Dua Investor Besar Siap Berinvestasi di Indonesia - Dampak RI Masuk Trillion Dollar Club

NERACA

Jakarta - Masuknya Indonesia ke dalam negara berkategori Trillion Dollar Club pada saat Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) yang berlangsung di Davos, Swiss, pada 27 hingga 29 Januari lalu ternyata mampu menarik perhatian dua investor besar yang kemudian menyatakan minatnya berinvestasi di Indonesia.

Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengungkapkan bahwa dirinya telah mempromosikan Indonesia di Swiss dan banyak perusahaan yang akan berinvestasi ke Indonesia, diantaranya Unilever dan perusahan Jerman. “Mereka mau investasi dalam ratusan sampai miliaran dolar,” ujarnya di Grand Hyatt, Jakarta, Selasa (31/1).

Gita menambahkan bahwa pentingnya pertemuan tahunan WEF tersebut sehingga dapat memproyeksikan profil Indonesia yang baru. “Indonesia mulai dikenal sebagai negara yang berskala besar dan sudah masuk klub negara yang PDB-nya di atas US$1 triliun. Ini langka sekali,” ujarnya.

Menurut Gita, di negara maju di dunia itu hanya beberapa negara yang berhasil masuk ke skala PDB di atas US$1 triliun. “Kalau di negara maju, hanya negara seperti Tiongkok, India, Rusia, dan Brasil. Selain itu, ada Meksiko, Korea Selatan, Turki, dan Indonesia,” terangnya.

Arah Perdagangan

Gita mengatakan selama pertemuan WEF diperlukan peran aktif dalam menentukan arah perdagangan global dan strategi ekonomi yang berorientasi pada aksi nyata yang sangat dibutuhkan, meningkatkan posisi Indonesia di dunia, serta menyuarakan kepentingan Indonesia di sesi-sesi tingkat tinggi.

Terutama membahas langkah-langkah untuk kemajuan agenda utama World Trade Organization (WTO), terutama agenda Putaran Doha. Gita mengangkat pentingnya kepemimpinan politik terutama karena bilateralisme dan regionalisme dapat bergandengan tangan menjadi multilateralisme.

Namun prinsip ini dapat menjadi kecanduan (adiktif) dan dapat mengarah pada ketidakpercayaan (diskredit) pada WTO. “Pokok persoalannya adalah tumbuh menjamurnya bilateralisme dan regionalisme. Jika kurang fokus dan kurang komitmen dalam menjaga multilateralisme, adalah ibarat mobil tanpa GPS,” tuturnya.

Gita mengingatkan pentingnya memiliki kepemimpinan politik yang dapat mendorong maju. Sementara ini, dia berharap para pemimpin politik dari negara maju berada pada posisinya, sedangkan negara-negara berkembang dan negara-negara yang baru bangkit. “Seperti Indonesia, terus meningkatkan kemampuannya dalam jangka pendek maupun jangka panjang untuk mendorong industrinya dan meningkatkan posisinya dalam mata rantai perdagangan,” ujarnya.

Visi Pertanian

Pada pertemuan WEF itu juga, Indonesia telah memprakasai Partnership for Indonesia Sustainable Agriculture (PISAgro) untuk mewujudkan visi baru dalam bidang pertanian, guna menggalang kerja sama pemerintah dengan perusahaan lokal dan multinasional.

Hingga kini, Gita menerangkan, PISAgro telah menetapkan program-program nyata yang berorientasi pada hasil kerja dengan tujuan swasembada pangan dan peningkatan panen produk pertanian yang utama, dengan memperhatikan pelestarian lingkungan serta kesejahteraan sosial rakyatnya.

“Meskipun baru diluncurkan tahun lalu, pada pertemuan bergengsi ini, PISAgro mendapat perhatian besar sebagai suatu model kemitraan antar pemerintah dan swasta yang menunjukkan kepemimpinan dan komitmen Indonesia dalam menangani masalah ketahanan pangan melalui program-program pertanian yang berorientasi pada program kerja nyata,” ungkapnya.

BERITA TERKAIT

BI Pertahankan Bunga Acuan 4,25% - DAMPAK KENAIKAN SUKU BUNGA THE FED

Jakarta-Meski Bank Sentral AS (The Fed) menaikkan suku bunga acuannya 0,25%, Bank Indonesia tetap mempertahankan suku bunga acuan "7-Day Reverse…

Investor Asing Masih Percaya Indonesia - Laris Manis Komodo Bond

NERACA Jakarta- Ludesnya penawaran PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR) Komodo Bond di Londo Stock Exchange, menunjukkan kepercayaan pelaku pasar…

Aksi Nyata Indonesia Mendukung Palestina

  Oleh: Agung Widjayanto, Mahasiswa Jurusan Ilmu Sosial dan Politik Universitas Hasanuddin Konflik Israel – Palestina atau bagian dari konflik Arab -…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Industri Kecil dan Menengah - Pemerintah Pacu Daya Saing IKM Lewat Platform Digital E-Smart

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian semakin gencar memacu pengembangan industri kecil dan menengah (IKM) nasional agar memanfaatkan platform digital e-Smart…

Akuakultur - KKP Realisasikan Asuransi Untuk Pembudidaya Ikan Kecil

NERACA Jakarta- Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) merealisasikan program Asuransi Perikanan bagi pembudidaya ikan kecil. Program tersebut merupakan kerjasama antara…

Proyeksi Kebutuhan Gula Industri 3,6 Juta Ton di 2018

NERACA Jakarta - Direktur Jenderal Agro Kementerian Perindustrian, Panggah Susanto memperkirakan konsumsi gula mentah untuk kebutuhan industri mencapai 3,6 juta…