Melihat Keindahan Masjid Raya Baiturrahman Aceh - 13 Tahun Pasca Bencana Tsunami

Tiga belas tahun sudah berlalu pasca bencana besar yang menewaskan puluhan ribu orang dalam tragedi tsunami di Banda Aceh pada 26 Desember 2004. Bayang-bayang masa lalu tentang rasa ngeri kejadiaan nahas tersebut terkadang masih menghantui para korban yang selamat. Namun dengan tekad untuk bangkit dan berdiri tegak, masyarakat Aceh perlahan mulai menata kembali kehidupan mereka.

Aceh sekarang banyak mengalami perubahan dari sisi sosial maupun infrastruktur. Salah satu perubahan yang menjadi tanda kebangkitan dan ikon kota sejak 1870-an adalah Masjid Raya Baiturrahman. Masjid yang selamat dari hantaman gelombang raksasa pascagempa di dasar laut barat daya Sumatera. Setelah 13 tahun bencana yang ditetapkan PBB sebagai bencana kemanusiaan terbesar itu Masjid Raya Baiturrahman terus dipersolek. Kini, masjid yang berlokasi di pusat Kota Banda Aceh tersebut tampil dengan wajah baru yang lebih indah bak Masjid Nabawi di Madinah, Arab Saudi.

Serupa masjid di kota suci tersebut, di halaman masjid raya Baiturrahman pun terdapat payung-payung elektrik raksasa yang akan memberi keteduhan bagi jemaah saat hujan maupun dari terik matahari.

Payung-payung elektrik menggantikan hamparan rumput hijau yang dulu tumbuh di pekarangan masjid. Selain itu, ada juga kolam berbentuk persegi panjang di depan masjid menambah nuansa segar dan sejuk. Baiturrahman baru selesai direnovasi dan diresmikan Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla pada 13 Mei 2017. Proses pengembangan lanskap dan infrastruktur masjid telah dimulai sejak 2015.

Biaya Renovasi Sekitar Rp458 Miliar

Renovasi pasca tsunami menambahkan keindahan masjid dari segi wisata religi. Biaya renovasi untuk mempersolek masjid ini adalah sekitar Rp458 miliar. Sebagai salah satu bangunan yang kokoh kala tsunami menerjang, Baiturrahman menjadi ikon sekaligus tujuan wisata di Banda Aceh. Apalagi, setelah kini bersolek.

Banyak warga khususnya umat muslim berkunjung ke sana untuk beribadah dan mengabadikan diri lewat satu-dua jepret foto. Pada 2016, masjid ini menyabet predikat daya tarik wisata terbaik dalam kompetisi wisata halal nasional dan kompetisi wisata hala dunia yang diadakan di Abu Dhabi.

Buka Alas Kaki untuk Hormati Masjid Sebagai Tempat Bersujud

Para pelancong wisata religi atau jemaat yang hendak mengunjungi masjid dengan berjalan kaki bisa masuk lewat pintu Barat atau Timur. Namun, sebelum melangkah ke teras masjid, para pengunjung harus melepas alas kaki dari gerbang. Itu dilakukan untuk menjaga kesucian, serta menjaga kebersihan lantai masjid sebagai tempat bersujud kala salat. Bagi anda yang membawa kendaraan, terutama roda empat untuk berkunjung ke masjid ini, bisa memarkirnya di area sekitar atau di tempat parkir khusus di bawah tanah (basement).

Tempat parkir di basement itu merupakan salah satu pembaharuan yang dilakukan pada Masjid Raya Baiturrahman pascatsunami. Di area parkir bawah tanah yang dapat menampung puluhan mobil itu juga terdapat area drop-off, sehingga pengunjung bisa langsung turun dan masuk ke lobi masjid dari lantai bawah.

Menuju area tempat wudhu, para pengunjung yang baru pertama kali ke sana akan terkesima dengan lorong bawah tanah berlantaikan marmer dengan cahaya lampu kuning. Demikian juga di area tempat wudhu yang lantai maupun dindingnya terbuat dari batu marmer. Menuju lantai atas untuk masuk ke dalam masjid dari lantai bawah, pengunjung harus berhati-hati karena mesti menggunakan ekskalator tanpa alas kaki.

Kilas Sejarah Masjid Baiturrahman

Masjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh memiliki sejarah yang panjang. Selain tsunami, masjid ini menjadi saksi bisu atas berbagai peristiwa penting yang pernah terjadi di Aceh. Dalam perjalanannya, masjid kebanggaan masyarakat Serambi Mekah ini telah mengalami beberapa kali perluasan dan pemugaran.

'Kitab kerajaan mengatakan bahwa masjid pertama kali dibangun dari kayu pada tahun 1621 di bawah kepemimpinan Sultan Iskandar Muda. Beberapa orang mengatakan masjid ini bahkan dibangun lebih awal pada tahun 1292 oleh Sultan Alaidin Mahmudsyah,' demikian sekilas sejarah masjid yang dinukil dari situs pariwisata Pesona Indonesia.

Masjid ini pernah dihancurkan ketika Perang Aceh pada 1873. Akan tetapi, Mayor Jenderal Vander yang bertugas sebagai Jenderal Militer pada saat itu, menyadari nilai dan kepentingannya pada masyarakat Aceh sehingga membangunya kembali pada 1879. Kini, Masjid Agung Baiturrahman terletak di pusat kota Banda Aceh itu mudah ditemukan dari jauh karena ditandai menara setinggi 35 m, 7 kubah besar dan 7 menara masjid.

BERITA TERKAIT

Riak-Riak Permasalahan Pasca Pilkada 2018

  Oleh : Wulandari Dewi Setyaningsih, Pemerhati Sosial Politik              Setelah “berhasil” dilaksanakan tanggal 27 Juni 2018 yang lalu,…

Ikhtiar Melihat Indonesia-Tiongkok Secara Benar

Oleh: Edy M Yakub Melihat dan mendengar adalah dua kata yang berbeda dan perbedaan keduanya juga mengandung makna yang sangat…

PKL di Jalan Singosari Raya

Semakin banyaknya PKL yang mulai menjamur di Jalan Singosari raya, Semarang, mohon ditertibkan karena sangat mengganggu dan mengotori lingkungan yang…

BERITA LAINNYA DI WISATA INDONESIA

Kemenpar Luncurkan Diskon dan Lomba Jelang Asian Games 2018

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya meluncurkan Voting Atlet Favorit dan Lomba Video Pesona Asian Games 2018 di lobby utama Gedung…

Menjelajahi Alam Papua Barat

Provinsi Papua Barat menjadi daerah yang memiliki hutan tropis terluas di Indonesia, bahkan diperkirakan menjadi yang terluas di dunia. Belum…

Kota Bunga Tomohon Gelar Festival Seru di Bulan Agustus

Tomohon International Flower Festival (TIFF) kembali digelar di kota Tomohon, Sulawesi Utara, mulai 8-12 Agustus 2018. TIFF 2018 mengangkat tema…