Genjot Kredit Mikro Hingga Rp5 T - Target Bukopin Pada 2012

NERACA

Jakarta---- PT Bank Bukopin Tbk (BBKP) mengaku tengah menyiapkan strategi guna meningkatkan penetrasi kredit mikronya melalui linkage program. Karena itu, perseroan berupaya melakukan kerja sama baru dengan sejumlah Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah untuk "Kita sedang melakukan pendekatan dengan Pemerintah daerah masing-masing untuk melihat kebutuhannya," kata Direktur Keuangan dan Perencanaan Bukopin, Tri Joko Prihanto kepada wartawan di Jakarta,1/2

Menurut Tri, outstanding kredit mikro perseroan hingga akhir 2011 baru mencapai sekira Rp2,5 triliun. Oleh karena itu pihaknya berharap posisi ini dapat lebih meningkatkan outstanding kredit mikro hingga menjadi Rp4 triliun-Rp5 triliun di 2012.

Lebih jauh kata Tri, Bank Bukopin memiliki strategi pendekatan channeling untuk menggarap pasar mikro yaitu dengan mengadakan program swamitra kepada sekira 620 mitra, memberikan kredit kepada koperasi, dan BPR. "Pertumbuhannya itu bisa 100% lebih karena sifatnya yang kecil-kecil, itu karena margin dan sesuai cost-nya. Kalau membangun outlet kan mahal, bisa Rp2 miliar-Rp3 miliar untuk satu ruko," tambahnya

Tri menambahkan, untuk kredit mikro ini margin atau suku bunga setahun mencapai sekitar 20% sampai 22%, di mana dari suku bunga itu 4% di antaranya akan diberikan kepada BPR. Untuk channeling, perseroan membidik pegawai daerah dan swasta. "Jadi chenneling spesifik produk untuk membeli rumah, motor, berdagang. Kita tidak biayai dealernya tapi nasabah BPR," imbuhnya

Menyinggung soal pertumbuhan kredit, Tri mengaku Bank Bukopin mencatat pertumbuhan kredit hingga akhir Desember 2011 mencapai sekira Rp38 triliun (unaudited), tumbuh sekitar 25% dibandingkan posisi Desember 2010.

Dikatakan Tri, dari segmen kreditnya, kredit Usaha Kecil dan Menengah yang mengambil porsi 60% dari total kredit tumbuh di atas 25%, kemudian kredit komersial yang mengambil porsi 30% dari total kredit tumbuh sekitar 25% dan kredit konsumer yang mengambil porsi 10% dari total kredit tumbuh sekira 20%.

Untuk kredit konsumer sendiri, lanjut Tri lagi, lebih banyak disalurkan untuk Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan lainnya. Namun tetap focus ke UKM. "Core kami adalah UKM dan mikro. Kami tetap fokus kesana. Akhir tahun 2011 memang komersial porsinya naik dari 30% menjadi 35% Itu lebih karena ada proyek jangka pendek yang pasarnya jelas dan bagus," ungkapnya

Selain itu, Tri juga mengungkapkan aset perseroan tumbuh di atas 15%, dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 12%-16%, rasio kredit terhadap DPK mencapai sekira 85%, dan rasio kredit bermasalah dikisaran 2,6%-2,9%. Untuk tahun ini, kata dia, perseroan menargetkan kredit dikisaran 15%-20%. "Laba 2011 bisa di atas rata-rata industri lah. Untuk kredit di 2012, sebenarnya kita ikuti industri di kisaran 15%-20%," pungkasnya. **cahyo

BERITA TERKAIT

Sukuk Mikro di LKMS

Oleh: Agus Yuliawan Pemerhati Ekonomi Syariah Penerbitan sukuk atau surat berharga syariah diyakini mampu memberikan kemudahan untuk memperoleh dana murah…

Kebijakan Harus Fokus Pada Capaian Ketahanan Pangan

  NERACA Jakarta – Berbagai program terkait kebijakan pangan sudah disampaikan oleh dua pasang calon presiden dan calon wakil presiden,…

Optimalkan Pasar Dalam Negeri - ULTJ Pasang Konservatif Target Ekspor

NERACA Jakarta –Kejar pertumbuhan penjualan lebih besar lagi, PT Ultra Jaya Milk Industry Tbk (ULTJ) akan mengoptimalkan pasar dalam negeri…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

OJK Jalin Kerjasama dengan Kemendagri dan PPATK - Cegah dan Berantas Pencucian Uang

  NERACA   Jakarta - Guna mencegah dan memberantas tindak pidana pencucian uang di Industri Jasa Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan…

Gubernur BI Rombak 18 Pejabat

    NERACA   Jakarta - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, Senin, melantik 18 pejabat baru BI, di antaranya…

BPR Diminta Konsolidasi Untuk Perkuat Modal

    NERACA   Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta bank perkreditan rakyat (BPR) yang tidak bisa memenuhi syarat…