Merefleksikan Semangat Natal untuk Indonesia Damai & Bermartabat

Oleh: Faturahman Dewantara, Pemerhati Masalah Sosial, aktif di Lembaga Kajian Ketahanan Sipil

Seolah telah menjadi tradisi bahwa setiap mendekati Natal marak perdebatan mengenai halal-haram mengucapkan natal bagi muslim. Mulai dari kalangan elite parpol, birokrat, ulama, mahasiswa, ormas-ormas, sampai kedalam masyarakatpun ramai untuk memperdepatkan hal ini. Banyak pendapat mengenai hal ini, seolah menjadi kontroversi dan entah mana yang benar mana yang salah. Bahwa sebenarnya bukan mengenai yang benar atau yang salah tapi tentang bagaimana cara kita mengambil sikap tanpa menyinggung semua pihak menurut saya itu yang terpenting, bukan malah menjustifikasi yang benar atau salah. Menurut penulis halal-haram, salah-benar seorang muslim mengucapkan Natal telah menjadi menu dan agenda tahunan yang membuang energi.

Tahun 1981 MUI (Majelis Ulama Indonesia) mengeluarkan fatwa mengenai himbauan agar umat muslim tidak perlu mengucapakan selamat Natal. Fatwa MUI ini masih menjadi kontroversi dan perdebatan sampai sekarang. Benar bahwa Islam menjadi agama mayoritas di Indonesia, lebih dari 80% penduduk Indonesia beragama Islam dan sekaligus menjadi negara dengan jumlah muslim terbanyak di dunia. Tapi ada satu hal yang sangat istimewa bahwa Indonesia bukan negara Islam. Indonesia tidak menggunakan ideologi Islam sebagai Ideologi negara. Indonesia menggunakan ideologi Pancasila, yang merupakan ideologi asli dan berasal dari Indonesia sendiri, yang lahir dan berkembang sejak zaman leluhur bangsa Indonesia, dimana nilai-nilai pancasila merupakan refleksi dari kehidupan bermasyarakat bangsa Indonesia sejak negara Indonesia belum berdiri. Pancasila merupakan ideologi bagi semua elemen masyarakat Indonesia, bukan hanya satu atau beberapa elemen saja tapi bagi seluruh elemen masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke yang ber Bhineka Tunggal Ika. Bersatu dalam perbedaan, bersatu dalam satu semangat NKRI.

Negara Indonesia ini terdiri dari beragam suku dan agama. Kita hidup berdampingan dengan hak yang sama sebagai rakyat Indonesia, apapun sukunya, apapun agamanya. Itulah cara kita hidup selama ini, sejak negara ini berdiri sampai sekarang.

Setiap agama punya hari raya dan ritual keagamaan yang berbeda-beda, dan semuanya sudah mendapat hak perayaan dari negara. Semua umat beragama juga punya hak merayakan. Jika ada pihak-pihak yang menghalangi atau membubarkan sebuah perayaan, maka itu melanggar undang-undang dan kesepakatan kita sebagai warga Indonesia.

Perlu disadari memang bahwa Ibu pertiwi sedang diuji, banyak aksi-aksi intoleransi, isu-isu SARA, disinilah ajang kita bangsa Indonesia menunjukan kepada dunia, bahwa kepentingan kelompok oportunis dan pragmatis dapat kita kalahkan dengan kedewasaan dalam menghadapi sebuah perbedaan, Karena Indonesia Satu.

Untuk menerapkan hal itu, masyarakat Indonesia harus senantiasa menjunjung tinggi prinsip humanisme, pluralisme, persaudaraan, kerukunan, dan kekeluargaan dan menghindarkan diri dari pemaksaan kehendak. Semangat kekeluargaan tersebut dapat diwujudkan dengan membantu mewujudkan situasi yang kondusif saat peringatan Hari Raya Natal dan Tahun Baru. Toleransi harus didepankan dalam mewujudkan bangsa yang besar.

Kita hendaknya mampu instrospeksi diri siapa sesungguhnya jati diri kita, siapa kita dan untuk apa kita dipersatukan sebagai sebuah bangsa, bagaimana kita berperan dalam masyarakat untuk menciptakan kedamaian dan kesejahteraan serta berperan aktif dalam dinamika sosial di tengah – tengah masyarakat dan lingkungan kita. Hal ini hendaknya melalui proses pendakian spiritual menuju kesadaran diri yang sejati, seperti halnya makna dari hari raya-hari raya besar keagamaan, manusia bertahan dan tetap teguh dengan kesucian hati walau sering kali di coba dan diuji dengan segala kegelapan dan kemungkaran, hendaknya kita tetap teguh dengan segala ajaran damai dan kebenaran dan saling menguatkan satu sama lain tanpa salingb menciderai, sehingga dunia ini menjadi seimbang dan keharmonisan tercapai. Sebagai anak bangsa marilah kita saling mengisi dan saling belajar untuk selalu menjaga keharmonisan demi suksesnya tujuan kita berbangsa...salam damai Natal.

BERITA TERKAIT

Dana Desa untuk Pembangunan Terbukti Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat - Wakil Ketua MPR

Dana Desa untuk Pembangunan Terbukti Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat Wakil Ketua MPR NERACA Sukabumi - Pembangunan desa melalui penggelontoran Dana Desa…

KONDISI 2018 LEBIH BURUK DIBANDINGKAN SURPLUS 2017 - BPS: Neraca Perdagangan Indonesia Defisit US$8,57 Miliar

Jakarta-Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan neraca perdagangan Indonesia (NPI) mengalami defisit hingga US$8,57 miliar sepanjang Januari-Desember 2018. Angka defisit ini…

Indonesia Jadi Importir Gula Terbesar di Dunia

NERACA Jakarta – Apapun niat pemerintah untuk menjaga stabilitas harga, namun bila dilakukan dengan kebijakan impor tentu saja menuai pro…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Teknik “Firehose of Falsehood” dalam Pidato Kebangsaan

    Oleh:  Ahmad Harris, Mahasiswa FISIP Universitas Dharma Agung               Pidato kebangsaan Prabowo Subianto yang diselenggarakan pada 14…

Kinerja BUMN dalam 4 Tahun Kepemimpinan Jokowi-JK

  Oleh:  Aditya Ihsan, Pemerhati Kebijakan Publik Salah satu urusan pemerintahan yang harus diselenggarakan oleh Presiden RI Jokowi yakni bidang…

Efektivitas 16 Paket Deregulasi, Menunggu Godot?

Oleh: Pril Huseno Menarik investasi asing (FDI) ke dalam negeri memang bukan perkara mudah. Apalagi di tengah iklim ketidakpastian global…