Bank Asing Diminta Kontribusinya Ke Perekonomian

NERACA

Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendesak kantor perwakilan bank asing di Indonesia untuk meningkatkan kontribusinya terhadap perekonomian, di antaranya dengan menggenjot penyaluran kredit infrastruktur bagi proyek pemerintah dan swasta. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiyana di Jakarta, Rabu, mengatakan hingga Oktober 2017, penyaluran kredit dari kantor perwakilan bank asing sudah cukup menggeliat, yakni bertumbuh 20 persen menjadi Rp72 triliun.

"Kredit itu disalurkan dari kantor pusat melalui kantor perwakilan, dan sejalan dengan kondisi yang membaik, kreditnya meningkat cukup pesat," ujar dia. Heru mengatakan dengan kondisi perekonomian yang membaik, didukung sentimen positif ekonomi global, seharusnya kantor perwakilan bank asing dapat lebih menggenjot kreditnya. "Mereka harus mendukung penyaluran kredit yang lebih produktif. Kita lihat Rencana Bisni Bank (RBB) kita di 2018 kan target penyaluran kredit bisa tumbuh sekitar 13 persen. Kan itu positif," ujar dia.

Heru juga meminta kantor perwakilan dapat meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia di Indonesia melalui pertukaran informasi dan pemanfaatan Tenaga Kerja Asing. Dia berjanji akan membuat regulasi untuk meningkatkan pengawasan dan kepatuhan kantor perwakilan terhadap ketentuan industri perbankan di Indonesia. Namun, Heru belum dapat merinci regulasi tersebut. "OJK akan mendorong terus untuk mereka dari waktu ke waktu perannya lebih positif," ucapnya. Menurut data Bank Indonesia, terdapat 16 kantor perwakilan bank asing yang saat ini beroperasi di Indonesia.

Jangan Dihambat

Dalam laporan Global Financial Development Report 2017/2018 yang bertajuk Bankers without Borders, Bank Dunia mengatakan pembatasan pada bank asing di negara berkembang telah membatasi arus pembiayaan yang sangat dibutuhkan bagi perusahaan dan rumah tangga. Hal itu berpeluang menghambat prospek pertumbuhan ekonomi kawasan yang lebih baik. “Perbankan asing memang berpotensi menciptakan risiko ketidakstabilan ekspor, terutama bagi negara-negara dengan peraturan dan institusi yang buruk.Tapi tanpa sektor perbankan yang kompetitif, masyarakat miskin tidak akan dapat mengakses layanan keuangan dasar,” kata Presiden World Bank Group Jim Yong Kim.

Dia menambahkan, kurangnya penetrasi bank asing di negara berkembang akan membuat sejumlah bisnis terhambat dan pertumbuhan sektor perbankan di kawasan tersebut akan melambat. Menurutnya, bank multinasional dapat memiliki manfaat penting untuk pembangunan, meskipun bukan satu-satunya solusi dan tetap berpeluang membawa risiko negatif. Di sisi lain, Bank Dunia berharap para pengambil kebijakan di negara berkembang mulai memperbaiki sistem di sektor keuangannya. Langkah itu dinilai akan mampu meminimalkan tekanan dari risiko yang ditimbulkan dari perbankan asing.

Seperti diketahui, krisis ekonomi 2007-2009 telah mendorong negara-negara berkembang melakukan evaluasi yang ketat terkait kehadiran bank-bank asing di negara mereka. Fenomena itu menyebabkan terjadinya pembatasan akses oleh bank-bank asing dan menekan layanan kredit lintas batas untuk dihentikan.

Direktur Riset Bank Dunia Asli Demirguc-Kunt mengatakan keterbukaan terhadap perbankan asing memang tidak menjamin terjadinya perkembangan keuangan atau stabilitas. Namun, menurutnya, dari sejumlah penelitian menunjukkan bagaimana kebijakan yang tepat dapat memastikan bahwa keterbukaan pada bank asing justru menimbulkan iklim bersaing yang sehat. “Dampaknya, peningkatan akses publik terhadap modal meningkat sehingga dapat memacu pertumbuhan," katanya.

BERITA TERKAIT

Bank BJB Bagikan Dividen Rp 880 Miliar

PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR) akan mempertahankan dividen pay out ratio tahun buku 2017 sebesar…

Kondisi Bank Muamalat Masih Baik

  NERACA Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai kondisi Bank Muamalat saat ini masih dalam kondisi yang baik dan…

Bank Panin Tambah Porsi Saham Jadi 42,54% - Rights Issue Panin Dubai Syariah

NERACA Jakarta - Jelang rencana penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) alias rights issue, PT Bank Panin…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Bikin Program Pendidikan, Bank Mandiri Gaet UGM

      NERACA   Jakarta - Bank Mandiri menjalin kerjasama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam peningkatan kemampuan perbankan…

Genjot DPK, BTN Gelar Program “Super Untung Jaman Now”

      NERACA   Jakarta - Berhasil meraih pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 20,45% di atas rata-rata industri…

Waspada Bahaya “Jackpotting”

    NERACA   Jakarta - Lembaga Riset Keamanan Siber dan Komunikasi atau Communication and Information System Security Research Center…