Payah, TI Pasar Modal

Oleh : Ahmad Nabhani

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Keseriusan industri pasar modal dalam memanfaatkan dana asing yang masuk dinilai cukup positif. Pasalnya, dibalik krisis ekonomi yang melanda Uni Eropa banyak instrumen investasi seperti obligasi, reksadana dan surat utang lokal yang diminati asing. Namun sayangnya, di tengah maraknya investasi di pasar modal ternyata belum didukung kesiapan infrastruktur teknologi informasi (TI) yang ada saat ini. Contoh kasus koneksi remote trading, kerusakan sistem TI hingga listrik padam masih menjadi persoalan yang belum terselesaikan.

Sejatinya, Bursa Efek Indonesia (BEI) yang memfasilitasi transaksi saham para pelaku pasar peka terhadap persoalan infrastruktur teknologi dan bukan sebaliknya disibukkan urusan koneksi hingga listrik padam. Kendati demikian, pihak BEI selalu mengklaim bila permasalahan soal remote trading hanya terjadi sebentar dan kembali normal, tentunya tidak menjawab persoalan.

Bagi pelaku pasar, terganggu transaksi karena persoalan koneksi TI memberikan dampak yang signifikan karena memiliki kerugian akibat gagal transaksi. Tentunya, semua sepakat saat ini persoalan listrik sudah menjadi kebutuhan dan bahkan industri apapun ketika terhambat listrik, maka produksipun berhenti dan imbasnya biaya mahal yang harus dikeluarkan.

Ketika pasar modal dalam negeri masih disibukkan soal TI, maka hanya angka-angka kosong bicara soal target pencapaian transaksi di tahun ini. Karena bagaimana bisa mencapai target, jika persoalan infrastruktur TI belum digarap serius dan hasilnya daya saing pasar modal akan tertinggal jauh dengan negara lain.

Alangkah bijaknya, jika manajemen BEI mempersiapkan biaya lebih besar untuk masalah TI ketimbang hanya mempercantik fisik semata tetapi transaksi terus terhambat karena persoalan IT. Asal tahu saja, BEI harus menguras biaya Rp 30 miliar untuk proses revitalisasi lantai perdagangan.

Pembangunan lantai perdagangan bursa, saat ini dinilai tidak terlalu urgent lagi. Karena saat ini transaksi kebanyakan pelaku pasar sudah tidak lagi dengan cara konvensional, tetapi sudah dengan online trading. Maka alangkah ironisnya, disaat tuntutan perkembangan teknologi pasar modal, ternyata BEI belum up-grade IT hingga lemah soal infrastruktur IT. Bagaimanapun juga kesuksesan BEI adalah kesiapan IT dan terlebih menyambut Asean Linkage.

Selain itu, pekerjaan rumah BEI tidak hanya urusan TI dan SDM-nya, tetapi bagaimana memasyarakatkan pelaku pasar lokal yang sebagian masih belum melek teknologi. Suka tidak suka, teknologi bagi pelaku bisnis sudah menjadi bagian dari lifestyle dan juga kebutuhan. Namun tidak bisa juga dinafikan masih ada pelaku pasar yang belum paham betul akan penggunaan teknologi dalam transaksi di pasar modal.

Tengok saja, soal pemisahaan rekening efek nasabah pasar modal sebagai aturan baru Bapepam-LK yang pelaksanaannya masih minim. Hal ini disebabkan dari berbagai faktor, karena kesibukan, sosialisasi yang kurang hingga gagap teknologi. Oleh karena itu, kesiapan teknologi IT dan SDM yang handal menjadi kunci utama industri pasar modal mampu bersaing dengan negara lainnya.

BERITA TERKAIT

Bank Sumut Minta Disuntik Modal Rp600 miliar

  NERACA Medan - PT Bank Sumut membutuhkan suntikan atau penambahan modal Rp600 miliar khususnya dari Pemerintah Provinsi Sumut untuk…

Honda Kuasai 53 Persen Pasar Hatchback di Indonesia

Honda menguasai pasar hatchback di Indonesia sebesar 53 persen melalui penjualan mobil Honda Jazz dan Honda Civic Hatchback. Honda Jazz…

Indonesia Pacu Tiga Sektor Manufaktur Jepang Tambah Investasi - Penanaman Modal di Sektor Riil

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian fokus mendorong para pelaku industri Jepang skala menengah untuk terus berinvestasi di Indonesia. Terdapat tiga…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Super Ultra Mikro

Oleh : Agus Yuliawan Pemerhati Ekonomi Syariah Super ultra mikro--mungkinkah ini sebuah gagasan baru, bagi skema pembiayaan kepada pelaku usaha…

3 Tahun Evaluasi Ekonomi Jokowi-JK

    Oleh: Bhima Yudhistira Adhinegara Peneliti INDEF               Presiden Jokowi-JK punya dua jurus yang selalu dibawa kemanapun ia…

Freeport Tak Perlu Negosiasi - Oleh Edy Mulyadi : Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)

Gaduh pemberitaan soal divestasi PT Freeport Indonesia (PT FI) publik jadi bingung. Para menteri yang merasa terkait dengan perkara ini…