Serangan Ransomware Masih Jad Ancaman Terbesar Pada Dunia Digital

Serangan siber peranti lunak, Ransomware, masih menjadi ancaman terbesar dunia digital yang saat ini tengah diadopsi nyaris di seluruh sektor, mulai dari pemerintahan hingga ekonomi.

Pernyataan itu disampaikan Direktur Pengembangan Pasar Asia Pasifik Irdeto, Bradley Prentice yang merupakan perusahaan penyedia jasa perlindungan siber yang berpusat di Amsterdam. "Ransomware masih menjadi ancaman terbesar dalam dunia digital saat ini, khususnya di kala nyaris semua aspek terhubung dalam jaringan, atau biasa dikenal dengan Internet of Things (IoT)," kata Bradley.

Di samping pembajakan data dan pencurian informasi (copying atau redirected distribution), ransomware merupakan salah satu serangan siber yang saat ini tengah banyak terjadi. "Mulai dari laman resmi pemerintah, hingga perusahaan rentan terkena Ransomware. Serangan itu cukup umum, dan patut mendapat perhatian," terang Prentice.

Lebih jauh, ia menjelaskan, sistem kerja Ransomware sederhana, misalnya, seorang pembajak (hackers) akan meretas laman tertentu dan meminta sejumlah uang ke pemiliknya agar website tersebut dapat kembali normal. "Cara kerjanya sederhana, peretas akan masuk ke dalam suatu sistem, dan meminta bayaran (ransom) sebagai tebusan untuk lamannya agar kembali bekerja seperti sedia kala," kata dia.

Sebenarnya, ia menambahkan, cara kerja Ransomware tidak jauh berbeda dari modus para oknum yang kerap menyabotase produk tertentu agar mendapat citra buruk dari publik. "Dulu sebelum internet berkembang pesat seperti saat ini, ada modus kejahatan yang disebut product tampering. Aksi itu adalah upaya individu atau sekelompok orang menyabotase barang tertentu yang baru diproduksi agar mendapat citra buruk dari masyarakat," ujarnya.

Di Amerika Serikat, kata dia, sempat terjadi, sekelompok orang menyuntikkan racun ke obat pereda sakit kepala, dan menyebarkannya ke berbagai toko. Nahas, beberapa orang dikabarkan meninggal, dan hasil autopsi menunjukkan, kematian disebabkan obat sakit kepala tersebut.

Akibatnya bukan cuma korban jiwa, tetapi perusahaan obat itu pun kolaps. "Di sisi lain, kebanyakan pelaku melakukan kejahatan tersebut demi uang (ransom). Saat itu, tidak hanya korban jiwa, tetapi perusahaan merugi hingga jutaan dolar. Mungkin prosesnya saat ini agak berbeda, tetapi motifnya terkait dengan uang," tambahnya.

Untuk itu, di tengah besarnya ancaman siber, meningkatkan kesadaran terhadap berbagai risiko merupakan langkah awal yang mesti dilakukan demi mengantisipasi serangan dalam jaringan. "Sebagai langkah awal, penting untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan terhadap risiko dan ancaman siber," kata Prentice.

Serangan Siber 2018

Penjahat siber diperkirakan akan semakin canggih memanfaatkan teknologi untuk menyerang target mereka. Direktur Sistem Teknik Symantec Malaysia dan Indonesia, David Rajoo dan Country Manager Symantec Indonesia Andris Masengi memperkirakan serangan siber di 2018 lebih besar karena para peretas menyalahgunakan fungsi kecerdasan buatan. Berikut ini prediksi Symantec untuk serangan siber pada 2018 :

1. Serangan di blockchain

Seiring popularitas mata uang virtual atau cryptocurrency, peretas semakin melirik blockchain. Penjahat siber fokus pada pertukaran koin dan dompet koin (coin wallet), memanfaatkan komputer atau perangkat seluler korban sebagai "miner".

2. Serangan yang memanfaatkan AI dan machine learning

Kecerdasan buatan (artificial intelligence) dan machine learning dimanfaatkan untuk perlindungan keamanan siber. Tapi, penjahat siber diperkirakan mulai mengubahnya untuk melancarkan serangan.

3. Malware file-less

Symantec melihat pertumbuhan malware file-less dan file-light tumbuh pada 2016 dan 2017. Malware ini bukan berupa berkas, namun, perintah (command) sehingga bentuknya tidak terlihat.

4. Serangan lewat IoT

Peralatan yang terhubung dengan internet, lazim disebut internet of things (IoT) seperti televisi, pengeras suara yang berada di rumah berisiko disusupi peretas. Pengguna IoT sering tidak mengubah setelan keamanan padahal alat tersebut memiliki akses ke jaringan di rumah. Hacker dapat mengelabui sistem di alat tersebut sehingga IoT akan menuruti perintah mereka.

BERITA TERKAIT

Kepemimpinan Kolaboratif pada Masa Krisis

Oleh: Anil Dawan Keluhan Wapres Jusuf Kala mengenai manajemen krisis Pemda Palu yang lemah dan banyak digantikan oleh TNI mengindikasikan…

Bank Dunia Tawarkan Utang untuk Rekonstruksi Bencana

      NERACA   Bali - Bank Dunia menyiapkan bantuan pinjaman sebesar satu miliar dolar AS untuk membantu Indonesia…

Arwana Catatkan Penjualan Naik 15,56% - Bisnis Keramik Masih Mengkilap

NERACA Jakarta – Meskipun bisnis properti masih dirasakan lesu oleh pelaku pasar, namun hal tersebut tidak memberikan dampak terhadap performance…

BERITA LAINNYA DI TEKNOLOGI

Pemerintah Dukung UMKM Tingkatkan Ekspor Lewat E-commerce

Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) menyatakan dukungannya untuk peningkatan ekspor melalui e-Commerce. Menurut Menkominfo Rudiantara, peluang ini terbuka…

Berkat solusi video analytics, AP II Dapat Anugerah Hitachi Transformation Awards

Hitachi Vantara, anak perusahaan Hitachi, Ltd. (TSE: 6501), telah menganugerahkan penghargaan bagi para pemenang dari Hitachi Transformation Awards. Pada Senin…

Ini Dia Spesifikasi Smartphone Infinix HOT S3X

Produk smartphone terbaru Infinix Mobility untuk pasar Indonesia, Infinix HOT S3X, berhasil menciptakan antusiasme yang besar dari pecinta gadget tanah…