Pendampingan Korban Gizi Buruk di Asmat Masih diperlukan

Meski status Kejadian Luar Biasa Campak di Asmat dinyatakan berakhir pada Senin (5/2), pendampingan terhadap warganya masih perlu dilakukan, khususnya edukasi mengenai asupan nutrisi bergizi seimbang. Ungkapan itu disampakan dokter dari Kementerian Kesehatan yang bertugas di RSUD Agats, di Asmat, Papua. Sebelum KLB dicabut, jumlah pasien rawat inap di RS tersebut tercatat sebanyak 20 anak. Berdasarkan laporan harian terakhir satuan tugas kesehatan (Satgaskes) KLB Campak dan masalah gizi buruk Kabupaten Asmat, penderita campak sebanyak 4 orang dan gizi buruk 16 orang.

"Pasien campak dan gizi buruk sekarang berkurang sampai 12 orang yang dirawat di sini. Ke depannya RS membuka pelayanan gizi buruk dan campak," jelas Direktur RSUD Agats, Riechard R. Mirino SKM, M.Kes, seperti pernyataan dari Kemenkes yang diterima redaksi.

Riechard menambahkan, fokus RSUD Agats kini lebih pada menangani penyembuhan gizi buruk dengan komplikasi, serta mendorong perubahan asupan nutrisi warga Asmat. Komplikasi yang kerap terjadi di antaranya dengan malaria dan pneumonia atau radang paru-paru. Bagi yang telah sembuh, RSUD menyarankan para pasien kembali ke kampung dengan berkoordinasi melalui tenaga kesehatan di wilayah kerja Puskesmas, ataupun melalui monitoring bidan dan perawat yang bertugas di Puskesmas pembantu.

"Nama-nama pasien kami berikan dan mereka intervensi gizinya, plus memberi bantuan kepada anak sakit berupa paket bahan makanan," urai Riechard.

Monitoring petugas dari pustu dan Puskesmas langsung, menurutnya, juga dilengkapi pemenuhan distribusi logistik susu dan bahan makanan bagi penderita balita gizi buruk. Jika habis akan distok langsung oleh bidan. "Tim Flying Health Care (FHC) Kemenkes gelombang satu hingga tiga sangat membantu kami dengan memperkuat pelayanan di RS dan Puskesmas tersebut," papar Riechard.

Pendampingan warga

Tenaga kesehatan yang tersedia di RSUD Agats saat ini ada dua dokter spesialis bedah dan satu orang spesialis dalam Wajib Kerja Dokter Spesialis (WKDS) yang tengah diproses. Riechard berharap ada tim yang berkeliling atau mobile ke Puskesmas dan tinggal di distrik sehingga jika ditemukan pasien gizi buruk dalam kondisi parah dapat dirujuk cepat.

Idealnya, di mata Riechard, FHC bertugas minimal sebulan untuk membantu pemulihan.Hal-hal yang dapat diinternalisasikan kepada warga Asmat dengan penyesuaian untuk perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), di antaranya melalui kebiasaan cuci tangan serta memotong kuku sekaligus mengenal jenis makanan layak dan sehat.

"Kita harus terus menyadarkan mereka agar dapat melakukan PHBS dan perumahan bersih karena 80-90 persen anak-anak Asmat juga mengalami kecacingan," urai Riechard.

Anggota tim FHC Kemenkes dr. Lily Indriani Octovia, memastikan jumlah pasien anak gizi buruk yang dirawat di RSUD Agats berkurang. Dari sisi pemulihan, ia punya strategi khusus.

"Untuk anak gizi buruk komplikasi mengajarkan makanan yang diresepkan untuk perbaikan gizi betul-betul masuk. Sekaligus pemantauan kepada para perawatnya agar mencatat ragam asupan makanan," jelas Lily.

Dokter yang berpraktik di RSCM Jakarta ini mengevaluasi pola pemantauan makanan penting karena rentan menimbulkan kematian. Sedangkan untuk penanganan gizi buruk berat mulai membuatkan sistem pelayanan gizi terpadu, termasuk mengadakan poli gizi di RS dan Puskesmas. Saat ini yang tersedia di RSUD Agats adalah dapur gizi. Sementara, untuk upaya memberi penyuluhan kepada tenaga kesehatan khusus penanganan gizi buruk perlu monitoring tata laksana gizi buruk. Sekaligus pencatatan akurat tentang umur anak yang menjadi poin inti pencatatan gizi.

"Faskes dan lingkungan kesehatan ibu dan anak harus dibenahi karena itu pondasinya. Kemudian penguatan Antenatal Care (ANC), metabolisme, dan maternalnya," ujar Lily menyarankan. Tim FHC Kemenkes lainnya, dr. Cut Nurul Hafifah, memaparkan hasil pantauannya dari RSUD Agats dan beberapa kampung di Agats. Masalah terbesar, diakuinya, jumlah anak stunting berperawakan pendek akibat kurang gizi.

"Perlu pendekatan berbagai pihak untuk Kabupaten Asmat dalam jangka panjang. Orang tua disini perlu edukasi jangka panjang," jelas Cut.

BERITA TERKAIT

Presiden ke-3 RI - Sasaran Reformasi Masih Jauh

Bacharuddin Jusuf Habibie Presiden ke-3 RI  Sasaran Reformasi Masih Jauh  Jakarta - Presiden ke-3 RI Bacharuddin Jusuf Habibie mengatakan reformasi…

Sistem OSS Potong Jalur Birokrasi Izin - MASIH MENUNGGU LANDASAN HUKUM PP

Jakarta- Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menilai, penyederhanaan regulasi perizinan melalui online single submission (OSS) diharapkan mampu memotong jalur…

Pemerintah Masih Merancang Tax Holiday

      NERACA   Jakarta - Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Suahasil Nazara mengatakan pihaknya saat ini masih merancang…

BERITA LAINNYA DI KESEHATAN

Tanda yang Muncul pada Tubuh Ketika Dehidrasi

Selain makanan, air merupakan salah satu asupan penting bagi tubuh yang tak bisa dilewatkan. Namun, banyak orang sering kali tak…

Makanan Cepat Saji Berisiko Bikin Wanita Sulit Hamil

Kandungan yang terdapat dalam makanan cepat saji, sudah lama diketahui tak baik untuk kesehatan. Makanan ini tinggi kalori, garam, gula,…

Kesadaran Publik akan Lupus Masih Rendah

Penyakit lupus merupakan salah satu masalah kesehatan global yang menyerang orang-orang di seluruh dunia. Setiap harinya, lebih dari 5 juta…