Idealnya DP Kredit Motor Sekitar 30%

NERACA

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) selaku bank sentral menilai idealnya pembayaran awal (down payment, alias DP) untuk kendaraan bermotor sebesar 30%. "Sekarang ini bank-bank variatif, ada yang 20%, ada yang 30%. DP untuk kredit automotif ini average sekitar 20%," kata Direktur Direktorat Penelitian dan Perbankan BI Wimboh Santoso saat ditemui di Gedung BI, Jakarta, Jumat.

Wimboh menambahkan para pelaku industri automotif pastinya tidak akan menyetujui keputusan dari BI ini. Namun dia mengungkapkan ini adalah kewenangan BI sebagai bank sentral. "Kalau ditanya industri pasti enggak mau. Otoritasnya, tapi kan enggak bisa begitu. Kita kan memang dikasih mandat untuk mengatur. Untuk menyelaraskan semua kepentingan. Kepentingan ekonomi, stabilitas, pertumbuhan," terangnya.

Menurutnya, putusan mengenai hal hal ini sedang dikaji. Namun tetap BI selalu berkoordinasi dengan Bapepam-LK, untuk mencapai suatu hasil yang harmonis. Tapi pengkajian masalah DP tersebut akan dilakukan dengan berhati-hati, agar risiko yang ada lebih terkontrol. "Ini kan masalah kehati-hatian supaya risikonya bisa terkontrol, artinya kalau suku bunga semakin rendah, pertumbuhan semakin tinggi, asal hati-hati enggak ada masalah," tandasnya.

Sementara itu, terkait dengan dukungan pengelolaan lingkungan hidup (green banking) yang diamanatkan dalam Pasal 8 Undang- undang No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang No. 10 Tahun 1998, Deputi Direktur Penelitian dan Pengaturan Perbankan, Irwan Lubis membenarkan BI akan segera merampungkan Peraturan Bank Indonesia (PBI) tentang Green Banking dan menerbitkannya tahun ini. “Tahun ini diharapkan (PBI Green Banking) bisa terbit. Cuma belum tahu kapan pastinya karena saat ini masih dalam tahap finalisasi,” ujarnya

Aturan berisi mengenai beberapa poin, yakni BI akan mewajibkan perbankan memperhatikan kelangsungan lingkungan hidup dalam mengembangkan bisnisnya. Pedoman BI untuk menerbitkan kebijakan pro lingkungan itu, akan merujuk pada Undang-Undang No 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup yang selanjutnya disingkat UUPPLH.

Dalam hal teknis, BI akan memberikan penilaian perbankan yang ramah lingkungan dengan lima tingkat, yakni: tingkat emas, hijau, biru, merah, dan hitam. Emas merupakan peringkat ketaatan lingkungan tertinggi dan hitam merupakan peringkat terendah.

Irwan menjelaskan penilaian ketaatan lingkungan dari debitur kredit akan mengacu pada program Proper di Kementerian Lingkungan Hidup. Proper merupakan penilaian peringkat kinerja ketaatan dalam pengelolaan lingkungan yang dilakukan sejumlah perusahaan di Indonesia. “Dalam Proper ada lima peringkat yang ditetapkan yaitu emas, hijau, biru, merah, dan hitam. Emas merupakan peringkat ketaatan lingkungan tertinggi dan hitam merupakan peringkat terendah”, jelasnya. **maya/cahyo

BERITA TERKAIT

BCA Salurkan Kredit Rp2 Triliun ke Pegadaian

  NERACA   Jakarta - PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menyadari pentingnya pelayanan gadai untuk masyarakat di Indonesia, terutama…

Arahkan Kredit Perbankan ke Industri Kreatif

    NERACA   Solo - Asosiasi Industri Animasi dan Kreatif Indonesia (AINAKI) mengeluhkan industri perbankan dan lembaga keuangan formal…

Mohon Perbaikan di Sekitar Rel Kereta Api

Jalur perlintasan kereta api yang dari arah Jalan Menteng, Jakarta Pusat, menuju ke arah Manggarai mohon untuk diperbaiki karena jalur…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

The Fed Naikkan Suku Bunga 25 Bps

      NERACA   Washington - Federal Reserve AS atau bank sentral AS pada akhir pertemuan kebijakan dua harinya…

Amartha Salurkan Pembiayaan Rp200 miliar

      NERACA   Jakarta – PT Amartha Mikro Fintek (Amartha) telah menyalurkan pembiayaan dengan model financial technology (fintech)…

Mahasiswa GenBI Diharapkan jadi Garda Terdepan

      NERACA   Bogor - Bank Indonesia (BI) meminta kepada seluruh mahasiswa penerima beasiswa BI dapat mendedikasikan ilmu…