Urai Kemacetan dengan Angkutan Umum Berbasis Rel

NERACA

Jakarta - Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/ Badan Perencanaaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) mendorong pembangunan angkutan umum berbasis rel untuk kota-kota besar di Jawa. "Di kota besar, setiap kali keluhan macet muncul idenya membangun jalan. Ini sudah saatnya untuk bukan menambah jalan baru, tetapi pengalihan pemakaian jalan menjadi kereta api," kata Menteri PPN/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro, dalam sebuah seminar di Jakarta, Rabu (17/1).

Bambang menilai pembangunan angkutan umum berbasis rel di kota-kota besar mampu menyelesaikan masalah konektivitas karena daya tampungnya besar dan tidak berebutan tempat di jalan. "Angkutan umum berbasis rel memiliki daya tampungnya besar dan tidak berebutan jalan, baik pembangunan relnya di bawah tanah, di jalan, maupun 'elevated'. Ini adalah investasi masa depan," ucap dia.

Terkait hal tersebut, Bambang mengatakan saat ini banyak ide menyangkut revitalisasi jalur-jalur kereta api yang sudah tidak difungsikan. "Bahkan di Jakarta Kota harusnya ada jalur trem, namun sudah ditutup dengan aspal. Harusya trem dipertahankan, sehingga tidak perlu memikirkan angkutan umun setidaknya di daerah Kota Tua Jakarta," tutur dia.

Bambang juga mengungkapkan bahwa ide untuk mendorong pembangunan angkutan umum berbasis rel tersebut merupakan upaya pembangunan oleh pemerintah untuk mewujudkan konektivitas. "Konektivitas saat ini sudah makin baik, bagaimana daerah yang sulit terjangkau kemudian mendapat perhatian. Pemerintah juga terus mengupayakan elektrifikasi atau ketersediaan energi," ucap dia.

Sebetulnya, pemerintah daerah DKI Jakarta mempunyai program One Karcis One Trip (OK Trip) yang mana masyarakat hanya perlu membayar sekali untuk menggunakan transportasi umum. Pengamat Transportasi dan Direktur Eksekutif Institut Studi Transportasi (Instran), Darmaningtyas mengungkapkan secara konsep One Karcis One Trip (OK-Trip) bagus karena bisa menghemat pengeluaran masyarakat yang menggunakan transportasi umum. Dengan demikian, diharapkan masyarakat mulai beralih ke transportasi umum agar berbagai masalah kemacetan terselesaikan.

Selain itu, program ini mendorong pemilik moda transportasi memperbaiki fasilitasnya agar bisa terintegrasi dengan program Ok Trip. Akan tetapi, saat ini program Ok Trip hanya baru siap di moda transportasi Transjakarta (busway), sedangkan bus lain belum dipersiapkan untuk bisa terintegrasi dengan sistem ini. "Harusnya sudah teritegrasi dengan moda lain, jangan sampai busway saja yang siap angkutan umum yang lain juga harus menyesuaikan," kata Darmaningtyas.

BERITA TERKAIT

OCBC NISP Syariah Jalin Kerjasama dengan UIN Sumut

      NERACA   Jakarta - Unit Usaha Syariah Bank OCBC NISP menjalin kerja sama dengan Universitas Islam Negeri…

KKP Fasilitasi Pembudidayan Ikan Berbasis Kemitraan

NERACA Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan mengapresiasi peran BUMN dalam mendorong pemberdayaan pembudidaya ikan melalui implementasi program CSR dan…

Kementerian PUPR Segera Teken MoU dengan BTN terkait KPR FLPP

  NERACA Jakarta - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Direktorat Jenderal Pembiayaan Perumahan memastikan bahwa PT Bank…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

BI : Siklus Krisis Ekonomi 10 Tahunan Tak Relevan

      NERACA   Jakarta - Pernyataan bahwa siklus krisis ekonomi di Indonesia akan terjadi setiap 10 tahun sekali…

Jepang Tertarik Bangun MRT Di Jakarta

      NERACA   Jakarta - Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Salahuddin Uno melakukan kunjungan kerja ke Tokyo, Jepang…

Empat Provinsi Siaga Karhutla

      NERACA   Jakarta - Sebanyak empat provinsi, yaitu Sumatra Selatan (Sumsel), Riau, Kalimantan Barat (Kalbar), dan Kalimantan…