Meningkatnya Pertumbuhan Konsumsi Di Luar Rumah

NERACA

Jakarta - Perusahaan riset Kantar Worldpanel Indonesia memonitor pola belanja konsumen untuk produk makanan dan minuman siap saji, tidak hanya di Asia tetapi juga di benua lainnya seperti di Eropa dan Amerika. Konsumen di benua Eropa, memilih kopi sebagai pilihan utama untuk konsumsi di luar rumah. Sedangkan di Asia (termasuk Indonesia), memilih air mineral dan teh sebagai pilihan utama konsumen.

Hasil survei Kantar mengungkapkan konsumsi masyarakat di luar rumah (out of home) terus mengalami kenaikan seiring dengan perubahan prilaku masyarakat. “Survei kami menunjukkan komposisi konsumsi masyarakat di luar rumah 61 persen, sedangkan konsumsi barang untuk dibawa pulang (in home) 39 persen,” kata New Business Development Director Kantar Worldpanel Indonesia, Fanny Murhayati di Jakarta, Selasa (16/1).

Fanny mengatakan, survei yang ditujukan kepada produsen/ distributor untuk mengetahui sejauh mana prilaku belanja masyarakat sesuai dengan penghasilan, usia, status sosial serta kategori lainnya karena sangat menentukan dalam memilih produk sesuai harga, ukuran kemasan, rasa, dan lain sebagainya. Ia mengatakan, untuk survei ini, Kantar Worldpanel Indonesia melakukan tracking pada lebih dari 20 kategori, melibatkan lebih dari 30.000 panelis dan mencakup 98 persen populasi perkotaan di Indonesia.

Survei ini, menurut Fanny, memberikan manfaat kepada para pelaku/ pemain fast moving consumer goods (FMCG) terutama makanan dan minuman dalam menyusun strategi pasar agar sesuai dengan prilaku konsumen. "Kami melibatkan ibu rumah tangga sebagai panelis untuk mencatat pengeluaran in home dan out of home. Karena mereka yang tahu persis berapa pengeluaran per bulan serta diperuntukan buat apa saja," ujar Fanny.

Sedangkan Account Director Kantar World Panel Indonesia, Andi Siswanto mengatakan terdapat dua prilaku yang berbeda untuk konsumsi di luar rumah dan di rumah. Kalau konsumsi di luar rumah tidak direncanakan dalam artian kalau sedang haus tentunya akan segera mencari warung atau mini market terdekat untuk membeli minuman, berbeda dengan konsumsi di rumah yang penuh dengan perencanaan sesuai dengan kemampuan keuangan, kebutuhan, termasuk lokasi belanja.

Andi mengatakan, dalam bersaing memenangkan pilihan konsumen, para pemain FMCG tidak hanya berkompetisi di dalam satu kategori, tetapi juga antar kategori yang berbeda. Misalnya untuk produk siap minum, air mineral, teh siap saji, minuman isotonik dan lainya akan saling bersaing untuk produk pelepas dahaga. Demikian pula untuk kategori makanan, biskuit, coklat atau kategori siap makan lainnya, juga akan saling bersaing untuk produk pemenuh rasa lapar.

Hampir semua konsumen di perkotaan besar di Indonesia pernah mengkonsumsi produk siap saji. Sehingga para pemain FMCG harus berlomba untuk meningkatkan frekuensi belanja, dengan memenangkan momen dan kesempatan. Andi mengungkapkan terdapat empat hal yang harus diperhatikan pelaku FMCG untuk menarik pasar "out of home" yakni ketersediaan barang/ produk, tipe dan keragaman produk, harga, dan inovasi.

Terkait ketersediaan barang/ produk, Andi menjelaskan pentingnya pelaku FMCG melihat momentum ketika konsumen memilih produk yang dikonsumsi di luar rumah untuk melepaskan dahaga atau mengisi rasa lapar. "Dengan bayaknya pilihan produk yang ditawarkan, dan banyaknya alternatif distribusi, para pemain FMCG perlu memastikan bahwa produk mereka terpilih, tersedia dan dapat dijangkau dengan mudah. Mini market merupakan salah satu distribusi yang berkontribusi terhadap pertumbuhan pasar secara keseluruhan. Meski demikian, pasar tradisionil masih vital karena 80 persen pembelian konsumsi di luar rumah dikontribusi dari distribusi ini," kata Andi.

BERITA TERKAIT

Lagi, BEI Gelar Investor Summit di 8 Kota - Pacu Pertumbuhan Investor Lokal

NERACA Jakarta – Membidik pertumbuhan investor lokal dan ritel lebih besar lagi, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama dengan Kliring…

Pertumbuhan 5,27% dan Utopia

Oleh: Djony Edward Presiden Jokowi saat berkampanye menjanjikan pertumbuhan ekonomi rerata 7% per tahun. Namun kenyataannya rerata pencapaian pertumbuhan ekonomi…

BI Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Sumsel Terdongkrak

BI Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Sumsel Terdongkrak NERACA Palembang - Bank Indonesia (BI) memprediksi pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan (Sumsel) bakal terdongkrak…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Korporasi Diharapkan Tak Borong Valas

      NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) meminta dunia usaha tidak memaksakan diri untuk "memborong" valuta asing…

Luhut Ancam Proyek PLN “Direschedule” - Tak Penuhi TKDN

    NERACA   Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan sebagai upaya tegas mengendalikan impor maka…

IIF Target Salurkan Pembiayaan Infrastruktur Rp10 Triliun

  NERACA   Jakarta – PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF) menargetkan bisa menyalurkan pembiayaan untuk infrastruktur mencapai Rp10 triliun. Hal…