Peringatan 100 Ekonom

Sekitar 100 ekonom berkumpul menyuarakan kondisi perekonomian Indonesia yang masih memprihatinkan saat ini. Kalangan ekonom pada kesempatan bertemu dengan Presiden Jokowi di Jakarta, Selasa (12/12), memberikan peringatan (warning) kepada pemerintah, khususnya menghadapi tahun politik 2018 dan pengaruh ekonomi global yang tak menentu di masa depan.

Ekonom berharap agar pemangku kepentingan semakin berhati-hati dalam membuat keputusan ekonomi. Sebab, ekonomi Indonesia belum tumbuh optimal. Fakta secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga kuartal ketiga baru tumbuh sekitar 5,03%. Padahal, pemerintah mematok target yang cukup tinggi, yakni 5,2% dalam APBN-P 2017.

Tidak hanya itu. Kondisi ekonomi dan politik global juga masih penuh ketidakpastian. Hal ini membuat semua negara di dunia mewaspadai nilai tukar mata uangnya termasuk Indonesia. Apalagi lembaga keuangan internasional IMF mengingatkan, prospek ekonomi Asia masih diwarnai sentimen ketidakpastian, baik yang datang dari luar maupun dalam kawasan Asia sendiri. Dari luar kawasan muncul faktor ketidakpastian besar stimulus fiskal Amerika Serikat. Sedangkan sentimen dari dalam kawasan Asia adalah pertumbuhan utang yang pesat di China.

Direktur Pelaksana International Monetary Fund (IMF) Mitsuhiro Furusawa menegaskan, kondisi tersebut dapat menjadi pukulan balik bagi perekonomian di kawasan Asia di waktu mendatang.

Persoalan serius lainnya di dalam negeri, menurut ekonom Indef Aviliani, saat ini hampir 50% pemilik dana besar (pribadi) menaruh uangnya di suatu negara dalam waktu yang singkat. Misalnya, menyimpan sebentar di Indonesia, sebentar lalu pindah ke Jepang dan kemudian pindah ke tempat lainnya. “Seperti itu kan mempengaruhi mata uang. Jadi itu yang harus dijaga oleh Indonesia. Fluktuasi mata uang. Kalau tidak dijaga ini akan mempengaruhi inflasi,” ujarnya.

Nah, ke depan yang sudah harus diantisipasi pemerintah, adalah merealisasikan pinjaman luar negerinya yang hingga kini sifatnya masih komitmen saja. Ini untuk menghadapi kemungkinan adanya ada aliran dana keluar (outflow) besar, Indonesia sudah siap mencairkan pinjamannya secara otomatis.

Yang patut menjadi perhatian pemerintah, adalah masifnya pembangunan infrastruktur besar-besaran yang sebenarnya tujuannya untuk menciptakan demand side dengan mempekerjakan banyak orang, namun sayangnya kurang didukung sarana finansial yang memadai. Akibatnya, banyak BUMN Karya sekarang mengalami arus kas negatif.

Hal ini menggambarkan kondisi ekonomi Indonesia belum tumbuh sesuai potensinya. Sementara, kompetisi antar negara semakin sengit. “Tahun politik harus jadi momentum memacu perekonomian kita. Kami ingatkan ancaman ekonomi di tahun politik. Bukan bermaksud beri pesimisme atau sinyal negatif terhadap pertumbuhan ekonomi kita, tetapi mengingatkan,” ujar Direktur Indef Sri Enny Hartati.

Ekonom juga mengingatkan ancaman ekonomi di tahun politik agar suasana politik dan permainan politik itu jangan kasar, jangan merusak sistem. Karena politik itu seperti roller coaster, naik turun. Kalau main politiknya akrobatik, tidak beres, ekonomi pada akhirnya akan jatuh juga.

Karena itu, mereka memprediksi ekonomi domestik tidak akan melompat tinggi pada 2018. Dari proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini yang ia perkirakan sebesar 5,1%, ekonomi tahun depan hanya bisa bertumbuh sebesar 5,15%.

Prof. Dr. Didiek J. Rachbini memberikan contoh Pilkada DKI Jakarta yang lalu, dimana suhu politik seperti itu merupakan pengalaman buruk dan tidak boleh terulang kembali meskipun tetap terkendali dan pengaruhnya kepada ekonomi tidak fatal. “Sebaiknya kita lebih bagus lebih terkendali, tidak boleh negara ikut main. Orang-orang yang tidak jelas ikut main. Pokoknya itu pengalaman yang buruk sebaiknya tidak terulang kembali,” katanya.

Meski demikian, kalangan ekonom optimistis akan terjadi peningkatan konsumsi apabila pemerintah melakukan pembelanjaan (spending) baik, terutama di golongan masyarakat bawah dan digelontorkan ke sektor produktif.

Patut disadari, bahwa kondisi konsumsi dalam negeri tahun ini belum memperlihatkan menggembirakan, karena itu pemerintah harus melakukan perencanaan yang lebih baik, jika pertumbuhan ekonomi nasional kembali lagi ke 6-7% di masa depan. Semoga!

BERITA TERKAIT

Gubernur Jabar Targetkan Sebar 100 Juta Benih Ikan

Gubernur Jabar Targetkan Sebar 100 Juta Benih Ikan NERACA Bandung - Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ahmad Heryawan (Aher) menargetkan tahun…

Jabar Lampaui Target Pencetakan 100.000 Wirausaha Baru

Jabar Lampaui Target Pencetakan 100.000 Wirausaha Baru NERACA Bandung - Pemerintah Jawa Barat (Jabar) mampu merealisasikan program Pencetakan Seratus Ribu…

Golden Plantation Bangun Pabrik Rp 100 Miliar

PT Golden Plantation Tbk (GOLL) berencana menambah pabrik baru pada tahun ini dengan kapasitas produksi hingga 30 ton per jam…

BERITA LAINNYA DI EDITORIAL

Inkonsistensi Kebijakan

  Ketika pemerintah memutuskan mengimpor 500 ribu ton beras khusus dari Thailand dan Vietnam untuk menjamin ketersediaan di dalam negeri…

APBN vs Utang Negara

Di tengah gencarnya pemerintah menerbitkan surat berharga negara (SBN) sebagai upaya untuk menutupi kelangkaan likuiditas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara…

Ulah Permainan Kartel?

Kenaikan harga beras medium belakangan ini hingga melampaui harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah, ternyata banyak menimbulkan pertanyaan dari…