Krisis Global Merembet ke Krisis Pangan

NERACA

Jakarta – Bank Pembangunan Asia (ADB) memperingatkan krisis keuangan yang terjadi di Eropa dan AS akibat utang. Bisa berdampak dan berkembang menjadi krisis pangan dan komoditi. Alasanya, saat ini telah terjadi pergolakan harga pangan dan komoditi di dunia.

Kondisi ini makin diperparah dengan pengetatan dana untuk penelitian, hingga terjadinya perubahan iklim. Apa yang terjadi ini merupakan ancaman serius bagi ketahanan pangan di negara ASEAN. "Harga pangan yang meningkat dan bergejolak, terutama beras berdampak pada ketahanan pangan jutaan warga ASEAN," kata Kepala Ekonom ADB, Changyong Rhee di Jakarta,6/2

Menurut Rhee, seluruh pihak harus bergerak bersama dalam menghindari guncangan akibat lonjakan harga pangan, untuk mencegah warga paling miskin di kawasan ASEAN terkena dampaknya.

Sementara itu, Iwan Aziz, Kepala Kantor Integrasi Ekonomi Regional ADB menyampaikan Asia harus memperbesar pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Langkah ini penting untuk memastikan suara mereka ikut menentukan dalam penataan kembali ekonomi global.

Bagi ADB, kata Iwan, peningkatan pertumbuhan ekonomi domestik dapat berhasil saat ada kemitraan dan pendanaan dalam memperkuat ketahanan pangan, di tengah gejolak harga. "Pada saat yang sama mereka harus memastikan bahwa seluruh penduduk mereka (bukan hanya sebagian kecil), mendapatkan manfaat dari pertumbuhan tersebut," ujarnya

Ditempat yang sama, Menteri Keuangan, Agus Martowardojo menambahkan, pentingnya mewaspadai faktor eksternal yang tidak bisa dihindari Indonesia yakni perubahan iklim.

Bagi Agus ada dua cara untuk mengatasi dampak perubahan iklim, yaitu; pertama, melalui kerja sama kawasan yang lebih kuat, kedua melindungi mereka yang rentan terhadap gejolak harga pangan dengan perbaikan infrastruktur yang lebih ramah lingkungan.

Lebih jauh kata Agus, kontribusi investasi terhadap pertumbuhan perekonomian di 2011 semakin nyata terlihat. "Yang menggembirakan adalah kita bandingkan pertumbuhan ekonomi kita di 2009. pada saat itu pertumbuhan perekonomian kita bisa tumbuh pada 4,6%. Sekarang ini dalam kondisi krisis kita sudah bisa tumbuh 6,5%. Tetapi yang juga menjadi ciri khas pertumbuhan perekonomian ditahun lalu dibandingkan dengan 2009 itu adalah sekarang ini motor dari investasi terlihat," katanya.

Yang jelas, kata Agus, target pemerintah untuk pertumbuhan 6,5%. Karena itu investasi terus didorong. “Kita bisa mencapai pertumbuhan 6,5% itu peran daripada investasi sampai dengan 8% dan itu satu yang baik sekali, karena di 2009 kontribusi terhadap pertumbuhan perekonomian adalah domestik market," imbuhnya.

Lanjutnya, pemerintah meyakini bahwa investasi itu penting karena imbasnya terhadap perekonomian semakin nyata. Oleh karena itu pemerintah berharap di tahun Naga Air ini pertumbuhan investasi bisa mencapai sekira 10%. "Sekarang kita lihat bahwa investasi semakin penting. dan kita yakin bahwa investasi dari pemerintah maupun sawsta jika meningkat perannya bagi pertumbuhan ekonomi itu nyata," paparnya. **cahyo

BERITA TERKAIT

KPPU : Perbaiki Tiga Hal Jaga Stok Pangan

KPPU : Perbaiki Tiga Hal Jaga Stok Pangan NERACA Jakarta - Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menyatakan perlunya perbaikan dalam…

Pemerintah Pastikan Stok Pangan Akhir Tahun Aman

  NERACA   Jakarta - Kementerian Pertanian menjamin stok pangan jelang perayaan Natal 2017 dan Tahun Baru 2018 aman. Kepala…

Menkeu : Penerbitan Global Bonds Bikin Kas Negara Terjaga

  NERACA   Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan penerbitan surat utang negara (SUN) atau "Global Bonds" sebesar empat…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Apindo, Kadin, dan YLKI Sepakat Perkuat Fungsi dan Kewenangan KPPU

      NERACA   Jakarta - DPP Pemuda Tani Indonesia mengadakan Seminar Nasional dengan Tema “Revisi UU Anti Monopoli:…

Pembiayaan Proyek LRT akan Rampung Akhir Tahun

  NERACA   Jakarta - Pemerintah akan menyelesaikan pembiayaan (financial closing) kereta ringan Jakarta-Bogor-Depok-Bekasi (LRT Jabodebek) dengan nilai total investasi…

Produk Citicon Kuasai Pasar Bata Ringan

      NERACA   Jakarta - Pertumbuhan infrastruktur dan properti sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir di Indonesia, menyusul…