Industri Plastik Dihadang Cukai

Oleh: Bhima Yudhistira Adhinegara

Peneliti INDEF

Industri plastik masuk dalam kategori supporting industry terpenting baik dari segi penyerapan tenaga kerja maupun teknologi. Dengan turunan industri plastik yang mencapai lebih dari 200 jenis produk, tentu prospek industri plastik ditahun 2018 perlu dicermati karena kondisi perekonomian dan kebijakan Pemerintah sangat berpengaruh.

Pertama, dalam jangka pendek, prospek industri plastik sangat dipengaruhi oleh dua segmen terbesar yakni makanan minuman dan farmasi kesehatan. Akibat turunnya kondisi perekonomian, pertumbuhan industri kemasan yang terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, juga harus mengalami perlambatan pertumbuhan menjadi sekitar 6% sampai 7% per tahun. Pertumbuhan tersebut 63%-nya didominasi oleh produksi plastik, diikuti oleh produksi karton, kaleng, dan lain-lain.

Adapun kendala-kendala yang harus dihadapi oleh industri kemasan Indonesia khususnya berbahan baku plastik adalah kondisi ekonomi global yang berpengaruh pada fluktuasi nilai tukar Rupiah dan pelemahan daya beli yang cukup signifikan. Sementara biji plastik pun sebagian di impor dengan alasan kualitas. Artinya semakin fluktuatif nilai Rupiah, biaya produksi industri plastik lokal akan terkena getahnya.

Tantangan juga muncul ketika Pemerintah yang sedang kesulitan mengelola penerimaan Negara menargetkan barang kena cukai kantong plastik di tahun 2018. Sebenarnya rencana ini sudah ada sejak lama. Bahkan di tahun 2017, Pemerintah sudah menargetkan penerimaan dari barang kena cukai baru sebesar Rp1,6 triliun. Agar lebih realistis, tahun 2018 jumlahnya pun ditarget Rp500 miliar per tahun. Setelah kantong plastik sangat mungkin cukai plastik diperluas ke botol plastik, kemasan mie instan dan barang yang mengandung plastik lainnya.

Namun ditengah beratnya tantangan, sebenarnya masih ada harapan untuk tumbuh di tahun mendatang. Misalnya untuk segmen industri plastik yang digunakan untuk keperluan kemasan makanan minuman diprediksi akan sedikit membaik di tahun 2018. Salah satu faktornya adalah event pemilu di 2018 dan 2019 akan mendongkrak konsumsi makanan minuman. Imbasnya permintaan plastik kemasan akan meningkat.

Sementara untuk segmen kemasan plastik yang berhubungan dengan perlengkapan rumah tangga dan elektronik trennya cenderung menurun. Konsumsi rumah tangga khususnya kelas menengah di perkotaan masih melambat. Penjualan barang durable atau barang tahan lama masih belum memperlihatkan tanda-tanda pemulihan. Begitu juga dengan prospek penjualan kendaraan bermotor yang sebagian besar komponennya adalah plastik. Kendaraan bermotor outlooknya belum memuaskan.

Dengan kondisi tersebut, pelaku industri diminta untuk lebih cermat memetakan pasar yang pertumbuhannya positif. Sementara Pemerintah tidak bisa egois memungut cukai hanya berdasarkan pada menutup defisit anggaran. Skema dana bagi hasil dan earmarking untuk harus jelas. Contohnya di Swedia, plastik dikenakan cukai tapi uangnya digunakan untuk daur ulang sampah plastik. Artinya, uang cukai plastik memang benar-benar kembali ke masyarakat.

BERITA TERKAIT

Kemenperin Terus Pacu Industri Fesyen Muslim Nasional Jadi Kiblat Dunia

NERACA Jakarta – Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah (IKM) Gati Wibawaningsih mengatakan industri busana muslim terus merangkak naik seiring…

Pelaku Industri Pariwisata di Bali Didorong IPO

NERACA Denpasar - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengajak perusahaan lokal di Bali khususnya yang bergerak di sektor pariwisata untuk…

Kemenperin: Batam Berpotensi Jadi Pusat Klaster Industri Elektronik

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian mendorong Batam menjadi pusat pengembangan klaster industri elektronik yang bernilai tambah tinggi. Upaya ini untuk…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Sawit Korban Perang Dagang

    Oleh: Bhima Yudhistira Adhinegara Peneliti INDEF                 Minyak Kelapa Sawit adalah korban dari kebijakan proteksionisme yang…

Titik Krusial Pembangunan Ekonomi

  Oleh Fauzi Aziz Pemerhati Masalah Ekonomi dan Industri   Para pemimpin dunia paling takut kalau kegiatan ekonomi mengalami pelambatan,…

Jokowi vs Prabowo Lagi?

  Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Sisa waktu menuju pilpres 2019 ternyata iklim sospol…