Nilai Tukar Rupiah Rp13.600, BI : Dinamika Normal

NERACA

Jakarta - Bank Indonesia (BI) menyebutkan depresiasi nilai tukar rupiah Kamis, yang menembus level Rp13.600 masih tergolong "dinamika normal" karena pelaku pasar melakukan penyesuaian untuk menghadapi kenaikan suku bunga acuan The Federal Reserve yang diperkirakan terjadi Maret 2018. "Itu hanya penyesuaian yang normal. Jika sekarang ekspetasinya adalah Maret, akan ada kenaikan tekanan di Februari," kata Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara di Jakarta, Kamis (8/2).

Mirza mengatakan pelaku pasar saat ini memang mengubah ekspetasinya terhadap pergerakkan suku bunga Bank Sentral AS, Federal Reserve menjadi kenaikan 3-4 kali dari sebelumnya 2-3 kali pada tahun ini. Hal itu karena perbaikan data ekonomi makro AS, khususnya data ketenagakerjan yang disusul kenaikan ekspetasi inflasi dan juga imbal hasil obligasi pemerintah AS. "Maka itu kami lihat karena ekspetasi pasar terhadap ekonomi AS cukup 'strong', maka ada penyesuaian yang kami lihat normal," ujarnya.

Ekonom Samuel Sekuritas Ahmad Mikail mengatakan dolar AS perkasa karena kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS pasca disahkanya anggaran defisit pemerintah AS. "Naiknya yield obligasi AS menahan laju rupiah meski di dalam negeri terdapat sentimen positif," katanya. Dia mengatakan sentimen positif naiknya cadangan devisa Indonesia pada januari 2018 diharapkan dapat menahan tekanan mata uang domestik lebih dalam terhadap dolar AS.

Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Kamis sore, bergerak melemah sebesar 44 poin menjadi Rp13.587 dibandingkan sebelumnya pada posisi Rp13.543 per dolar AS. Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra di Jakarta, Kamis mengatakan bahwa sentimen eksternal, terutama dari Amerika Serikat mengenai kesepakatan anggaran menjadi salah stau faktor yang menopang dolar AS terapresiasi terhadap mayoritas mata uang dunia, termasuk rupiah.

"Para pemimpin senat AS menyepakati anggaran belanja pemerintah sehari sebelum tenggat waktu yang ditentukan mencapai 300 miliar dolar AS untuk program pertahanan dan domestik," katanya. Ia menambahkan bahwa pelemahan harga minyak mentah dunia turut mempengaruhi pergerakan mata uang berbasis komoditas, salah satunya rupiah. Pelemahan harga minyak mentah dipicu cadangan minyak mentah dan meningkatnya produksi AS.

Terpantau, harga minyak mentah jenis WTI Crude pada Kamis (8/2) turun 0,24 persen ke posisi 61,64 dolar AS per barel. Sementara minyak mentah jenis Brent Crude melemah 0,12 persen ke 65,43 dolar AS per barel.

BERITA TERKAIT

DSNG Akuisisi Perusahaan Sawit - Nilai Transaksi Bengkak Jadi Rp 2,1 Triliun

NERACA Jakarta – Kejar pertumbuhan produksi lebih besar lagi, PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) akan mengakuisi PT Bima Palma…

Sentimen Brexit Hambat Penguatan Rupiah

    NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) menyebutkan pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS sepanjang perdagangan kali…

Mewujudkan Nilai Aset BMN yang Akuntabel

Oleh: Heri Fitrianto, Mahasiswa PKN STAN Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara (BMN), BMN…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Pendapatan Premi Asuransi Jiwa Naik Tipis

      NERACA   Jakarta - Pendapatan premi industri asuransi jiwa hanya naik tipis sebesar 1,2 persen secara tahunan…

2019, CIMB Niaga Syariah Targetkan Pembiayaan Rp35 Triliun

    NERACA   Bogor – Bank CIMB Niaga Syariah menargetkan untuk bisa menyalurkan pembiayaan di 2019 mencapai Rp35 triliun.…

Bank Muamalat Dukung Silaknas ICMI

    NERACA   Jakarta - PT Bank Muamalat Indonesia Tbk. ("Bank Muamalat") mendukung pelaksanaan Silaturahmi Kerja Nasional (Silaknas) Ikatan…