Pemerintah Belum Rekomendasikan Persalinan Alternatif

Dalam beberapa tahun belakangan banyak ibu hamil yang mulai berpikir untuk menggunakan metode persalinan alternatif demi mengurangi rasa sakit dan juga ketegangan. Dua metode persalinan alternatif yang populer antara lain water birth dan lotus birth. Meski jadi tren, Eni Gustina, Direktur Kesehatan Keluarga Kemenkes RI menegaskan, alternative birthing belum direkomendasikan.

Water birth merupakan proses melahirkan di dalam air. Water birth dianggap dapat mengurangi rasa sakit saat persalinan. Saat melakukan water birth, ibu akan berendam di dalam bak air hangat. Sekilas mungkin terlihat nyaman dan membantu mengurangi ketegangan. Hanya saja, kata Eni, dalam proses persalinan ini dikhawatirkan bayi bisa terkena infeksi."Kemenkes belum merekomendasikan, siapa yang akan menjamin air yang digunakan itu steril?" kata Eni di Jakarta.

Sedangkan lotus birth, tali pusar bayi tidak dipotong hingga ia terputus secara alami dengan plasentanya. Proses ini dianggap lebih alami. Namun, Eni tetap mengkhawatirkan adanya infeksi yang mungkin terjadi pada bayi.

Senada dengan Eni, dokter spesialis kandungan Ali Sungkar mengungkapkan, di dunia, dari sekian juta proses persalinan ada sekitar 5.000 - 7.000 orang mempraktikkan proses persalinan alternatif."Alternative birthing ini enggak diajarkan di sekolah kedokteran. Selain itu, ada kasus bayi meninggal karena tenggelam atau drowning," kata Ali.

Menurutnya, selain soal jaminan kesterilan air, perlu juga diperhatikan suhu dan baroreseptor atau tekanan air. Namun, praktik alternative birthing ini tetap dianggap tak sesakit melahirkan secara normal. Tak dimungkiri, jelang persalinan, ibu akan merasakan ketakutan dan ketegangan akan rasa sakit yang mungkin dialami.

Selain ketakutan saat proses persalinan, ketakutan lain juga melanda ibu-ibu saat hamil termasuk takut anak lahir tak lengkap, kesehatan janin terganggu atau anak terkena penyakit tertentu. Ali pun berkata dirinya juga kerap berhadapan dengan pasien yang memiliki rasa takut.

"Kalau penyakit ada obatnya, tapi kalau takut enggak ada. Ya kalau takut, kita edukasi. Apa ketakutannya. Lalu dijelaskan. Misalnya takut anak sakit hepatitis, ibu pun ditanya, apa punya hepatitis? Kalau tidak punya, kenapa takut," ujarnya.

Di sisi lain, jumlah kasus kematian ibu saat hamil dan melahirkan di Indonesia masih terbilang memprihatinkan. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kemenkes RI pada 2016 mencatat ada 100 ribu bayi yang lahir hidup, ada 305 orang ibu yang meninggal.

Dokter spesialis kandungan, Ali Sungkar menuturkan fertility rate atau angka kelahiran di Indonesia sebesar 2 persen. Sedangkan penduduk Indonesia berjumlah 250juta, maka ada sekitar 5 juta kelahiran setiap tahunnya. "Kita hitung saja, Riskesdas (ada) 305 ibu meninggal per 100 ribu (kelahiran), kita kalikan 5 juta, ada 13.500 ibu meninggal per tahun. Kita bagi lagi, ada sekitar 300 ibu meninggal tiap minggunya. Apa kita tidak mau peduli?" ujar Ali.

Eni Gustina, Direktur Kesehatan Keluarga, Kemenkes RI menambahkan, ada tiga penyebab utama kematian ibu yakni preeklamsia, pendarahan dan infeksi. Preeklamsia bisa berupa tekanan darah tinggi atau hipertensi, kejang serta edema atau penumpukan cairan dalam jaringan. Infeksi dan pendarahan bisa terjadi saat proses kelahiran di mana proses kelahiran tidak dijaga kebersihannya atau tenaga yang membantu melahirkan kurang terlatih.

Eni mengungkapkan bahwa di zaman sekarang ini, masih ada orang yang melahirkan dengan bantuan dukun bayi."Praktik melahirkan dengan dukun jauh berkurang tapi memang masih ada. Pemerintah ada strategi kemitraan antara bidan dengan dukun bayi," jelas Eni.

Kemitraan yang dimaksud Eni adalah kerjasama antara bidan dan dukun bayi saat melayani persalinan. Bidan, lanjut Eni, akan mendampingi dukun bayi saat proses persalinan. Di sini dukun bayi wajib melapor pada bidan saat akan membantu proses persalinan. Kemitraan bersifat setara, artinya bidan punya ilmu sedangkan dukun bayi punya kepercayaan dari masyarakat. Kerja sama ini diharapkan mampu mengurangi angka kematian ibu.

BERITA TERKAIT

BNI Belum Putuskan Soal Kerjasama WeChat dan Alipay

    NERACA   Jakarta - PT Bank Negara Indonesia (BNI) masih belum menentukan keberlanjutan kerja sama dengan dua perusahaan…

Waspadai Upaya KKB Ganggu Kinerja Pemerintah di Papua

  Oleh:  Aditya Pratama, Mahasiswa Universitas Indonesia Keberadaan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) diperkirakan akan menjadi  penghambat bagi pembangunan di wilayah…

Petani Minta Pemerintah Serap Produk Hortikultura Strategis

NERACA Jakarta – Serikat Petani Indonesia (SPI) meminta pemerintah menyerap produk hortikultura strategis seperti cabai agar petani tidak lagi terbebani…

BERITA LAINNYA DI KESEHATAN

Menurunkan Tekanan Darah Tanpa Obat

Darah tinggi atau hipertensi adalah salah satu penyakit yang sering membunuh penderitanya diam-diam. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan, sekitar…

Penyebab Utama Terjadinya Cegukan Usai Makan Besar

Salah satu hal yang tak menyenangkan usai makan adalah cegukan. Satu menit pertama Anda bisa bernapas normal, tapi di menit…

Panduan Penggunaan Susu Evaporasi dan Kondensasi

Jika Anda gemar memasak, tentu Anda tak asing lagi dengan produk susu olahan seperti susu evaporasi dan kondensasi. Kedua jenis…