Gurita Utang Indonesia Mengkhawatirkan

NERACA

Jakarta—Rencana pemerintah menambah utang hingga akhir 2012 tampaknya perlu diwaspadai. Apalagi utang tersebut ternyata tidak produktif, bahkan mengalami kebocoran. Pasalnya, total utang bisa mencapai Rp1.937 triliun atau naik Rp134 triliun dari 2011 Rp 1.803 menurut data Ditjen Pengelolaan Utang Kemenkeu. Angka utang ini cukup fantastis hampir mendekati Rp2.000 triliun.

Apalagi sebagian besar utang menjadi tak produktif, karena untuk membayar gaji 4,7 juta PNS. Yang mengagetkan malah belanja modal hanya sekitar 15%. Intinya, Indonesia perlu diselamatkan dari gurita utang. “Mengurangi belanja pegawai dan melakukan reformasi birokrasi adalah hal yang sangat baik dilakukan oleh pemerintah. Karena dari kedua hal tersebut memiliki kontribusi yang cukup besar membengkaknya utang negara,” kata ekonom Unika Atmajaya Dr. A. Prasetyantoko, Minggu (5/2)

Menurut dia, total utang Indonesia yang hampir mencapai Rp 2.000 triliun memang sangat mengagetkan. Padahal seharusnya utang suatu negara itu rasionya harus lebih rendah dari PDB nasional “Memang utang Indonesia masih 25% lebih rendah dari negara maju lainnya, akan tetapi lebih baik utang kita jangan terlampau tinggi sekali,sebab banyak negara maju yang hancur karena utangnya hampir menyamai APBN nya,”tambahnya

Lebih jauh lagi Prasetyantoko meminta pemerintah selalu memonitor penggunaan utang. Karena dengan monitoring, maka utang bisa diatur penggunaannya. “Sebab utang negara ini akan menjadi beban masyarakat juga,”paparnya.

Sementara itu, Koodinator Advokasi dan Investigasi Forum Indonesia untuk Transpransi Anggaran (Fitra), Uchok Sky Khadafi mendesak besar utang Indonesia ini sangat mengkhawatirkan. Karena itu perlu ada cara untuk menyelamatkan Indonesia dari gurita utang. “Kalau pada tahun anggaran 2012 dengan utang Rp 1.937 triliun lalu dibagi 259 juta penduduk Indonesia. Berarti setiap satu orang penduduk, mempunyai utang sebesar Rp 7.478.764. Karena itu Indonesia perlu diselamatkan dari gurita utang,” katanya kepada Neraca, kemarin.

Menurut dia, utang pemerintah pada sejak jaman Megawati hingga Presiden SBY mengalami kenaikan sebesar Rp 705 triliun. Pada masa Megawati utang mencapai sebesar Rp 1.232 triliun pada 2003. Sementara masa pemerintah SBY sebesar Rp 1.937 triliun pada tahun anggaran 2012. “Yang mengecewakan lagi, anggaran PNPM Mandiri yang berasal utang mengalami kebocoran sebesar Rp 200 miliar. Jelas utang hanya untuk dikorup oleh pejabat-pejabat publik,”paparnya

Sedangkan Direktur Koalisi Anti Utang Dani Setiawan mengatakan Indonesia merupakan negara yang tiada henti dengan utang. Bahkan setiap tahunnya selalu bertambah. “Penyebabnya tak lain, suku bunga yang masih tinggi yaitu dikisaran 6%. Sementara negara maju hanya dikisaran 0%-1%,” jelasnya.

Menurut Dani, hingga saat ini belum terlihat upaya pemerintah mengurangi utang Indonesia. “Belum ada skenario pemerintah mengurangi utang. Yang ada kita ini selalu saja mengalah terhadap kepentingan asing dan rakyatlah yang menjadi korban,” imbuhnya

Yang jelas, Wakil Ketua Komisi XI DPR F-PG, Harry Azhar Azis mendorong agar ke depan utang luar negeri tak lagi digunakan untuk kebutuhan anggaran subsidi pinjaman. Tapi untuk project loan. ”Kami menghendaki nantinya utang digunakan untuk pembangunan infrastruktur, bukan untuk subsidi,” ujarnya kemarin.

Namun kata Harry, keputusan untuk menambah hutang luar negeri ada di tangan pemerintah. Karena itu penggunaan dana utang ini yang perlu dikritisi. Tentunya dengan mendorong keras pemerintah untuk menggunakan dana tersebut demi pembangunan. ”Nanti, ini yang akan kita bersihkan,” ujarnya.

Hanya saja Azis tak mau mengaitkan, besarnya utang ini terkait dengan kebijakan menaikkan gaji PNS. Sebab, untuk gaji PNS diambil dari penerimaan pemerintah, bukan dari utang. ”Gaji PNS itu kan dari penerimaan pemerintah,” tukasnya

Harry menambahan rekomendasi utang berada sepenuhnya ditangan Bappenas. Karena, setiap kementerian lembaga wajib melaporkan rencananya kepada Bapenas. “Tetapi realisasinya ada di Kementerian keuangan, tetapi yang jelas masalah utang masih oke kalau untuk kebutuhan modal,” tutupnya.

Berdasarkan catatan, utang Indonesia semenjak 2007, sebesar Rp 1.389 triliun (rasio terhadap PDB 37%) dengan komposisi pinjaman Rp 586 triliun dan surat utang Rp 803 triliun. Lalu pada 2008 jumlah utang itu naik sekitar Rp 1.637 triliun (rasio 33%) dengan struktur pinjaman Rp 730 triliun dan surat utang Rp 906 triliun. Kemudian, pada 2009 turun sedikit menjadi Rp 1.591 triliun (rasio 29%) yang terdiri pinjaman Rp 611 triliun dan surat utang Rp 979 triliun.

Namun pada 2010 jumlah utang itu naik lagi jadi Rp 1.677 triliun (rasio 27%) dengan jumlah pinjaman Rp 612 triliun dan surat utang Rp 1.064 triliun. Dan pada 2011 jumlah utang naik terus menjadi Rp 1.803 triliun (rasio 25%) yang terinci dari pinjaman Rp 616 triliun dan surat utang Rp 1.188 triliun. Hingga pada 2012 jumlah utang diperkirakan naik lagi Rp 1.937 triliun dengan kompisisi pinjaman Rp 615 triliun dan surat utang Rp 1.322 triliun.

Dalam Pebruari ini, pemerintah juga berencana melakukan lelang lima surat utang negara (SUN) dengan total Rp8 triliun pada 7 Februari 2012, guna memenuhi sebagian dari target pembiayaan dalam APBN 2012. Data resmi Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang menyebutkan lima SUN yang akan dilelang adalah Seri SPN03120508 (new issuance), dengan pembayaran bunga diskonto, jatuh tempo pada 8 Mei 2012. Seri SPN12130208 (new issuance) dengan pembayaran bunga diskonto, jatuh tempo 8 Februari 2013. Seri FRO059 (reopening) dengan tingkat bunga tetap (fixed rate) sebesar 7,0% jatuh tempo pada 15 Mei 2027, Seri FRO058 (reopening) dengan tingkat bunga tetap sebesar 8,25 persen, jatuh tempo pada 15 Juni 2032. Seri FRO062 (new issuance) dengan tingkat bunga tetap, jatuh tempo pada 15 April 2042. ahmad/iwan/bari/cahyo

BERITA TERKAIT

VIVA Percepat Lunasi Utang US$ 252 Juta - Pangkas Beban Utang

NERACA Jakarta – Menjaga pertumbuhan kinerja keuangan yang positif, VIVA Group berambisi memangkas beban utang. Teranyar, perseroan telah melakukan percepatan…

Utang Luar Negeri Naik 4,7%

    NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) mencatat utang luar negeri (ULN) naik 4,7 persen (year on year)…

Indonesia – Arab Saudi Sepakat Bikin Sistem Baru - Penyaluran TKI

  NERACA   Jakarta - Pemerintah Republik Indonesia dan Kerajaan Saudi Arabia sepakat menyusun sistem baru bagi warga negara Indonesia…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Sektor Industri Desak Pemberantasan Spekulan Gas

NERACA Jakarta – Dukungan terhadap pemberantasan praktik calo (trader) pada tata niaga hilir gas bumi terus bergulir, menyusul tingginya harga…

Kemenhub Rombak Aturan Taksi Online - DIBERLAKUKAN MULAI 1 NOVEMBER 2017

Jakarta-Kementerian Perhubungan akhirnya merampungkan rancangan peraturan menteri (PM), yang merupakan revisi dari aturan lama Permenhub No 26/2017 tentang Penyelenggaraan Angkutan…

Media Asing Soroti Kebijakan Polkam dan Ekonomi RI

NERACA Jakarta - Hasil riset yang dilakukan oleh Indonesia Indicator (I2) menyebutkan, kinerja Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) yang telah melewati…