Banten November Alami Inflasi 0,35 Persen

Banten November Alami Inflasi 0,35 Persen

NERACA

Serang - Provinsi Banten pada bulan November 2017 mengalami inflasi 0,35 persen dibandingkan bulan sebelumnya, yang tercermin dari angka indeks konsumen (IHK) yang naik dari 137,04 menjadi 137,51.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Banten Agoes Soebeno di Serang, sebagaimana dikutip Antara, kemarin, mengatakan kelompok komoditas yang memberikan andil/sumbangan terhadap inflasi Banten adalah kelompok bahan makanan sebesar 0,1624 persen; makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,0372 persen; perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar 0,0553 persen; sandang 0,0063 persen; kesehatan 0,0037 persen; pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,0254 persen; serta kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,0575 persen.

Berdasarkan pemantauan BPS terhadap 417 jenis barang dan jasa di Kota Serang, Tangerang dan Cilegon baik secara mingguan, dua mingguan maupun bulanan, diketahui sebanyak 231 komoditas mengalami perubahan harga. Rincian lengkapnya adalah 146 komoditas mengalami kenaikan harga dan sisanya sebanyak 85 komoditas mengalami penurunan harga.

Komoditas yang mengalami kenaikan harga yang cukup tinggi antara lain kursus bahasa asing, busi, cabe merah, perbaikan ringan kendaraan, setrika dan kipas angin. Sementara komoditas yang mengalami penurunan harga antara lain jengkol, bawang putih, komputer tablet, melon dan kembang kol.

Ia mengatakan dari 109 komoditas yang ada pada kelompok bahan makanan, 101 komoditas mengalami koreksi harga. Koreksi harga positif atau kenaikan harga terjadi pada 56 jenis komoditas. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi yang cukup besar antara lain cabe merah 0,1242 persen, bawang merah 0,0260 persen, jeruk 0,0226 persen, susu untuk balita 0,0147 persen dan bayam sebesar 0,0134 persen.

Sedangkan komoditas yang memberikan andil deflasi antara lain: bawang putih sebesar 0,0292 persen, melon 0,0145 persen, kelapa 0,0113 persen, jengkol 0,0094 persen, dan jagung manis sebesar 0,0076 persen.

“Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi pada kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau adalah komoditas makanan ringan/snack sebesar 0,0095 persen, bubur 0,0087 persen, rokok kretek filter 0,0063 persen, dan rokok putih sebesar 0,0055 persen. Sementara komoditas yang memberikan andil deflasi terbesar adalah biskuit 0,0022 persen dan teh 0,0021 persen. Secara keseluruhan kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar memberikan andil inflasi sebesar 0,0553 persen. Komoditas terbesar penyumbang inflasi adalah kipas angin sebesar 0,0124 persen dan kompor 0,0108 persen. Sementara komoditas yang memberi andil deflasi diantaranya semen 0,0133 persen, pengharum cucian/pelembut 0,0048 persen dan pembasmi nyamuk cair sebesar 0,0006 persen,” kata dia.

Komoditas yang memberikan andil inflasi pada kelompok sandang adalah sandal kulit 0,0044 persen, baju kaos/T-shirt 0,0022 persen dan pembalut wanita 0,0013 persen. Sementara itu komoditas yang memberikan andil deflasi diantaranya seragam sekolah anak 0,0019 persen, dan emas perhiasan sebesar 0,0013 persen.

Soebeno mengatakan dari 38 komoditas yang ada pada kelompok kesehatan, 25 komoditas diantaranya mengalami koreksi harga. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi diantaranya hand body lotion 0,0022 persen, sabun wajah 0,0019 persen, dan vitamin sebesar 0,0017 persen. Sementara komoditas yang memberikan andil deflasi yaitu shampo 0,0032 persen, dan obat gosok 0,0005 persen.

Secara keseluruhan, kelompok pendidikan, rekreasi dan olah raga memberikan andil inflasi terbesar yaitu 0,0254 persen. Komoditas penyumbang inflasi terbesar adalah kursus bahasa asing dengan andil 0,0191 persen dan rekreasi memberikan andil sebesar 0,0035 persen. Sementara komoditas yang memberikan andil deflasi adalah komputer tablet yaitu sebesar 0,0019 persen.

“Komoditas yang memberikan andil inflasi terbesar pada kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan adalah tarip angkutan udara dengan andil yang naik dan memberikan andil sebesar 0,0374 persen, disusul bensin 0,0089 persen dan tarip parkir dengan andil 0,0075 persen. Sementara komoditas yang memberikan andil deflasi, diantaranya adalah telepon seluler sebesar 0,0127 persen,” kata Soebeno. Ant

BERITA TERKAIT

Baru 11 Persen Sawah Terima Air dari Bendungan

NERACA Jakarta – Presiden Joko Widodo mengatakan pemerintah akan terus membangun bendungan untuk pengairan, mengingat baru 11 persen atau sekitar…

KPK Nyatakan Terdapat 64,05 Persen Wajib Lapor Pada 2018

KPK Nyatakan Terdapat 64,05 Persen Wajib Lapor Pada 2018 NERACA Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menginformasikan terdapat 64,05 persen…

Sekda Iwa Beberkan Strategi Tekan Inflasi Jabar

Sekda Iwa Beberkan Strategi Tekan Inflasi Jabar NERACA Bandung - Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Barat, Iwa Karniwa, membeberkan sejumlah…

BERITA LAINNYA DI EKONOMI DAERAH

Pemprov Jabar Dorong Industri Kelola Limbah Secara Terpadu

Pemprov Jabar Dorong Industri Kelola Limbah Secara Terpadu NERACA Bandung - Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) mendorong industri mengelola…

Pemprov Banten Lanjutkan Program Revitalisasi Banten Lama

Pemprov Banten Lanjutkan Program Revitalisasi Banten Lama NERACA Serang - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten pada 2019 kembali melanjutkan program revitalisasi…

DPRD Siap Bahas Tiga Raperda - Pemkot Sukabumi Berencana Dirikan Televisi Lokal

DPRD Siap Bahas Tiga Raperda Pemkot Sukabumi Berencana Dirikan Televisi Lokal NERACA Sukabumi - Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota…