Rekreasi Ala Bangsawan Tempo Dahulu

Neraca. Kadang terbetik dibenak sebagian orang, seperti apa para bangsawan kerajaan meluangkan waktu berekreasi. Dalam suasana tatanan primodial yang kuat dalam budaya kerajaan, berekreasi bagi para bangsawan tentu saja menarik untuk kita ulas. Pada masa itu tempat wisata yang masih asri tentu sangat fantastis, sementara bagi masyarakat umum, sangat jarang yang melakukan perjalanan pariwisata.

Objek Wisata Zaman Kerajaan Di Indonesia pada umumnya merupakan hasil karya dari banyak raja-raja pada masa lampau yang membangun berbagai sarana untuk keperluan yang bersifat rekreatif maupun sebagai tempat-tempat perisrirahatan mereka.

Pada abad ke-5 Masehi, Raja Tarumanegara membuat sebuah Kanal yang digunakan untuk keperluan pengairan, transportasi, dan juga rekreasi. Adapun objek wisata yang sering dikunjungi oleh para raja dan keluarganya antara lain, Taman Narmada, lokasi ini merupakan tempat peristirahatan raja-raja dari kerajaan Bali yang membangun Taman di daerah Pulau Lombok untuk melepas kepenatan sesaat dari rutinitas di kerajaan.

Di dalam taman-taman itu terdapat beberapa peralatan yang biasa digunakan untuk menghibur raja-raja. Berbeda dengan taman-taman lainnya di Nusa Tenggara Barat, Taman Narmada dibangun sebagai tempat peribadatan dan ritual para raja.

Narmada adalah sebuah taman yang dibangun oleh Raja Anak Agung Gde Ngurah Karangasem tepatnya pada tahun 1727 M. Sebagian buku sejarah menyatakan waktu pendiriannya pada tahun 1805 M.

Nama taman ini diambil dari sebuah Sungai suci di India, Sungai Narmada. Taman ini menyerupai Gunung Rinjani dan Danau Segara Anak. Konon, ketika Sang Raja sudah terlalu tua untuk melakukan ritual kurban (pekelan) ke puncak Gunung Rinjani yang memiliki ketinggian 3.726 meter, beliau memerintahkan seluruh arsitek kerajaan untuk membawa nuansa Gunung Rinjani ke tengah pusat kota.

Akhirnya mereka bersepakat untuk membuat duplikatnya yaitu Taman Narmada. Pada masa lalu, selain sebagai tempat khusus untuk memuja Dewa Shiwa, Taman Narmada juga diperuntukkan sebagai tempat peristirahatan raja.

Objek wisata lainya adalah Kolam Segaran, yang berlokasi di Trowulan, dekat Mojokerto, Jawa Timur, yang dibangun pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit, yang berfungsi untuk keperluan rekreasi, disamping itu juga untuk persediaan air di musim kemarau.

Selain itu lokasi lainya adalah Tasik Ardi di Banten Lama, yang dibangun oleh Maulana Jusuf pada abad ke 16 Masehi, untuk keperluan irigasi, persediaan air minum bagi Keraton Surosowan, dan untuk keperluan rekreasi.

Pada zaman sejarah kerajaan juga terkenal objek wisata Bledug Kuwu, yaitu sebuah fenomena kawah lumpur (mud volcanoes) yang sudah terjadi jauh sebelum jaman Kerajaan Mataram Kuno (732 M—928 M). Bledug Kuwu merupakan salah satu obyek wisata andalan di Kabupaten Grobogan, selain sumber api abadi Mrapen, dan Waduk Kedungombo.

Secara etimologi, nama bledug kuwu berasal dari bahasa Jawa, yaitu ‘bledug‘ yang berarti ledakan/meledak dan ‘kuwu‘ yang diserap dari kata ‘kuwur‘ yang berarti lari/kabur/berhamburan.

Sebenarnya pada waktu itu tempat wisata sangat terbatas sekali, sehingga waktu itu kerajaan-kerajaan yang berkuasa membangun tempat wisata untuk para keluarga istana yang sanagt jarang dibuka untuk umum.

Pada zaman sejarah kerajaan tempat-tempat yang dibangun kebanyakan berupa tempat-tempat ibadah, makam maupun taman. Selain itu raja-raja dimasa itu banyak melakukan perjalaan wisata berupa berburu hewan kehutan yang dilakukan beberapa hari dan lokasi hutan yang sangat jauh.

Selain itu banyak raja yang melakukan perjalanan wisata dengan cara berkunjung ke kerajaan tetangga mereka, dengan memakai kuda maupun kereta kuda.

Perjalanan wisata yang dilakukan oleh para masyarakat kerajaan pada waktu itu kebanyakan berupa perjalanan wisata religius, maksudnya orang-orang pada waktu itu banyak melakukan perjalanan wisata ke makam-makam keluarga kerajan yang mereka anggap sebagai junjungan atau leluhur mereka.

Selain itu mereka berwisata ke tempat-tempat ibadah yang dianggap suci. Dan ada perjalanan wisata lainnya yakni para pedagang yang berdagang ke luar dari daerah mereka untuk berdagang, biasanya mereka mengunjungi kerajaan-kerajaan lainnya sekaligus melakukan kegiatan wisata dengan cara mengunjungi tempat-tempat terkenal didaerah tersebut.

BERITA TERKAIT

Lunasi Obligasi Jatuh Tempo - Eximbank Siapkan Dana Rp 1,65 Triliun

NERACA Jakarta - Lembaga Pembiayaan Eskpor Indonesia (LPEI)a atau Indonesia Eximbank menyatakan telah menyiapkan dana sejumlah Rp1,65 triliun guna membayar…

Berkoperasi Syariah ala Muhammadiyah

Oleh : Agus Yuliawan Pemerhati Ekonomi Syariah Seiring dengan perkembangan ekonomi syariah yang ada di tanah air, keberadaan lembaga keuangan…

S&P Pangkas Rating - LPKR Tegaskan Bayar Utang Jatuh Tempo

NERACA Jakarta  -Emiten properti, PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) menyakinkan kepada para pemegang saham bila perusahaan mampu memenuhi semua kewajiban…

BERITA LAINNYA DI WISATA INDONESIA

Pemprov Banten Sebut Kawasan Anyer Sudah Aman Dikunjungi

Pemerintah Provinsi Banten melalui Dinas Pariwisata menyatakan bahwa kawasan wisata di Pantai Anyer dan sekitarnya telah aman dikunjungi pasca tsunami…

Ini Tantangan Baru Industri Pariwisata di Indonesia

Salah satu usaha mendatangkan 20 juta wisatawan mancanegara (wisman) pada tahun depan, Kementerian Pariwisata akan lebih fokus menggarap segmen pasar…

Likuefaksi di Palu Bakal Dijadikan Tempat Wisata

Salah seorang anggota DPRD Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), Matindas J Rumambi mengatakan semua lokasi likuefaksi di Kota Palu dan Kabupaten…