Indonesia "Lokomotif" Utama Penggerak Gagasan Indo-Pasifik

Oleh: Aziz Kurmala

Gagasan Indo-Pasifik mencuat kembali ke permukaan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump lebih memilih istilah Indo-Pasifik daripada Asia-Pasifik.Indo-Pasifik secara konvensional merupakan kawasan yang mencakup wilayah Samudra Pasifik hingga Samudra Hindia.

Terdapat empat negara besar yang memiliki kekuatan di bidang politik, ekonomi, dan militer, serta berpengaruh bagi kawasan besar tersebut adalah Amerika Serikat, Jepang, Cina, dan Rusia.Selain empat negara besar tersebut, di kawasan ini juga terdapat Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) yang merupakan asosiasi 10 negara Asia Tenggara yang bergabung membentuk komunitas untuk kepentingan bersama dalam bidang politik dan keamanan, serta ekonomi dan sosial budaya.

Dengan bergabungnya 10 negara Asia Tenggara dalam satu komunitas, menjadikan ASEAN sebagai organisasi subregional di Indo-Pasifik yang berpengaruh dan diperhitungkan oleh negara-negara besar maupun negara lainnya di kawasan tersebut.

Istilah Indo-Pasifik tersebut juga sejalan dengan fokus politik luar negeri Indonesia pada tahun ini.Pada awal tahun 2018, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan kawasan Indo-Pasifik menjadi salah satu fokus politik luar negeri pemerintah Indonesia.

Dalam lawatannya ke India, Presiden RI Joko Widodo kembali memaparkan kembali konsep Indo-Pasifik.Gagasan Indo-Pasifik sebenarnya sudah lama digagas pemerintah Indonesia di awal tahun 2000-an. Konsep ini menjadi salah satu motivasi kebijakan luar negeri Indonesia pada dekade itu.

Dalam diskusi yang diadakan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Marty Natalegawa mengatakan bahwa Indonesia saat berdiskusi mengenai pembentukan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia Timur mendorong India, Australia, dan Selandia Baru sebagai anggota Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia Timur.Indonesia beralasan bahwa KTT Asia Timur harus dibentuk berdasarkan perspektif jangka panjang.

Kemudian, lanjut Marty, negara-negara ASEAN lainnya mempertanyakan sikap Indonesia yang menyebutkan Asia Timur secara lebih luas. Mereka mengatakan bahwa Asia Timur itu mencakup kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur Laut.Namun, Indonesia terus mendorong masuknya India ke dalam KTT Asia Timur. Akhirnya, ASEAN mencapai kesepakatan mengenai isu keanggotaan, ujar Marty.

Dalam perkembangannya, usaha membangun konsep Indo-Pasifik mengalami pasang dan surut. Ide untuk mengembangkan Indo-Pasifik ternyata disambut baik oleh negara di kawasan tersebut serta negara-negara di luar kawasan.

Untuk membangun arsitekur kawasan Indo-Pasifik, harus dilandasi dengan pandangan yang jelas. Tanpa pandangan yang jelas, gagasan Indo-Pasifik akan kehilangan arah dalam menyikapi semua masalah dan peluang yang ada.Selain itu, dia mengatakan bahwa kawasan Indo-Pasifik memerlukan keseimbangan dinamis agar tidak kekuasaan yang mendominasi di kawasan tersebut.

Keseimbangan yang dinamis tersebut dibangun dengan meningkatkan kerja sama dan membangun pola hubungan kerja sama dan kemitraan. Pendekatan tersebut dapat mempromosikan keamanan, kemakmuran, dan stabilitas bersama di kawasan.

Di ASEAN, Marty mengungkapkan ada banyak dorongan yang meminta Indonesia menjadi lokomotif utama dalam membangun arsitektur kawasan Indo-Pasifik.Menyikapi hal tersebut, ujar Marty, Indonesia harus mampu melakukannya dengan prinsip kesetaraan dan keadilan bagi semuanya.Meskipun demikian, dia mendorong ASEAN untuk dimaksimalkan perannya dalam mengatasi masalah dan tantangan di kawasan Indo-Pasifik.

Tantangan pertama adalah defisit kepercayaan. Tantangan yang dihadapi saat ini sangat mungkin untuk berkembang menjadi ancaman besar, bahkan sampai menjadi konflik terbuka karena meningkatnya faktor ketidakpercayaan yang dapat meningkatkan tensi permasalahan tersebut.

Komunikasi yang jelas dan terbuka antara negara-negara sekawasan diperlukan untuk menghindari konflik yang disebabkan oleh defisit kepercayaan antarnegara. Tantangan kedua adalah sengketa wilayah yang belum terselesaikan.

Terkait dengan sengketa wilayah yang belum terselesaikan ini dibutuhkan komitmen dari pihak-pihak yang bersengketa wilayah untuk menghormati dan menyelesaikan sengketa secara damai sesuai dengan aturan-aturan tertentu yang telah disepakati.Contoh dari masalah sengketa wilayah di kawasan Indo-Pasifik adalah sengketa wilayah di Laut Cina Selatan dan Laut Cina Timur.

Tantangan ketiga adalah mengelola perubahan. Perubahan dan transformasi terjadi di seluruh kawasan Indo-Pasifik dalam bidang politik dan ekonomi yang memiliki dampak tidak hanya bagi internal negara tersebut, tetapi juga negara-negara di sekitarnya.

Dikarenakan perubahan dalam bidang ekonomi, keamanan, dan politik di kawasan Indo-Pasifik tidak akan berakhir, dibutuhkan sebuah perspektif baru dalam mengelola keamanan di kawasan Indo-Pasifik.

Peran Indonesia

Dosen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Padjajaran (Unpad), Dr. Teuku Rezasyah bahwa mengatakan konsekuensi dari keberadaan kawasan Indo-Pasifik adalah keharusan negara-negara yang hidup di kawasan ini untuk membangun rasa percaya diantara mereka.

"Trust Building" harus dikondisikan dengan mekanisme seperti: (a) masing-masing negara agar mengemukakan visi mereka atas sebuah kawasan yang maju, stabil, damai, membangun, dan saling percaya.

Walaupun RI bukan lagi merupakan negara yang dominan dalam Indo-Pasifik, Indonesia perlu mengedepankan berbagai rekomendasi yang pernah diajukan oleh East Asia Summit dan IORA, terutama sekali yang sejalan dengan ide PBB seperti "Peaceful Coexistence", yakni hidup berdampingan secara damai, ujar Teuku.

Ia mengatakan bahwa Indonesia perlu menempatkan dirinya sebagai katalis guna memperkenalkan berbagai ide yang berseberangan dan bersinggungan dari negara-negara besar, kemudian selanjutnya mengajak negara-negara tersebut menggapai kesamaan ide yang dapat diterima dan dihargai bersama.

Patut diakui, kata dia, kredibilitas RI biasanya lebih dapat diterima oleh mayoritas negara di Indo-Pasifik. Mereka mengenal RI sebagai negara yang cinta damai, tidak berpihak atas sengketa regional dan intetnasional, serta senantiasa mengedepankan dialog dalam penyelesaian krisis.

Ia mengatakan bahwa Indonesia harus mengupayakan terwujudnya sebuah Konsensus Indo-Pasifik versi ASEAN yang fleksibel, tidak menjerat ASEAN, dan terbuka untuk ide-ide progresif yang berbasis kerjasama pembangunan pada masa depan.

Indonesia proaktif mengupayakan konsensus dari negara-negara diluar Asean untuk bekerja sama dalam berbagai program pembangunan yang berbasis sustainable development goals (SDG), dan semua protokol lingkungan hidup, sehingga Indo-Pasifik menjadi kawasan unggulan yang damai dan membangu.

Gagasan Indo-Pasifik adalah ide jangka panjang yang masih dicarikan kerangkanya, sementara tantangan-tantangan yang dihadapi ASEAN adalah masalah masa kini yang tidak terselesaikan walaupun kerangkanya seperti Asean Charter, Asean Concord, Asean Summit tersebut sudah lama terlembaga dan dikumandangkan terus-menerus.

Jika ASEAN ingin serius dengan ide Indo-Pasifik, dan ingin menjadi peserta yang aktif dan diperhitungkan, ASEAN perlu memberi contoh dengan cara mempercepat penyelesaian atas masalah-masalah yang selama ini menyandera mereka.Untuk itu, ASEAN perlu terus mengikhtiarkan ide-idenya yang mulia dalam 3 Pilar ASEAN, saling menahan diri, dan tidak memprovokasi satu sama lain.

Dalam menyikapi gagasan Indo-Pasifik ini, ASEAN perlu sadar diri dengan memperkenankan Indonesia menjalankan kepemimpinan tradisionalnya secara bebas, aktif, dan kreatif. (Ant.)

BERITA TERKAIT

Indo Barometer: Soeharto, Presiden Paling Berhasil di Indonesia

Indo Barometer: Soeharto, Presiden Paling Berhasil di Indonesia NERACA Jakarta - Presiden RI Kedua HM Soeharto dinilai sebagai presiden yang…

Indonesia Dukung Global Perkokoh Energi Baru Baru Terbarukan

Oleh: Muhammad Razi Rahman Pengembangan energi baru terbarukan saat ini bukan sekadar tren yang dirasakan di berbagai negara, tetapi sudah…

Legislator Minta Presiden Kendalikan Data Pangan Indonesia - Pasar Domestik

NERACA Jakarta – Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Viva Yoga Mauladi meminta Presiden Joko Widodo mengendalikan secara langsung data…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Ramadhan Ajang Meningkatkan Persatuan Nasional

  Oleh : Dodik Prasetyo, Pemerhati Masalah Sosial Kemasyarakatan   Bulan Ramadhan menjadi bulan yang ditunggu-tunggu oleh seluruh umat Islam…

Kebangkitan Nasional, Reformasi dan Kebangkitan Permusuhan

Oleh: Erros Djarot, Budayawan Sejak masyarakat dikondisikan bahwa tahun ini kita memasuki Tahun Politik, seluruh gerak kehidupan keseharian kita pun…

Tugas Sulit Pemerintah-BI Redam Gejolak Pasar

Oleh: Satyagraha Suasana pasar keuangan global dalam beberapa minggu terakhir yang mengakibatkan ketidakpastian telah memberikan kekhawatiran kepada pelaku pasar, pemangku…