Amartha Salurkan Pembiayaan Rp200 miliar

NERACA

Jakarta – PT Amartha Mikro Fintek (Amartha) telah menyalurkan pembiayaan dengan model financial technology (fintech) senilai Rp200 miliar. Uniknya, pengusaha dan mitra dari Amartha merupakan perempuan. Founder & CEO Amartha, Andi Taufan Garuda Putra mengatakan, sejak pertama berdirinya, Amartha terus berkomitmen untuk menghubungkan para pengusaha mikro unbanked, dengan para investor yang ingin menambah aset investasi di sektor yang lebih menguntungkan dan tentunya bernilai sosial.

“Keunikan lain terletak pada pengusaha mikro atau Mitra Amartha, yang seluruhnya adalah perempuan. Kini, lebih dari 70.000 perempuan pelaku usaha mikro di pelosok Indonesia telah menikmati layanan kami, dengan total dana yang didistribusikan lebih dari Rp200 miliar atau (US$ 15 Juta),” ungkap Taufan di Jakarta, Kamis (14/12).

Tak puas dengan penyaluran Rp200 miliar, Taufan menargetkan tahun depan akan lebih tinggi lagi dalam menyalurkan pembiayaan. Disamping itu juga, Amartha juga mendorong agar pembiayaannya bisa dimanfaatkan oleh para pelaku usaha mikro tak hanya di Jawa Barat saja, namun juga di Jawa Tengah dan Jawa Timur. “Saat ini Amartha hanya menjangkau 15 Kabupaten yang didominasi di Jawa Barat. Sementara total Kabupaten ada ratusan, makanya tahun depan kita akan memperlebar wilayah daya jangkau kita,” jelasnya.

Selama 7 tahun berdiri, sambung Taufan, Amartha berhasil mempertahankan tingkat gagal bayar yang sangat rendah. Hal ini disebabkan oleh salah satu manajemen risiko yang juga unik, yaitu dengan menerapkan group lending system (pinjaman kelompok) yang memiliki mekanisme tanggung renteng, dimana setiap peminjam akan dikelompokkan ke dalam satu kumpulan yang disebut Majelis. “Kelompok ini terdiri dari 15 - 25 orang peminjam yang tinggal berdekatan. Dengan sistem ini, setiap anggota bertanggung jawab untuk melakukan tanggung renteng atau menanggung risiko secara kelompok, apabila salah satu anggota mengalami kredit macet. Sehingga NPL kita hanya dibawah 0%,” jelasnya.

Sekedar infomasi, perkembangan layanan keuangan berbasis teknologi atau financial technology (fintech) begitu pesat, baik secara global, regional, hingga nasional. Industri fintech memiliki peluang untuk membawa perubahan ke dalam keseluruhan industri keuangan global termasuk di Indonesia. Salah satu pilihan produk investasi yang sedang berkembang pesat saat ini adalah investasi dengan konsep Peer-To-Peer (P2P) micro lending.

Perkembangan industri P2P micro lending memang diprediksi akan terus tumbuh sejalan dengan potensi pasar yang masih besar. Berdasarkan data dari lembaga riset Morgan Stanley, dana yang beredar di P2P micro lending global akan meningkat signifikan, bahwa diperkirakan pada tahun 2020 nanti dana yang dihimpun akan mencapai US$150-490 miliar. Selain itu, data laporan PwC Global Fintech 2017 menunjukkan sebanyak 82% atau mayoritas perusahaan jasa keuangan seperti bank dan asuransi berencana untuk meningkatkan kemitraan dengan fintech dalam 3-5 tahun mendatang. Pertumbuhan dan potensi pasar ini menunjukkan bahwa P2P micro lending hadir sebagai jenis aset investasi baru yang aman dan dapat dipercaya.

Untuk diketahui secara global, fintech dengan skema P2P micro lending bukanlah hal yang baru di negara-negara seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Tiongkok. Berdasarkan data Accenture, investasi keseluruhan pada bidang fintech mulai meningkat dengan nilai mencapai 3 kali lipat, dari US$ 928 juta menjadi US$ 2,97 miliar dalam kurun waktu 2008 hingga 2013, dan diprediksi akan semakin meningkat di tahun 2018.

Data Statistik juga menunjukkan, nilai transaksi perusahaan fintech di Indonesia sepanjang tahun 2017 ini diprediksi akan tumbuh 27,5 persen menjadi US$ 18,65 miliar, dibandingkan tahun lalu yang sebesar US$ 14,5 miliar. Terus tumbuhnya pasar industri fintech termasuk P2P micro lending yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir, perlu menjadi perhatian. Apalagi, skema investasi P2P micro lending terbukti membantu masyarakat dalam hal permodalan bisnis. Sehingga pada akhirnya, berinvestasi pada produk P2P micro lending berarti juga mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia secara lebih merata.

BERITA TERKAIT

Bank Banten Ditunjuk Pemprov Salurkan Jamsosratu

Bank Banten Ditunjuk Pemprov Salurkan Jamsosratu NERACA Serang - PT Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk (Bank Banten) selaku bank milik…

Indofarma Anggarkan Capex Rp 160 Miliar

Danai pengembangan bisnis, PT Indofarma (Persero) Tbk (INAF) tahun ini menganggarkan belanja modal atau (capital expenditure /capex) sebesar Rp160 miliar.…

Bank Mayora Terbitkan Obligasi Rp 500 Miliar

Guna perkuat likuiditas, PT Mayora Indah Tbk (MYOR) akan kembali menerbitkan surat utang senilai Rp 500 miliar. Berdasarkan pengumuman Kustodian…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

BNI Kantongi Laba Rp3,66 triliun

    NERACA   Jakarta - PT. Bank Negara Indonesia Persero Tbk mengantongi laba bersih Rp3,66 triliun atau tumbuh 13,3…

CIMB Niaga Auto Finance Berharap Tumbuh - Gelar Dealers Gathering

      NERACA   Jakarta - Sebagai langkah untuk memperkuat hubungan dan kerja sama dengan rekanan dealer, PT CIMB…

Bank DKI Salurkan Kredit UMKM Secara Masal

    NERACA   Jakarta - Dukung program kerja Pemprov DKI Jakarta, khususnya dibidang pengembangan UMKM, Bank DKI menyalurkan kredit…