaan, misalnya terkait kualitas kertas, tinta dan jumlah halaman di setiap edisi. Oleh karena itu, media pers edisi digital atau e-paper menjadi salah satu alternatif yang sangat baik, yaitu tidak saja terkait pengarsipan tapi juga lebih efisien jika diukur dalam kapasitas penyimpanan gudang. Artinya media pers edisi digital atau e-paper tidak butuh gudang yang luas untuk penyimpanan karena cukup dititipkan di internet dan siapa saja, kapan saja, dan dimana saja bisa melihatnya lagi dengan sekali ‘klik’.

Transformasi Media

Transformasi media menjadi pelajaran berharga tentang revolusi dan evolusi pers mulai edisi cetak ke edisi online dan e-paper. Paling tidak, fenomena ini telah digambarkan secara jelas oleh Alves (2001) dalam artikelnya yang berjudul: ‘The future on online journalism: mediamorphism or mediacide?, dimuat The Journal of Policy, Regulation and Strategy for Telecommunications. Artinya, transformasi di semua aspek kehidupan, termasuk industri pers merupakan konsekuensi dari kemajuan teknologi. Oleh karena itu tuntutan penyesuaian menjadi pilihan wajib yang tak bisa lagi dihindari, termasuk yang dialami industri pers saat ini. Di sisi lain, perubahan permintaan konsumen juga menjadi konsekuensi yang mendukung transformasi industri media dan hal ini sejalan hasil riset Flavian dan Gurrea (2006) dalam artikel: ‘The choice of digital newspapers: influence of readers’ goals and user experience, dimuat Internet Research.

Dari fenomena yang ada, termasuk juga transformasi cyber society akibat tarif internet yang semakin murah maka tidak ada salahnya jika semua media pers dituntut untuk juga menerbitkan edisi online dan edisi e-paper. Hal ini tak secara langsung mematikan edisi cetak karena bagaimanapun juga konsumen bisa dibedakan menjadi dua yaitu high touch dan high tech (Saputro, 2009). Mereka yang high touch tetap butuh edisi cetak dan yang high tech semakin familier dengan edisi online, termasuk edisi e-paper.

BERITA TERKAIT

BPPSDMP Kementan Terus Ikhtiar Cetak Wirausaha Pertanian

NERACA Jakarta – Kementerian Pertanian melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) mengambil langkah strategis dengan penyediaan sumber daya…

Cetak Wirausaha Baru, PB HMI Gelar Workshop

      NERACA   Jakarta – Sektor dunia usaha Indonesia masih cenderung sedikit jumlahnya. Padahal untuk membuat ekonomi tetap…

SMKN 2 Kota Depok Unggulan Cetak Wirausaha Nasional

SMKN 2 Kota Depok Unggulan Cetak Wirausaha Nasional NERACA Depok - Mampu bersinergi dengan berbagai perusahaan industri besar di Jawa…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Kerusakan Lingkungan Hidup dan Pembangunan Infrastruktur

Oleh : Linda Rahmawati, Pengamat Masalah Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam            Sampai pertengahan Juni 2018, pengerjaan proyek kereta…

Kesenjangan Barat-Timur RI Tak Bisa Segera Berakhir

Oleh: Sarwani NKRI Harga Mati !!! yel yel  ini sering kita dengar sebagai reaksi atas munculnya gerakan separatisme atau ancaman…

Riak-Riak Permasalahan Pasca Pilkada 2018

  Oleh : Wulandari Dewi Setyaningsih, Pemerhati Sosial Politik              Setelah “berhasil” dilaksanakan tanggal 27 Juni 2018 yang lalu,…