KS Bawa Anak Usahanya IPO Kuartal Tiga

NERACA

Cilegon – Mendung program Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) agar memanfaatkan pendanaan pasar modal sebagai sumber pembiayaan ekspansi bisnis BUMN, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) berencana melepas saham salah satu anak perusahaannya, yakni PT Krakatau Bandar Samudera (KBS) untuk go public atau initial public offering (IPO). Rencananya, pelepasan sebagian saham KBS akan dilaksanakan pada semester II/2018 atau tepatnya kuartal III/2018.

Direktur Utama KRAS, Mas Wigrantoro Roes Setiyadi belum mau menjelaskan lebih jauh mengenai rencan IPO tersebut. Namun, dana tersebut rencananya sebagian akan digunakan untuk pengembangan dermaga KBS.”Krakatau Samudera akan IPO pada semester kedua 2018. Memang sudah dicanangkan dan dana IPO akan digunakan sebagian untuk pengembangan KBS untuk menambah lagi dermaga,"ujarnya di Cilegon, kemarin.

Dia memastikan, rencana pelepasan saham tersebut sudah dicanangkan sejak lama. Hal ini tidak ada kaitannya dengan kerugian yang masih dialami perseroan hingga saat ini.”Jadi, tidak ada hubungannya dengan defisit kas. IPO KBS tidak ada kaitannya dengan rugi ini," imbuhnya.

Sementara itu, Direktur Keuangan dan Sumber Daya Manusa (SDM), KBS Dwi Soehardjo menambahkan, diperkirakan saham yang akan dilepas sekitar 20%-30%. Namun, jumlah tersebut masih bersifat situasional. “20%-30%, tapi itu indikasi ya. Belum pasti, ya kuartal III, tapi kita lihat situasi. Anak usaha BUMN kan juga banyak yang mau IPO," kata dia.

Tahun ini, lanjutnya, perseroan optimistis dapat meraup untung tahun ini. Meskipun, sejak enam tahun lalu atau sejak 2012 perseroan terus mengalami kerugian. Tercatat kerugian terbesar terjadi pada 2015 yang mencapai US$ 320 juta.”Memang KRAS ini dari 2012 sampai 2016 itu rugi, dan ruginya tidak tanggung-tanggung. Di 2015 mencapai US$ 320 juta, kerugian tertinggi itu di 2015," ujarnya.

Kemudian, pada 2016 kerugian perseroan menurun menjadi sekitar US$ 172 juta. Setelah itu, hingga kuartal III/2017 kerugian yang dialami KRAS kembali menurun menjadi hanya sekitar US$ 75 juta. Karena itu, perseroan optimistis pada tahun ini bisa meraup untung.”Memang masih rugi. Tapi, dilihat juga dari upaya kami mengurangi tingkat kerugian dari US$ 320 juta sampai US$ 75 juta. Ke depan, kami canangkan 2018 itu tahun untung. Tekad kami di 2018 kami mencapai untung," tandasnya.

Pada tahun ini perseroan menargetkan dapat meraup untung hingga US$ 24 juta. Adapun target produksinya mencapai 2,8 juta ton atau naik 40% dibanding 2017. Disebutkan, dalam outlook di RKAP, laba di bawah (bottom line) sekitar US$ 24 juta. Total tonage sekitar 2,8 juta ton untuk 2018 target produksinya. Kalau dibanding tahun kemarin tumbuh sekitar 40%, maka targetnya harus untung.

BERITA TERKAIT

Indonesia Hadapi Tiga Beban Penyakit

Indonesia kini tengah memasuki masa transisi epidemiologi. Kondisi ini membuat Menteri Kesehatan Nila Moeloek meminta masyarakat untuk mewaspadai segala jenis…

IPO DIVA Oversubscribe mencapai 5,6 kali - Patok Harga Rp 2.950 Per Saham

NERACA Jakarta - PT Distribusi Voucher Nusantara Tbk (DIVA) telah menetapkan pelaksanakan penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) pada…

Tiga Tantangan Lingkungan Jelang 2030

Tiga Tantangan Lingkungan Jelang 2030 NERACA Jakarta - Akademisi dari Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) Emil Salim mengatakan bahwa menjelang…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

HRUM Targetkan Penjualan 4,8 Juta Ton

Hingga akhir tahun 2018, PT Harum Energy Tbk. (HRUM) menargetkan volume produksi dan penjualan batu bara mencapai 4,8 juta ton.…

BNBR Private Placement Rp 9,38 Triliun

Lunasi utang, PT Bakrie & Brothers Tbk. (BNBR) berencana mengonversi utang dengan melakukan Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih…

Danai Pelunasan Utang - Chandra Asri Rilis Obligasi Rp 500 Miliar

NERACA Jakarta – Jelang tutup tahun, emisi penerbitan obligasi masih ramai dan salah satunya PT Chandra Asri Petrochemical Tbl (TPIA)…