Ini Manfaat Stimulasi Pijat Pada Bayi

Tumbuh kembang anak dapat tercapai dengan maksimal, salah satunya lewat stimulasi termasuk dengan pijat. Pijat pada bayi melibatkan berbagai aspek dasar perkembangan anak bawah dua tahun (baduta) seperti stimulasi sentuh, gerak, urut, pendengaran juga penglihatan.

Menurut Ina Rosalina Dadan, Direktur Pelayanan Kesehatan Tradisional, Kementerian Kesehatan RI, kegiatan pijat juga menguatkan bounding atau ikatan antara orang tua dan bayi. Selain itu, pijat juga akan memberikan sejumlah manfaat seperti menambah nafsu makan, anak jadi ceria, tidur lebih lelap, dan membantu relaksasi. Saat ditemui usai pijat massal di lingkungan Kemenkes, Ina memberikan beberapa hal yang patut menjadi perhatian orang tua terkait pijat bayi.

Fokus hanya pada anak. Hal pertama yang ditekankan Ina ialah orang tua mesti fokus pada anak. Mungkin orang tua sudah mempersiapkan tempat yang nyaman, alas pijat yang empuk serta kuku tangan yang pendek, tapi hal yang utama tetap niat orang tua. "Tentu tujuannya harus, saya mau ketemu anak saya. Saya memang mau menyentuh anak saya, jadi HP semua apapun yang mengganggu itu enggak ada dulu," jelas Ina saat ditemui di Auditorium Siwabessy, Gedung Kemenkes, Jakarta Selatan.

Ada komunikasi dengan anak. Sembari memijat, orang tua dapat mengajak anak bicara, bercerita atau menyanyi. Menurut Ina, meski anak belum bisa mendengarkan dengan baik, tapi hal ini mampu menguatkan ikatan dengan anak. Anak akan merasa dekat dengan orang tuanya.

Waktu terbaik. Waktu pijat juga perlu diperhatikan. Jangan sampai membangunkan anak hanya karena akan dipijat, memaksa anak untuk dipijat atau memaksakan posisi stimulasi pijatan tertentu. "Waktu terbaik adalah di mana bayinya sudah tidur nyenyak, bangun segar. Jangan habis makan, habis minum, jangan lagi rewel, atau sakit," tambah Ina.

Usia ideal. Pijat pada bayi dapat dimulai sejak bayi lahir. Namun, kata Ina, ibu-ibu kadang merasa takut dan memilih untuk memijat bayinya setelah tali pusar terputus secara alami atau puput. Pijat dilakukan hingga bayi berusia kirang dari dua tahun. Bayi berusia dua tahun ke atas bisa dibilang sudah cukup besar dan agak sulit dipijat.

Bagian tubuh yang tidak boleh dipijat. Orang tua perlu memperhatikan bagian-bagian tubuh yang tidak boleh dipijat karena efeknya berbahaya untuk anak. Pemijatan biasa dilakukan dengan minyak sehingga tidak boleh terlalu dekat dengan mata atau selaput lendir. Orang tua juga tidak boleh memijit pada bagian ubun-ubun. Ina mengingatkan, ubun-ubun bayi di bawah dua tahun belum terbentuk sempurna."Ulu hati juga tidak boleh, anak masih terlalu kecil, lalu bagian tulang belakang," tambahnya.

Pijat dengan minyak. Pijat disarankan menggunakan minyak yang tidak menimbulkan iritasi pada kulit bayi. Minyak seperti minyak kelapa atau baby oil yang biasa ditemui di pasaran, kata Ina, aman digunakan bagi bayi. Jangan menggunakan minyak telon. Pijatan melingkupi area wajah bayi, sehingga penggunaan minyak telon tidak tepat dan tidak sesuai dengan manfaat yang ingin didapat.

Dilakukan tiap hari. Jika pijat di tukang pijat atau baby spa memerlukan biaya, maka pijat di rumah sendiri tentu akan lebih murah. Selain itu, frekuensi pijat juga bisa lebih sering. Ina menyarankan, orang tua memijat bayinya setiap hari selama paling tidak 10-15 menit. "Kalau cuma seminggu sekali enggak ada gunanya. Nanti lihat bedanya, bayi yang sering dipijat ibunya sama yang tidak," ujarnya.

Populernya baby spa atau pijat untuk bayi banyak membuat orang tua sadar akan pentingnya pijat untuk tumbuh kembang anak. Baby spa dulu mungkin dipraktekkan oleh dukun bayi atau dukun pijat tradisional. Mereka dipercaya mengerti tubuh bayi dan bagian-bagian tubuh yang perlu dipijat. Kini, fasilitas pijat bayi banyak ditemui, bahkan memang disediakan oleh tenaga medis atau bidan. Namun, menurut Ina Rosalina Dadan, Direktur Pelayanan Kesehatan Tradisional, Kementerian Kesehatan RI, justru pijat sebaiknya dilakukan oleh orang tua bayi."Manfaatnya lebih pada (bonding) ikatan antara orangtua dan anak, ASI ibunya juga pasti akan banyak," ungkapnya.

Selain itu, kata Ina, pijat bagi bayi juga memperbaiki nafsu makan anak, buat anak tidak sulit tidur, juga menjadi lebih ceria. Ina mengingatkan, bukan berarti pijat jadi satu-satunya sarana, tapi juga mesti didukung dengan makanan yang baik dan imunisasi.

Pijat bayi memang menjadi salah satu cara untuk membantu tumbuh kembang anak. Menurutnya, orang tua perlu menyisihkan waktu setidaknya 10-15 menit untuk memijat bayinya. Sembari memijat, orang tua dapat mengajak bicara, menyanyi atau bercerita walau anak tidak mendengarkan. "Walaupun anak belum dengar, tetapi tetap dicari oleh anak, itu bonding yang sangat baik untuk tumbuh kembang anak," tambahnya.

BERITA TERKAIT

KOTA SUKABUMI - Tahun Ini, Kemungkinan Besar 10 Perda Tuntas dari 15 Raperda

KOTA SUKABUMI  Tahun Ini, Kemungkinan Besar 10 Perda Tuntas dari 15 Raperda NERACA Sukabumi - Dari target 15 Rancangan Peraturan…

Kepemimpinan Kolaboratif pada Masa Krisis

Oleh: Anil Dawan Keluhan Wapres Jusuf Kala mengenai manajemen krisis Pemda Palu yang lemah dan banyak digantikan oleh TNI mengindikasikan…

Manfaat Survei di Tahun Politik

  Oleh : Otjih Sewandarijatun, Alumnus Universitas Udayana Bali Hasil Survei LSI Denny JA dilakukan pada 14-22 September 2018 melalui…

BERITA LAINNYA DI KESEHATAN

Cara Tepat Melindungi Diri dari Polusi Udara

Polusi udara adalah salah satu faktor risiko terbesar untuk kesehatan manusia. Sederet penyakit diakibatkan oleh udara yang tercemar. Sebut saja…

Makanan Ini Mampu Turunkan Kadar Gula Darah

Diabetes merupakan salah satu gangguan kronis yang paling banyak diderita. Kadar gula darah yang tinggi dapat menyebabkan kerusakan organ tubuh…

Penyakit Kesehatan Jiwa dalam Perlindungan BPJS

Kesehatan jiwa masih dipandang sebelah mata. Masyarakat masih menganggap remeh dan mengabaikan penyakit ini. Akibatnya, mereka enggan memeriksakannya secara medis.…