Genjot KPR, BTN Jalin Kerjasama dengan Taspen

NERACA

Jakarta - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk bersama PT Taspen (Persero) siap bersinergi menyediakan hunian bagi sekitar 6,7 juta peserta Taspen yang terdiri atas pensiunan dan aparatur sipil negara (ASN) aktif melalui program kredit pemilikan rumah (KPR).

"Penyediaan layanan KPR kepada peserta Taspen di seluruh Indonesia, bagian dari upaya strategis meningkatkan pertumbuhan penyaluran kredit BTN kepada masyarakat," kata Direktur Utama Bank BTN Maryono usai menandatangani Perjanjian Kerja Sama dengan PT Taspen (Persero), DPP Real Estate Indonesia (REI) dan PT Bank Mandiri Taspen (Mantap), di Kantor Pusat Taspen, Jakarta, Senin (12/2).

Selain Dirut BTN Maryono dan Dirut Taspen Iqbal Latantro, penandatanganan sinergi tersebut juga melibatkan Dirut Bank Mantap Josephus K. Triprakoso dan Ketua Umum REI Soelaeman S. Bank `BTN dalam perjanjian kerja sama itu, menyediakan fasilitas pembiayaan hunian rumah ataupun apartemen yang dibangun oleh pengembang anggota REI.

Sementara Taspen memberikan informasi dan data peserta yang membutuhkan dan berminat memiliki rumah, mengkoordinasikan dengan Pemerintah Pusat dan Pemda serta instansi terkait di seluruh Indonesia untuk sosialisasi dan pemasaran program KPR tersebut. Saat ini jumlah peserta Taspen mencapai lebih dari 6,7 juta orang, dimana sebanyak 4,2 juta merupakan peserta ASN aktif, dan sekitar 2,5 juta pensiunan.

"Peserta Taspen dapat menikmati fasilitas pembiayaan KPR BTN dengan suku bunga kredit terjangkau, diantaranya 8 persen fixed selama 3 tahun dan suku bunga 9 persen berlaku fixed selama 5 tahun," ujar Maryono. Kerja sama dengan Taspen diharapkan membuka peluang yang lebih luas untuk produk dan layanan perbankan seperti deposito, cash management, payroll dan meningkatkan pendapatan pendapatan non bunga (fee based income). "Kami menargetkan kerja sama ini bisa meningkatkan pertumbuhan pembiayaan kredit BTN pada 2018 hingga sekitar 30 persen," ujarnya.

Sementara itu, Dirut Taspen Iqbal Latanro mengatakan peserta Taspen yang masih aktif, yang memasuki masa pensiun dan yang telah pensiun dimudahkan mencari hunian yang lebih layak dan dapat mencicil hunian hingga di masa pensiun. "Perjanjian ini merupakan langkah Taspen mendukung percepatan perkembangan ekonomi nasional," ujar Iqbal.

Berdasarkan data pada 2016, terdapat 960.000 orang dari 4,5 juta aparatur sipil negara (ASN) di Indonesia masih belum memiliki hunian karena banyak faktor. Contohnya, kendala finansial dan lokasi hunian yang jauh dari kata strategis. Dalam perjanjian kerja sama ini, Taspen bertanggung jawab akan informasi dan data peserta yang membutuhkan hunian atau berminat memiliki hunian yang layak untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga peserta.

Bank Mandiri Taspen sebagai anak perusahaan Taspen, serta BTN menyediakan fasilitas kredit pembiayaan kepada peserta untuk membeli hunian perumahan dari pihak pengembang anggota REI. "Diharapkan dengan adanya kerja sama antara Taspen, pihak perbankan dan pengembang, para peserta Taspen menjadi lebih mudah dalam mencari dan mendapatkan hunian yang lebih layak," tutup Iqbal

BERITA TERKAIT

Menteri Pertahanan - Tangkal Paham Terorisme Dengan Bela Negara

Ryamizard Ryacudu Menteri Pertahanan Tangkal Paham Terorisme Dengan Bela Negara  Jakarta - Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengatakan paham terorisme dapat…

Kominfo Tidak Batasi Lagi Registrasi Kartu SIM Dengan NIK

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) memutuskan bahwa satu Nomor Induk Kependudukan (NIK) bisa digunakan untuk mendaftarkan lebih dari 3 nomor…

Kejari-PLN Depok Jalin Kerja Sama Penanganan Persoalan Hukum

Kejari-PLN Depok Jalin Kerja Sama Penanganan Persoalan Hukum NERACA Depok - Kejaksaaan Negeri (Kejari) Kota Depok, Jawa Barat, menjalin kerja…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Pengembangan Industri Asuransi Perlu Modal Kuat

      NERACA   Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan upaya pengembangan industri asuransi di Indonesia agar sehat…

OCBC NISP : Kenaikan Bunga Acuan Sudah Cukup

      NERACA   Jakarta - Presiden Direktur Bank OCBC NISP Parwati Surjaudaja menilai dosis kenaikan suku bunga acuan…

Defisit Transaksi Berjalan 2018 Diprediksi 2,3% dari PDB

  NERACA   Jakarta - Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo mengungkapkan defisit transaksi berjalan sepanjang 2018 akan mencapai 23 miliar…