Jaga Wiyata Gelar Aksi Edukasi Jaga Bhumi - Peduli Lingkungan Sejak Dini

Memperkenalkan kekayaan alam Indonesia dan juga menjaga kelestariannya kepada siswa sejak dini, dirasakan penting agar anak cucu yang akan datang juga ikut menikmatinya dan sebaliknya bukan mewariskan kepunahan. Berangkat dari situlah, Yayasan Kebun Raya Indonesia (YKR) menggelar pendidikan lingkungan hidup berupa Jaga Wiyata dalam rangkaian Gerakan Jaga Bhumi untuk memberikan pemahaman kepada anak-anak sekolah dasar dan menengah mengenai pentingnya sumber daya alam dan lingkungan hidup Indonesia.

Wakil Ketua Yayasan Kebun Raya Indonesia, Alexander Sonny Keraf dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin mengatakan, program Jaga Wiyata mempunyai tujuan bahwa pentingnya memberikan pemahaman dan edukasi secara langsung kepada anak-anak tentang lingkungan dan tanaman khususnya. Dengan demikian mereka punya kepedulian dan kesadaran tentang lingkungan sejak usia dini khususnya anak-anak di kota.”Berharap dengan edukasi yang diberikan bisa membekas di sepanjang hidup anak-anak di kemudian hari walaupun kita tahu pasti akan banyak pengaruh-pengaruh lain yang mempengaruhi di jalan hidupnya, tapi saya berharap pemahaman yang kami berikan bisa terbawa sampai mereka dewasa,”tuturnya.

Secara teknis, Jaga Wiyata merupakan kunjungan tim edukator terpilih dengan target 200 sekolah dasar dan menengah dan telah berjalan sejak bulan Agustus 2017. Saat ini Jaga Wiyata tengah dilaksanakan di empat propinsi yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di dalam setiap sesi Jaga Wiyata, berbagai aktivitas dilaksanakan seperti pemaparan tentang gerakan Jaga Bhumi, tanya jawab seputar lingkungan hidup, pengenalan flora dan fauna melalui permainan kartu flona, lalu dilanjutkan dengan memilah sampah dan menanam pohon.

Aktivitas-aktivitas tersebut dilakukan dalam durasi 2 jam 30 menit pada setiap kunjungan di sekolah.”Dengan diberikan aktivitas-aktivitas dari Jaga Wiyata ini diharapkan anak-anak menjadi penggerak lingkungan dengan mengingatkan orang-orang dewasa di sekitarnya. Minimal orang tua atau sanak saudara karena kalau orang tua diingatkan oleh anak mereka sendiri jauh lebih membekas bahwa anak saya saja mengingatkan hal-hal kecil dan sederhana untuk bisa dilakukan dalam keseharian. Contohnya menanam pohon, menghemat energi, membuang sampah pada tempatnya, dan makan secukupnya supaya tidak mubazir dan tidak menjadi sampah rumah tangga,” jelas Sonny.

Dalam hal ini, Sonny Keraf juga ingin mengingatkan kepada pihak-pihak berweang termasuk pemerintah bahwa pendidikan di sekolah tidak melulu bersumber tentang buku dan kebakuan tetapi juga pelajaran yang berinteraksi langsung dengan alam, tumbuh-tumbuhan, hewan, dan pentingnya menjaga alam bumi ini secara langsung merupakan hal yang penting untuk kembang anak.

Pendidikan lingkungan hidup tidak perlu menjadi mata pelajaran sendiri, tetapi diintegrasikan dengan kegiatan sehari-hari di sekolah dan mata pelajaran yang sudah ada. Mantan Menteri Lingkungan Hidup, Gusti M. Hatta pernah bilang, ersoalan pendidikan lingkungan hidup sangat penting. Apalagi terkait isu perubahan iklim dan perlu mengajak semua orang, termasuk anak-anak sekolah untuk mau memahami dan mengubah perilaku untuk memiliki kesadaran memelihara lingkungan hidup. “Pendidikan lingkungan hidup harus bisa mengajarkan hal-hal praktis untuk kehidupan sehari-hari dan yang utama dalam pendidikan lingkungan hidup adalah memasukkan nilai-nilai kesadaran lingkungan hidup pada tiap siswa. Ya, lewat pelajaran, ya lewat membangun kebiasaan-kebiasaan prolingkungan,"ujarnya.

Sementara Miyake Hiroyuki, dosen dari Fakultas Hukum, Universitas Kitakyushu Jepang mengatakan, pendidikan lingkungan atau education for Sustainable development (ESD) menjadi penting karena dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat secara berkelanjutan. Hal tersebut berhasil diwujudkan oleh pemerintah Jepang. “Mereka diberi pengetahuan bahwa lingkungan harus dijaga kelestariannya secara berkelanjutan. Oleh sebab itu masyarakat secara bersama-sama harus ikut menjaga keberlangsungan kelestarian lingkungan di tempat mereka tinggal,”jelasnya.

BERITA TERKAIT

Astra Graphia Salurkan Bantuan 1250 Buku - Peduli Pendidikan Daerah Perbatasan

Astra Graphia Salurkan Bantuan 1250 Buku Peduli Pendidikan Daerah Perbatasan NERACA Jakarta – PT Astra Graphia Tbk bekerjasama dengan SOS…

Kenali Gejala Awal Limfoma Sejak Dini

Limfoma menjadi salah satu penyakit kanker yang lumrah ditemui. Di Indonesia, penderita kanker limfoma mencapai 14.905 berdasarkan Riset Kesehatan Dasar…

Wings Peduli Kasih Bangun Perpustakaan di Sumba Timur - Tingkatkan Kualitas Pendidikan Masyarakat

Sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan pada dunia pendidikan dan kepedulian untuk mencerdaskang bangsa, Yayasan Wings Peduli Kasih (YWPK) yang…

BERITA LAINNYA DI CSR

Dukung Mahasiswa Berprestasi - Cargill Berikan Beasiswa Cargill Global Scholars

Cargill, kembali melanjutkan dukungannya kepada para mahasiswa berprestasi melalui program Cargill Global Scholars yang diselenggarakan  bekerjasama dengan Institute of International…

Tingkatkan Kualitas Pendidikan Masyarakat - Wings Peduli Kasih Bangun Perpustakaan di Sumba Timur

Sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan pada dunia pendidikan dan kepedulian untuk mencerdaskang bangsa, Yayasan Wings Peduli Kasih (YWPK) yang…

PTPN V Kucurkan Rp 1,6 Miliar Peningkatan Pendidikan

PT Perkebunan Nusantara (PTPN) V mengucurkan anggaran sebesar Rp1,6 miliar melalui program hibah dana bina lingkungan untuk meningkatkan fasilitas pendidikan…