Suku Bunga Kredit Diprediksi Turun

NERACA

Jakarta - Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Achmad Baiquni memprediksi suku bunga kredit perseroan akan menurun pada 2018 mengingat biaya dana (cost of fund) yang kini lebih rendah. "Kami prediksi sedikit lebih menurun karena sekarang memang 'cost of fund' turun dan inflasi rendah," ujar Baiquni saat ditemui di sela-sela acara Ramah Tamah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Jakarta, Selasa (2/1).

Kendati suku bunga kredit diproyeksikan menurun, Baiquni tidak menyebutkan seberapa besar persentase penurunannya. Ia menyebutkan, kondisi perekonomian domestik dan juga rencana kenaikan suku bunga acuan (Fed Fund Rate/FFR) oleh bank sentral AS The Fed akan memengaruhi penentuan suku bunga kredit. "Situasional juga. Kita belum tahu. Begitu Fed naikkan, kita lihat bagaimana dampaknya," kata Baiquni.

Menurut Baiquni, kenaikan FFR akan memengaruhi perekonomian terutama negara-negara berkembang termasuk Indonesia dan perlu menjadi perhatian. Namun, apabila tren pertumbuhan ekonomi Indonesia terus positif dan juga iklim usaha semakin kondusif, maka bisa saja dampak kenaikan FFR dapat diredam sehingga bank tidak perlu meningkatkan suku bunga kredit.

Selain itu, pihaknya juga masih menunggu respon Bank Indonesia terhadap rencana kenaikan FFR tersebut. "Sebenarnya kalau itu kita lihat juga ya, kan kita sudah berapa kali, waktu ada FFR naik justru kita bisa tahan. Mudah-mudahan dengan kondisi dalam negeri yang kondusif, itu bisa meredam kenaikan FFR. Kita tunggu BI juga bagaimana BI rate nanti," ujar Baiquni.

Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) BNI untuk kredit korporasi mencapai 9,95 persen, kredit ritel 9,95 persen, dan kredit konsumsi yaitu kredit KPR 10,5 persen dan kredit non KPR 12,5 persen. SBDK tersebut belum memperhitungkan komponen premi risiko yang besarnya tergantung dari penilaian bank terhadap risiko masing-masing debitur, berupa kondisi keuangan debitur, jangka waktu kredit, prospek usaha yang dibiayai, dan lain-lain. Dengan demikian, besarnya suku bunga kredit yang dikenakan kepada debitur belum tentu sama dengan SBDK.

Suku bunga kredit perbankan hingga akhir 2017 masih di atas 10 persen atau 'double digit'. Berdasarkan data uang beredar BI per Oktober 2017 bunga kredit secara rata-rata masih di kisaran 11,55 persen, turun tipis dibandingkan bunga kredit padaawal tahun 12,03 persen. Sejumlah bankir menyebut penurunan suku bunga kredit tahun depan akan semakin terbatas. Ini seiring dengan proyeksi kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat (The Fed). Salah satunya, Parwati Surjaudaja, Presiden Direktur Bank OCBC NISP yang memproyeksi, tahun depan penurunan bunga kredit akan semakin terbatas. “Dengan adanya kenaikan suku bunga The Fed,” kata Parwati, seperti dikutip Kontan.

Menurut Jahja Setiaatmadja, Direktur Utama BCA, ada dua faktor yang mempengaruhi suku bunga kredit tahun depan. Pertama adalah suku bunga The Fed dan progres infrastruktur. "Dua faktor tersebut bisa menyebabkan bunga naik, tapi tidak signifikan," kata Jahja. Iman Nugroho Soeko, Direktur Keuangan dan Treasury BTN bilang, bank sudah mengantisipasi risiko suku bunga pada tahun depan. "Kami sudah melakukan stress test kenaikan atau penurunan suku bunga dalam tiga bulan ke depan," katanya.

Jika 7DRR rate naik atau turun tahun depan, maka bunga deposito akan menyesuaikan dan akan diikuti dengan bunga kredit yang setara. Sebagai lembaga intermediasi, bank akan berusaha menjaga margin bunga bersih atau NIM sesuai target. Sebagai gambaran, BTN memperkirakan kenaikan suku bunga acuan BI tahun depan sebesar 50 bps. Sampai Oktober 2017, suku bunga kredit perbankan masih 11,55% atau turun 5 bps secara tahunan atau year on year (yoy).

BERITA TERKAIT

China Diprediksi Akan Lewati AS Sebagai Pasar Otomotif Terbesar

China diproyeksikan akan melewati Amerika Serikat (AS) sebagai pasar otomotif terbesar dunia pada 2022, menurut Chief Executive Officer Nissan Motor…

Bank Banten Diharapkan Ekspansif Kucurkan Kredit

    NERACA   Banten - Gubernur Banten Wahidin Halim meminta kepada pengelola Bank Banten agar membantu permodalan seluruh sektor…

Defisit Transaksi Berjalan Turun

  NERACA Jakarta - Bank Indonesia mencatat defisit transaksi berjalan sepanjang 2017 sebesar 17,3 miliar dolar AS yang berarti 1,7…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

OJK Sebut Bumiputera Dalam Kondisi Normal - Dari Sisi Bisnis dan Pendanaan

  NERACA Jakarta - Para pemegang polis dan mitra kerja Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912 kini bisa bernafas lega…

Kementerian PUPR Segera Teken MoU dengan BTN terkait KPR FLPP

  NERACA Jakarta - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Direktorat Jenderal Pembiayaan Perumahan memastikan bahwa PT Bank…

BNI Sosialisasikan BNI Yap di Java Jazz

  NERACA Jakarta - Untuk memanjakan para penggemar musik jazz Indonesia serta menyosialisasikan alat pembayaran baru pada pagelaran musik Jakarta…