Pilkada Berintegritas, Masyarakat Cerdas, dan Pemimpin Berkualitas

Oleh : Dodik Prasetyo, Peneliti di Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia

Beberapa hari yang lalu, Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, mengingatkan masyarakat agar tidak terpecah belah menjelang Pilkada nanti. Pernyataannya ini disampaikan pada pembukaan Natal Oikumene Nasional 2017 di Pontianak pada Kamis, 29 Desember 2017 lalu. Beliau juga mengingatkan agar tidak ada masyarakat yang saling ejek atau cemooh menjelang Pilkada nanti, apalagi kita adalah sebuah negara yang besar. Pernyataannya ini terkait dengan Pilkada yang akan serentak diadakan di beberapa kabupaten/kota pada 2018 ini.

Pemilihan kepala daerah tahun ini akan diisi dengan calon-calon pemimpin yang berkualitas. Sebagai masyarakat pun tentunya kita juga menginginkan pemimpin yang amanah, anti korupsi, mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat, dan memajukan daerah. Sayangnya, masyarakat saat ini berada di ambang keraguan akan kepercayaan para calon pemimpin. Hal ini dikarenakan perbedaan antara janji saat kampanye dan kenyataan yang diterima masyarakat saat telah terpilih. Beberapa pemimpin daerah bahkan tersangkut masalah korupsi, tidak terealisasinya janji, dan kasus lainnya.

Bahkan belakangan ini, terdapat beberapa Pilkada yang diwarnai dengan perpecahan. Ada yang saling mengejek, mencemooh, bahkan memfitnah. Berbagai usaha dilakukan para pendukung fanatik untuk membela calon pilihannya, walau harus menggunakan cara yang kurang baik.Kehidupan harmonis antar tetangga pun terganggu karena saling kukuh membela calon pilihan. Perilaku pemilih yang seperti ini jelas sangat merugikan, karena mereka tidak dapat melihat kebenaran yang ada. Mereka hanya berusaha membela calonnya tanpa menghiraukan yang lain.

Menurut ahli politik, terdapat beberapa perilaku pemilih dalam pemilihan umum.

Memilih berdasarkan persamaan golongan, suku, agama atau status sosial

Pemilih yang dapat masuk ke kategori ini adalah pemilih yang hanya akan memilih calon dan pasangan calon yang berasal atau pun memiliki golongan, suku atau agama yang sama dengan dirinya tanpa memedulikan prestasi atau menyelidiki terlebih dahulu apakah sang calon bisa membawa daerahnya dan Indonesia ke dalam posisi yang lebih baik.

Memilih berdasarkan persamaan ideologi

Pemilih yang masuk kedalam kategori ini adalah para pemilih yang hanya akan memilih pasangan calon berdasarkan ide atau gagasan yang dimilikinya. Pemilih yang masuk kedalam kategori ini biasanya lebih senang mendengar janji – janji dari pasangan calon tanpa berpikir panjang apakah sang calon mampu mewujudkannya.

Memilih berdasarkan pemberian yang diterimanya dari calon pilihannya

Walaupun hal ini sudah di larang oleh pemerintah, akan tetapi masih banyak pemilih yang hanya akan memilih calon tertentu karena di kasih tunjangan sebelum pemilihan itu berlangsung.

Memilih berdasarkan rekam jejak dan prestasi calon

Pemilih yang masuk kedalam kategori ini adalah pemilih yang bijak yang telah mempelajari setiap calon dalam PILKADA dan melihat calon mana yang paling bisa membawa daerahnya dan Indonesia di posisi yang lebih dari sebelumnya tanpa memandang isu SARA.

Kategori pemilih yang pertama, kedua dan ketiga jelas sangat merugikan dalam Pilkada. Ini dikarenakan mereka tidak dapat melihat kenyataan dan kebenaran dari para calon. Mereka memilih tanpa menyeleksi sendiri calon pilihannya. Bahkan walaupun mereka mengetahui kebenarannya, mereka tetap teguh pada pilihannya. Biasanya pemilih dengan perilaku yang seperti inilah yang memunculkan perpecahan saat pemilihan umum. Mereka bisa sangat berani untuk tampil membela calon pilihannya mati-matian. Padahal masa depan mereka berada dalam pilihan mereka sendiri.

Memang berbedaan pada saat PILKADA adalah salah satu hal yang tidak bisa di elakan. Akan tetapi, sebagai bagian dari bangsa besar kita harus saling meghargai perbedaan yang kita miliki. Tidak ada perbedaan yang lebih atau lebih besar, tidak ada pilihan yang benar atau salah. Oleh karena itu isu SARA yang hanya ingin memecah belahkan bangsa harus sama – sama di hindari. Karena di dalam pilkada yang harus sama – sama dimengerti adalah apakah pilihannya akan membawa perubahan yang lebih baik kepada bangsa Indonesia

Jadilah pemilih yang baik dan bijaksana. Jangan terkecoh dengan janji dan pencitraan para calon. Kita boleh saja berbeda pendapat dengan yang lain. Tapi jangan jadikan perbedaan tersebut menjadi bibit perpecahan di masyarakat.

Berikut adalah beberapa tips menjadi pemilih yang cerdas dan bijaksana:

1. Periksa Rekam Jejak Calon

Jangan mudah percaya dengan pencitraan yang biasanya dilakukan para calon menjelang Pilkada. Beberapa calon justru sangat baik dalam pencitraan, tapi buruk dalam realisasi program. Telusuri riwayat pendidikan, keluarga, prestasi dan bahkan kasus yang pernah menjerat mereka. Hal ini akan sangat berguna dalam memilih calon yang berkualitas.

2. Perhatikan Visi dan Misi Calon

Cermati dengan baik apa visi dan misi calon para pemimpin, lihat apakah visi dan misi tersebut mungkin untuk direalisasikan, apakah visi dan misi tersebut sesuai untuk kemajuan dan kesejahteraaan masyarakat di daerah Anda.

Lihat juga program yang mereka janjikan, apakah program tersebut sesuai dan dapat dicapai oleh calon. Perhatikan kemampuan dan prestasi mereka di masa lalu untuk menentukan apakah mereka mampu atau tidak mewujudkannya.

3. Jadilah Pemilih yang Rasional

Jadilah pemilih dari kategori yang keempat, yaitu pemilih rasional yang memilih berdasarkan rekam jejak dan prestasi calon pemimpin, juga tidak berada dalam tekanan apapun dalam memilih pemimpin. Pemilih dalam kategori ini adalah pemilih yang baik, yang memikirkan masa depan dan kesejahteraan masyarakatnya. Mereka lebih mengerti integritas dari para calon kepala daerah baik secara subjektif maupun objektif.

4. Menghindari Perdebatan dengan Pemilih Lainnya

Jika Anda sudah melakukan ketiga hal di atas, maka yang terakhir adalah menghindari perdebatan dengan pemilih lainnya. Biasanya pemilih yang sering melakukan perdebatan adalah pemilih di kategori satu, dua, dan tiga seperti di atas. Walaupun Anda merasa benar, sebaiknya tetap hindari perdebatan. Namun jika Anda memang mengetahui sebuah kebenaran, Anda bisa menjelaskan dengan halus dan sopan kepada orang yang ngotot berdebat dengan Anda. Memang sangat sulit menghadapi orang seperti ini, tapi ingatlah untuk selalu menghindari perdebatan sebisa mungkin. Jangan sampai hanya karena Pilkada yang datang 5 tahun sekali, Anda harus putus silaturahmi dengan kerabat atau teman Anda. Sungguh sangat disayangkan, bukan.

Sebagaimana keberagaman suku dan agama di Indonesia, keberagaman pendapat dalam memilih calon pemimpin juga tidak dapat dipungkiri. Ada yang memilih A dan ada juga yang memilih B. Namun jadikan keberagaman tersebut sebagai pemersatu bangsa, bukan sebagai perpecahan. Keberagaman pendapat inilah yang akan membuat Pilkada justru semakin berwarna dan meriah.

Jangan mudah terhasut atau ikut dengan ajakan dalam tindakan yang menjadi bibit perpecahan bangsa. Sesungguhnya perpecahan dan bentrokan yang terjadi hanya akan menguntungkan pihak tertentu yang jelas tidak pernah memikirkan masa depan bangsa. Mereka hanya akan tertawa melihat para pendukungnya berusaha membela mereka mati-matian, sementara mereka mengeruk keuntungan dari perpecahan tersebut.

Mari kita bekerjasama menyambut dan mengawasi pemilihan kepala daerah dengan aman dan damai agar semuanya dapat berjalan dengan lancar. Jadilah pemilih yang bijak dan cerdas dalam memilih calon pemimpin. Selamat memilih calon pemimpin masa depan Anda.

BERITA TERKAIT

Menteri Susi: 10.000 Orang Berintegritas Indonesia Disegani

Menteri Susi: 10.000 Orang Berintegritas Indonesia Disegani NERACA Jakarta - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menyatakan jika Indonesia mempunyai…

Pertumbuhan 5,27% dan Utopia

Oleh: Djony Edward Presiden Jokowi saat berkampanye menjanjikan pertumbuhan ekonomi rerata 7% per tahun. Namun kenyataannya rerata pencapaian pertumbuhan ekonomi…

MMKSI Raih Capaian Positif dan Lampaui Target Penjualan di GIIAS 2018

MMKSI Raih Capaian Positif dan Lampaui Target Penjualan di GIIAS 2018 NERACA Jakarta - PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Demonstrasi Ojek Online yang Tidak Dibutuhkan

  Oleh : Dodik Prasetyo, Peneliti di Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia   Sejumlah ojek online berencana melakukan demonstrasi pada…

Menyikapi Pernyataan Jokowi Secara Proporsional

  Oleh : Toni Ervianto, Alumnus Pascasarjana UI Pernyataan atau ucapan tokoh apalagi Kepala Negara jelas akan sangat berpengaruh terhadap…

Krisis Ekonomi Turki, Mungkinkah Merembet Ke Indonesia?

Oleh: Achmad Fuad Mata uang Turki, Lira, Senin pagi ini (13/08/2018) menyentuh level 7,24 lira per dolar AS pada perdagangan…