Ekonomi Indonesia Tak “Terseret” Siklus Global

NERACA

Jakarta-- Pertumbuhan ekonomi negara-negara Asia dinilai tidak akan terpengaruh kondisi ekonomi dunia yang sedang mengalami perlambatan. Apalagi rata-rata pertumbuhan ekonomi itu bisa mencapai 5,2%. "Di Asia ada fenomena menarik, pertumbuhan ekonomi yang dulunya 4,8% saat ini menjadi 5,2%," kata Pengamat Ekonomi, Faisal Basri di Jakarta,7/2

Menurut Dosen FEUI ini, setiap negara di dunia memiliki alur yang berbeda dalam setiap pertumbuhan perekonomiannya. Asia dinilai penting dalam pertumbuhan ekonomi dunia karena ada Indonesia. "Artinya Asia tidak ikuti siklus ekonomi dunia," imbuhnya.

Diakui Faisal, memang motor pertumbuhan ekonomi dunia saat ini telah beralih pada negara berkembang atau emerging market. "Seperti China, India, negara di Asia. Tidak terlalu aneh, dunia turun, ekonomi Asia tidak terlalu turun. Sama seperti 2009, tatkala International Monetery Fund (IMF) mengatakan Indonesia cuma 2,1% ternyata kita bisa 4,5%," ujarnya

Lebih jauh kata Faisal, hal tersebut wajar dan pernah terbukti pada 2009 lalu, dimana International Monetery Fund (IMF) memprediksi pertumbuhan Indonesia hanya 2,1%. Padahal kenyataannya di tahun tersebut, pertumbuhan Indonesia mencapai 4,5%.

Dikatakan Faisal, ekonomi dunia pada 2012 akan mengalami penurunan dimana ekonomi dunia tercatat tumbuh 4%. Namun ternyata, pada Januari lalu, ekonomi dunia terpantau semakin menurun. "2012, prediksi ekonomi dunia alami penurunan. Ekonomi dunia masih empat persen. Tapi ternyata bulan Januari update menjadi 3,3%.," tandasnya.

Sementara itu, anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN), Sandiaga S. Uno mengungkapkan daya tarik investasi di Indonesia masih sangat besar karena kegiatan ekonomi yang terus berekspansi di Tanah Air. "Ekonomi yang masih berekspansi akan membuat daya tarik berinvestasi di Indonesia juga masih sangat besar," terangnya

Karena itu, kata mantan Ketua umum HIPMI, yang membuatnya optimistis prospek perekonomian Indonesia pada 2012 secara umum akan semakin cerah. Apalagi tingkat konsumsi domestik Indonesia yang kuat akan mampu menopang pertumbuhan ekonomi lokal di level yang positif. "Jika melihat konsumsi domestik Indonesia yang kuat, saya rasa ini akan menopang pertumbuhan Indonesia di level yang positif," paparnya

Namun, Sandi menambahkan, ekonomi dunia yang rapuh sangat mungkin akan bisa mempengaruhi perumbuhan ekonomi Indonesia. Faktor-faktor lain yang menyebabkan pertumbuhan tahun ini mengalami stagnasi atau bahkan perlambatan adalah, faktor pemerintah dalam pengambilan keputusan yang lamban dan birokrasi yang tidak produktif," ucapnya

Oleh karena itu, lanjut Sandi menyarankan kepada pemerintah agar lebih tanggap dalam mengambil keputusan dan merespon keadaan serta memotong jalur birokrasi menjadi lebih efisien demi mendukung dunia usaha agar lebih produktif.

Sebelumnya laporan majalah The Economist menyebutkan Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang dapat bertahan dari krisis global karena mempunyai stabilitas moneter dan kebijakan fiskal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Indonesia juga dianggap mempunyai laju inflasi, pertumbuhan kredit, tingkat suku bunga, pergerakan nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar AS, serta merupakan salah satu negara yang relatif sehat dan terjaga.

Dalam laporan yang sama Indonesia bersama China dan Arab Saudi mempunyai kapasitas terbesar untuk menggunakan kebijakan moneter dan fiskal guna mendukung pertumbuhan ekonomi. Sejumlah negara lain yakni Chili, Peru, Rusia, Singapura, dan Korea Selatan mendapatkan apresiasi yang sama. **cahyo

BERITA TERKAIT

Solusi Alami Kendalikan Pemanasan Global di Indonesia

Oleh: Genta Tenri Mawangi Pemanasan global telah menjadi masalah masyarakat dunia, karena dampaknya dianggap tengah terjadi di banyak negara. Dalam beberapa…

Wapres Dorong Peningkatan Kerjasama Ekonomi Negara D8

    NERACA   Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, Indonesia akan mendorong peningkatan kerja sama ekonomi dalam KTT…

Indonesia Pacu Tiga Sektor Manufaktur Jepang Tambah Investasi - Penanaman Modal di Sektor Riil

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian fokus mendorong para pelaku industri Jepang skala menengah untuk terus berinvestasi di Indonesia. Terdapat tiga…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Tarif Cukai Rokok Naik 10% di 2018

      NERACA   Jakarta - Pemerintah secara resmi akan menaikkan tarif cukai rokok rata-rata sebesar 10,04 persen mulai…

Menyampaikan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika Lewat Kesenian

    NERACA   Jakarta – Kepala Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) Yudi Latief menyampaikan bahwa pendiri bangsa…

Grand Eschol Residences & Aston Karawaci Hotel Kembali Dibangun - Sempat Tertunda

    NERACA   Jakarta - PT Mahakarya Agung Putera, pengembang Grand Eschol Residence & Aston Karawaci City Hotel, menegaskan…