Wartawan Harus Kompeten dan Jujur

Dewan Pers pada puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) ke-27 di Jambi, hari ini (9/2), akan mendeklarasikan pelaksanaan sertifikasi bagi wartawan. Sertifikasi ini adalah hasil dari uji kompetensi yang dilakukan Dewan Pers bersama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Hingga saat ini sudah tercatat 1.000 wartawan yang memiliki sertifikasi, dan jumlahnya akan terus meningkat dari tahun ke tahun.

Bagaimanapun, upaya untuk menetapkan standarisasi kemampuan profesi melalui sertifikasi wartawan ini merupakan bagian dari empat kesepakatan yang dibuat pada 2010 antara Dewan Pers dengan kalangan organisasi pers untuk mendorong peningkatan kualitas, kesejahteraan dan perlindungan bagi wartawan.

Empat kesepakatan itu akan mengatur profesi wartawan yang mencakup peraturan tentang perusahaan pers, kompetensi wartawan, kode etik dan kesejahteraan serta perlindungan wartawan.

Kompetensi wartawan memerlukan pengembangan, peningkatan, dan pengasahan. Mengingat, kemajuan di bidang teknologi informasi dan dinamika sosial masyarakat belakangan ini semakin pesat. Karena itu, wartawan dapat mengembangkan kompetensinya melalui organisasi profesi yang ada. Organisasi profesi menjadi wadah pengembangan profesi melalui berbagai kegiatan, pertukaran pengetahuan dan pengalaman, dan membangun kebersamaan.

Kita mengetahui ada beberapa oknum, yang mengatasnamakan wartawan sering berkeliaran mencari nara sumber yang bisa dijadikan uang. Singkat kata diperas dengan sejumlah modus dan cara dilakukan. Yang paling sederhana, adalah mengaku wartawan dan/atau LSM yang sedang menginvestigasi suatu kasus atau proyek, mereka lalu menakut-nakuti narasumber dengan berbagai alasan, dan sebagainya.

Padahal profesi wartawan sama sebenarnya dengan profesi lain seperti dokter, notaris dan lain-lain. Karena itu Dewan Pers memandang perlu harus ada standarisasi kompetensi wartawan (SKW). Tanpa SKW, lima penyakit berbahaya pers tidak akan pernah hilang yaitu pornografi, character assassination, bohong provokatif, vulgar dan wartawan gadungan. Ini harus diberantas habis dan tidak boleh ada dalam sejarah pers Indonesia ke depan.

Selain itu, wartawan dalam tugas di lapangan perlu memiliki sikap jujur, independen dan teguh melaksanakan nilai-nilai dalam kode etik jurnalistik (KEJ) secara konsisten, dan selalu menggunakan hati nurani saat membuat berita untuk layak siar atau tayang.

Pengetahuan tentang KEJ tidak semata-mata untuk wartawan. Tetapi juga penting bagi masyarakat umum. Dengan demikian, akan mengetahui hak-haknya sebagai warga masyarakat maupun narasumber dalam hubungannya dengan tugas-tugas wartawan. Selain itu, akan memberikan pemahaman tentang kewajiban-kewajiban wartawan, dan mekanisme apa yang harus ditempuh jika terjadi permasalahan dalam hubungannya dengan wartawan maupun media.

Dalam praktiknya, untuk mewujudkan sajian berita, kerja wartawan itu melibatkan unsur keterampilan, seni, pengetahuan dan keahlian, kreativitas, kemampuan berkomunikasi, serta mendesain sajian sehingga enak dibaca oleh pelanggannya. Tanpa perpaduan berbagai elemen tersebut, maka karya jurnalistik yang dihasilkan kemungkinan kurang bermanfaat, dangkal, dan terasa hambar.

Di sinilah pentingnya kompetensi wartawan, sehingga mampu melahirkan karya jurnalistik yang berguna.Wartawan juga harus menjadikan organisasi profesi sebagai sarana dan mitra untuk mengasah kompetensi dan kemampuan profesional. Institusi media massa perlu menjadikan wartawan sebagai mitra meraih sukses dalam semangat kemajuan dan kerangka kebersamaan. Sebab, semuanya bermuara pada pengabdian kepada kemanusiaan dan wujud cinta kepada bangsa dan negara. Selamat Hari Pers Nasional!

BERITA TERKAIT

Smartfren Luncurkan Paket Super 4G Unlimited dan Super 4G Kuota

Operator seluler Smartfren meluncurkan dua produk teranyar untuk masyarakat modern yang tak bisa lepas dari internet. Masing-masing adalah paket "Super…

Indonesia dan Prancis Jalin Kerjasama Buka Sekolah Programer Gratis

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika ( Kominfo), dan Perancis bekerja sama membangun sekolah coding (pemrograman) gratis bernama “L’Académie”…

Minim Sentimen Positif Apa Maknanya - Oleh : Fauzi Aziz, Pemerhati Ekonomi dan Industri

Judul ini terinsipirasi oleh hal yang berkembang di pasar. Saat ini kita tahu bahwa pasar uang dan pasar modal tidak…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Asian Para Games 2018: Ajang Bergengsi Para Difabel

    Oleh : Afrizal Adam, Peneliti di Nusantara Research Satu lagi perhelatan besar se-Asia dilaksanakan di Indonesia. Kali ini…

Kewirausahaan Kaum Muda

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi., Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Tantangan kaum muda di era ke depan semakin pelik,…

Integrasi OSS dan INSW, Kemudahan Usaha & Pencegahan Korupsi

Oleh:  Johana Lanjar Wibowo, Pemeriksa Pajak Pertama Ditjen Pajak Kemenkeu Presiden Republik Indonesia menaruh atensinya terhadap pencegahan korupsi. Pencegahan dan…