Bank Dunia Naikkan Proyeksi Pertumbuhan Global

NERACA

Jakarta - Bank Dunia pada Selasa (9/1) menaikkan perkiraannya untuk pertumbuhan ekonomi global tahun ini menjadi 3,1 persen, mengatakan bahwa pemulihan berbasis luas sedang berlangsung di seluruh dunia. Perkiraan itu 0,2 persentase poin lebih tinggi dari proyeksi pada Juni tahun lalu, kata pemberi pinjaman yang berbasis di Washington itu dalam laporan Prospek Ekonomi Global-nya.

"Tahun 2018 berada di jalur untuk menjadi tahun pertama sejak krisis keuangan, dimana ekonomi global akan beroperasi pada atau mendekati kapasitas penuh," kata pemberi pinjaman tersebut. Diperkirakan bahwa pertumbuhan global mencapai 3,0 persen pada 2017, laju terkuat sejak 2011 dan pemulihan yang penting dari tingkat terendah pasca krisis 2,4 persen pada 2016.

Pertumbuhan meningkat di lebih dari separuh ekonomi dunia pada 2017, yang menyoroti pemulihan bersifat berbasis luas, kata pemberi pinjaman tersebut. Diperkirakan pertumbuhan global melambat menjadi 3,0 persen pada 2019 dari 3,1 persen pada 2018 dan turun lagi menjadi 2,9 persen pada 2020. Menurut perkiraan Bank Dunia, pertumbuhan ekonomi di negara-negara maju diperkirakan akan turun tipis menjadi 2,2 persen pada 2018 dari 2,3 persen pada 2017, karena bank-bank sentral utama cenderung secara bertahap menarik diri dari kebijakan moneter yang akomodatif.

Dengan investasi swasta yang lebih kuat, ekonomi AS diperkirakan tumbuh 2,3 persen pada 2017. Pertumbuhan ini diperkirakan akan meningkat menjadi 2,5 persen pada 2018 dan kemudian moderat menjadi rata-rata 2,1 persen pada 2019 dan 2020. Bank Dunia memperkirakan bahwa rancangan undang-undang pajak yang baru-baru ini disetujui oleh Kongres AS diharapkan dapat meningkatkan investasi perusahaan, karena rendahnya tarif pajak perusahaan dan pengeluaran penuh peralatan baru.

Namun, bank memperingatkan bahwa manfaat stimulus fiskal kemungkinan akan terkendala, karena ekonomi sudah mendekati kapasitas penuh dan laju normalisasi kebijakan moneter mungkin akan meningkat. Berkenaan dengan negara-negara "emerging market" dan negara-negara berkembang, kreditor tersebut memperkirakan bahwa ekonomi negara-negara tersebut akan tumbuh 4,5 persen pada 2018, meningkat dari perkiraan kenaikan 4,3 persen di 2017. Tingkat pertumbuhan akan berlanjut lebih cepat menjadi 4,7 persen pada 2019 dan 2020.

Bank Dunia juga meningkatkan perkiraan pertumbuhan ekonomi Tiongkok pada 2018. Perekonomian Tiongkok diperkirakan tumbuh 6,8 persen pada 2017, 0,3 persentase poin lebih tinggi dari perkiraan pada Juni tahun lalu. Pihaknya memperkirakan ekonomi tumbuh 6,4 persen pada 2018, 0,1 persentase lebih tinggi dari perkiraan Juni. Pertumbuhan akan moderat menjadi 6,3 persen pada 2019, karena Tiongkok akan terus menyeimbangkan kembali ekonominya dan pertumbuhan kredit diperkirakan akan melambat.

Perekonomian Tiongkok terus membuat kemajuan dalam penyeimbangan kembali, dengan sektor konsumsi dan jasa mempertahankan pertumbuhan yang relatif cepat, kata Ayhan Kose, direktur Development Economic Prospects Group Bank Dunia, dalam sebuah telekonferensi pada Selasa (9/1). Dia menyatakan bahwa Tiongkok akan terus melakukan langkah-langkah untuk menghilangkan kelebihan kapasitas industri dan mengendalikan risiko-risiko dalam sistem keuangan.

Meskipun perkiraan optimistis, Bank Dunia memperingatkan bahwa risiko -risiko terhadap prospek tetap condong ke sisi negatifnya, yang mencakup pengetatan kondisi pembiayaan global yang tiba-tiba, meningkatnya pembatasan perdagangan dan meningkatnya ketegangan geopolitik. Dalam laporan tersebut, pemberi pinjaman juga memperingatkan potensi perlambatan pertumbuhan dalam jangka panjang, yang terlihat di negara-negara yang mencakup lebih dari 65 persen PDB global.

Pertumbuhan produktivitas yang melambat, investasi yang lemah dan porsi tenaga kerja yang menyusut, semuanya berkontribusi terhadap perlambatan pertumbuhan potensial, kata bank tersebut. "Pemulihan berbasis luas dalam pertumbuhan global sangat menggembirakan, tapi ini bukan saat untuk berpuas diri," kata Jim Yong Kim, presiden Bank Dunia, dalam sebuah pernyataannya pada Selasa (9/1).

"Ini adalah kesempatan besar untuk berinvestasi dalam modal sumber daya manusia dan fisik. Jika pembuat kebijakan di seluruh dunia fokus pada investasi utama ini, mereka dapat meningkatkan produktivitas negara mereka, meningkatkan partisipasi angkatan kerja, dan mendekati tujuan untuk mengakhiri kemiskinan ekstrim dan meningkatkan kemakmuran bersama," kata Kim.

BERITA TERKAIT

IMF: Pertumbuhan Ekonomi RI Bisa Naik 1% - PERANG DAGANG AS-CHINA BAKAL PANGKAS EKONOMI GLOBAL 1%

Jakarta-Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund-IMF) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa meningkat sekitar 1% dalam jangka menengah, dari posisi saat…

Secara Volume, Indonesia Eksportir Ikan Hias Terbesar Dunia

NERACA Bogor - Rifky Efendi Hardijanto, Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP), Kementerian Kelautan dan Perikanan…

10 Poin Hasil Pleno Development Committe IMF-World Bank

      NERACA   Bali - Development Committee (DC), perkumpulan menteri dan pejabat sektor keuangan seluruh dunia, melakukan pertemuan…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

BI Prediksi Nilai Tukar Rupiah Rp14.800-15.200 Per Dolar

      NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) mengestimasi nilai tukar Rupiah per dolar AS sepanjang 2019 akan…

BTN Jalin Kerjasama dengan KOI - Program Satu Juta Rumah

      NERACA   Jakarta - Sejalan dengan komitmen menyukseskan Program Satu Juta Rumah dan mendukung kesejahteraan para atlet…

Maybank Sediakan Fasilitas Pinjaman Rp3 Triliun untuk AP II

      NERACA   Jakarta - PT Bank Maybank Indonesia Tbk (Maybank Indonesia) meningkatkan kemitraan strategis dengan PT Angkasa…