2012, Target Mencapai Rp625 Miliar - Investasi di Kabupaten Cirebon

Cirebon - Realisasi investasi di Kabupaten Cirebon mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Kenaikan ini dipicu semakin banyaknya calon investor yang ingin menanamkan modalnya di Kabupaten Cirebon. Namun, investasi di bidang listrik, gas dan air bersih menjadi nilai realisasi yang cukup mencengangkan. Tercatat, tahun lalu realisasi investasi di bidang ini mencapai lebih dari Rp4 triliun. Nilai tersebut terdongkrak dari pembangunan PLTU Pangenan.

Kabid Promosi Investasi dan Penanaman Modal Badan Perizinan Pelayan Terpadu (BPPT) Kabupaten Cirebon, Adiman, mengatakan, realisasi investasi yang selalu meningkat adalah hal yang sangat wajar. Pasalnya, untuk Provinsi Jawa Barat, Kabupaten Cirebon menempati peringkat ke-5, dalam capaian minat investasi. Ini membuktikan, iklim investasi di Kabupaten Cirebon yang cukup kondusif. Di samping itu, selesainya RTRW Kabupaten Cirebon, menjadi pendorong para investor menanamkan modalnya di Kabupaten Cirebon.

“Banyak faktor sebetulnya, dan ini saling berkaitan. Di samping iklim investasi yang cukup kondusif, selesainya RTRW merupakan salah satu faktor terbukanya investasi di Kabupaten Cirebon. Para investor sekarang tidak ragu, karena RTRWnya sudah disahkan,” jelas Adiman.

Terkait tentang kurangnya minat investor untuk Penanaman Modal Asing (PMA), menurutnya bukan masalah. Hal itu disebabkan karena PMA yang sudah masuk di Kabupaten Cirebon sudah cukup banyak, dengan jumlah 31 perusahaan. Sementara itu Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) hanya berjumlah empat perusahaan.

Sedangkan untuk target investasi tahun ini, pihak BPPT mengaku mentargetkan Rp 625 miliar. Hal tersebut disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya akan dibangunnya ruas jalan tol Cirebon-Jakarta (CIKAPA). Hal tersebut dikombinasikan dengan disiapkannya zona industri yang meliputi Kecamatan Mundu, Asjap, Pangenan, losari serta Kecamatan Plumbon. Zona-zona industri tersebut, kabarnya harus menyediakan lahan sekitar 80 hektare.

“Yang paling repot adalah persiapan lahan, untuk zona industri. Masalahnya, lahan adalah milik warga dan bukan milik pemerintah daerah. Masalahnya tidak segampang membalikan telapak tangan. Ini salah satu resiko investasi,” tukas Adiman. (man)

BERITA TERKAIT

Duta Pertiwi Bidik Laba Bersih Rp 6 Miliar

NERACA Jakarta – Membaiknya harga batu bara, menjadi alasan bagi PT Duta Pertiwi Nusantara Tbk (DPNS) untuk mematok pertumbuhan bisnis…

Toyota Akan Gelontorkan Investasi Baru Untuk Mobil Listrik

Toyota melalui PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) siap menggelontorkan untuk pengembangan mobil listrik di dalam negeri, yang ditargetkan pemerintah…

BTN Salurkan Dana CSR Rp 1,5 Miliar Selama Ramadan

Komitmen PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk berbagi di bulan Ramadan diwujudkan dengan menggelontorkan dana tanggung jawab sosial perusahaan atau…

BERITA LAINNYA DI EKONOMI DAERAH

Pasca Libur Panjang, 92% Lebih PNS Kemenkop dan UKM Masuk Kerja

Pasca Libur Panjang, 92% Lebih PNS Kemenkop dan UKM Masuk Kerja NERACA Jakarta - Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM Meliadi…

Zakat Idul Fitri Warga Depok Bisa Capai Rp8,6 Miliar - Meski Kondisi Ekonomi Prihatin

Zakat Idul Fitri Warga Depok Bisa Capai Rp8,6 Miliar  Meski Kondisi Ekonomi Prihatin NERACA Depok - Asisten Bidang Pemerintah, Hukum…

Perum Damri Palembang Siagakan 75 Bus

Perum Damri Palembang Siagakan 75 Bus NERACA Palembang - Perusahaan Umum Damri Cabang Palembang, Sumatera Selatan, menyiagakan 75 bus untuk…