Rupiah Terapresiasi 0,24% Terhadap Dolar

NERACA

Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan nilai mata uang rupiah terapresiasi sebesar 0,24 persen terhadap dolar Amerika Serikat pada November 2017 dengan nilai tukar sebesar Rp13.490,31 per dolar AS. "Selama minggu kelima November 2017, level nilai tukar rupiah regional tertinggi di Provinsi Papua yang mencapai Rp133.322,10 per dolar AS," kata Kepala BPS Suhariyanto di Jakarta, Jumat.

Suhariyanto juga memaparkan, rupiah juga terapresiasi 2,15 persen terhadap dolar Australia pada November 2017 dengan nilai tukar sebesar Rp10.249,89 per dolar Australia. Sebaliknya, mata uang rupiah pada periode yang sama terdepresiasi 1,27 persen terhadap yen Jepang, dan 0,33 persen terhadap mata uang euro.

Sebelumnya diwartakan, kebijakan suku bunga nasional mendatang dinilai sangat dipengaruhi nilai penguatan mata uang dolar Amerika Serikat yang juga dipengaruhi kebijakan yang dikeluarkan oleh "The Federal Reserve" atau bank sentral AS. "DBS Group Research memprediksi Bank Indonesia akan mulai menaikkan suku bunga di kuartal IV tahun 2018," kata Ekonom DBS Group Research Gundy Cahyadi.

Menurut dia, diperkirakan tingkat kenaikannya akan kembali menjadi sekitar lima persen pada pertengahan tahun 2019, mengingat antisipasi penguatan mata uang dolar AS yang akan membutuhkan suku bunga domestik lebih tinggi. Research Analyst FXTM Lukman Otunuga menyatakan pasar finansial menyoroti kebijakan Bank Indonesia yang tetap mempertahankan tingkat suku bunga acuan dengan berada di level 4,25 persen. "Reaksi pasar finansial Indonesia relatif tidak bersemangat setelah Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di level 4,25 persen," kata Lukman Otunuga.

Menurut dia, pilihan tersebut terkait dengan upaya BI yang berusaha mempertahankan stabilitas finansial menjelang keputusan tingkat suku bunga Amerika Serikat yang diprediksi bakal meningkat pada bulan Desember 2017. Poin penting dari rapat yang telah digelar BI adalah terkait dengan revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi 2017 menjadi 5,1 persen. "Konsumsi Indonesia berpotensi menguat pada kuartal terakhir 2017 dan optimisme terhadap ekonomi global pun meningkat sehingga menarik untuk dicermati apakah target 5,1 persen akan berhasil dicapai," tuturnya.

BERITA TERKAIT

BI Sebut Rupiah Masih Punya Peluang Menguat

NERACA   Jakarta - Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih berpeluang menguat, meski…

KABUPATEN SUKABUMI - Rupiah Melemah, Picu Kenaikan Harga Telur

KABUPATEN SUKABUMI Rupiah Melemah, Picu Kenaikan Harga Telur NERACA Sukabumi – Kenaikan harga telur bukan ras (Buras) di sejumlah pasar…

Penguatan Rupiah Beri Tenaga Bagi IHSG

NERACA Jakarta – Mengakhiri perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (9/7) sore, indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Pertumbuhan Kredit Juni Double Digit

      NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan penyaluran kredit perbankan pada Juni 2018 masih di…

Literasi Keuangan Dinilai Masih Rendah

      NERACA   Jakarta - Asosiasi Teknologi Finansial atau Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) mengatakan literasi keuangan masyarakat di…

BI Sebut Ada Capital Inflow Rp6 Triliun - Bunga Acuan Naik

      NERACA   Jakarta - Modal asing masuk melalui Surat Berharga Negara sebesar Rp6 triliun setelah imbal hasil…