Alternatif Transportasi Kota-kota Besar di Jawa

Oleh Agus S. Soerono

Angin segar itu datang dari Balai Sidang Universitas Indonesia di Depok. Dalam seminar Nasional Perkeretaapian yang berlangsung di Balai Sidang Universitas Indonesia (UI), Depok, Jawa Barat, Rabu, 25/1, Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono melontarkan gagasan untuk membangun kereta api peluru (shinkansen) dari Jakarta ke Surabaya dan sebaliknya.

Tentu gagasan baru ini akan mengundang pro-kontra di masyarakat. Bagi yang setuju, tentu gagasan ini merupakan alternatif baru bagi upaya mengatasi blunder jalur transportasi yang ada di antara dua kota besar di Pulau Jawa: Jakarta dan Surabaya.

Kalau melihat keadaan transportasi darat sampai 2030, ahli transportasi memperkirakan bahwa kondisi lalu lintas jalan di Pulau Jawa akan stagnasi kalau melihat pertambahan jalan dan jembatan yang linier, sedangkan jumlah kendaraan yang meningkat secara eksponensial.

Untuk mengatasi hal itulah agaknya Kemenhub mencari jalan alternatif guna mengatasi kemacetan lalu lintas dengan membangun lintasan kereta peluru di antara kota besar di pantai utara pulau Jawa, seperti Jakarta, Karawang, Indramayu, Cirebon, Semarang, Purwodadi, Cepu, Bojonegoro, Lamongan dan Surabaya.

Beban arus lalu lintas terasa sangat padat, terutama pada saat musim mudik. Meskipun juga tidak realistis untuk mengukur kepadatan lalu lintas saat mudik Lebaran sebagai patokan untuk membangun instruktur.

Meskipun masih cukup lama untuk mewujudkannya, Indonesia akan mempunyai alternatif angkutan cepat jarak jauh Jakarta-Surabaya. Jarak antara kedua kota itu yang sekitar 700 km, yang biasanya harus ditempuh selama delapan sampai sepuluh jam, akan dapat ditempuh dalam waktu hanya kurang dari tiga jam.

Bagaimana caranya? Menurut Bambang, caranya adalah dengan membangun jalur ‘kereta peluru’ (shinkansen) di antara kedua kota tersebut, termasuk membangun sembilan stasiun perhentian di antaranya.

Dengan kecepatan kereta api peluru Shinkansen yang di Jepang bisa mencapai kecepatan 300km-600 km per jam, maka jarak Jakarta-Surabaya bisa ditempuh dalam waktu hanya 2,5 jam.

Kereta api peluru yang kelak akan diberi nama Argo Cahaya, kini sudah dilakukan studi awalnya (preliminary studypreliminary study). Pengembangan kereta api peluru ini diperkirakan akan menelan dana investasi Rp 150 triliun sampai Rp 180 triliun.

Dengan adanya kereta api peluru ini akan menjadi sebagian dari kunci jawaban bagi penanganan arus lalu lintas di Pulau Jawa, yang kalau tidak dilakukan terobosan sejak sekarang, akan terjadi stagnasi lalu yang luar biasa pada 2030.

Selain itu, dengan adanya kereta api peluru ini, akan membantu mengurangi kepadatan lalu lintas pada saat mudik Lebaran, yang menjadi ritual tahunan yang menyita banyak tenaga waktu dan pikiran untuk mengatasinya. Dengan rencana adanya kereta peluru itu, akan semakin melengkapi moda transportasi yang ada, yaitu kendaraan pribadi, kendaraan umum (bus, kereta api), transportasi laut, dan udara.

BERITA TERKAIT

KPK Soroti Perizinan Kota Serang dan Cilegon

KPK Soroti Perizinan Kota Serang dan Cilegon NERACA Serang - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melalui Tim Kordinasi Supervisi dan Pencegahan…

Pemkot Tangerang Gandeng BPPT Selesaikan Masalah Kota

Pemkot Tangerang Gandeng BPPT Selesaikan Masalah Kota NERACA Tangerang - Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang menggandeng Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi…

KOTA SUKABUMI - Baru Sebulan Berjalan, 80 Persen WP Sudah Gunakan Pantas

KOTA SUKABUMI Baru Sebulan Berjalan, 80 Persen WP Sudah Gunakan Pantas NERACA Sukabumi - Meskipun baru sebulan lalu Pemerintah Kota…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Babak Baru Bisnis e-Commerce

Tercatat beberapa layanan tambah saldo uang elektronik "e-commerce" sudah dihentikan karena sedang menyelesaikan perizinan dari BI. Produk uang elektronik itu,…

UU Perlindungan Konsumen Perlu Direvisi

Ketua Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) Ardiansyah Parman mengatakan perlu ada revisi Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen…

Harus Hati-Hati Atur Pajak e-Commerce

Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) Yustinus Prastowo menilai pemerintah harus hati-hati mengatur pajak atas perdagangan elektronik (e-commerce)…