Kemendag Pasang Dua Strategi Kejar Target Ekspor US$230 Miliar

NERACA

Malang - Tantangan krisis global tidak boleh menyurutkan semangat para pengusaha dan eksportir. Apabila AS dan Eropa sedang mengalami krisis, maka Indonesia harus beralih ke pasar yang lain. Sebab masih banyak pasar luar negeri yang potensial untuk digarap, diantaranya adalah emerging markets, seperti negera-negara Asia, Afrika, Timur Tengah dan Amerika Latin.

Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi mengatakan, dalam tahun 2012 pemerintah menargetkan pencapaian ekspor senilai US$230 miliar dan untuk dapat mencapainya diperlukan strategi, yaitu peningkatan daya saing dan diversifikasi ekspor. Bayu menghimbau kepada Pemerintah Daerah, para pengusaha dan eksportir, serta asosiasi usaha, agar menggenjot upaya meningkatkan ekspor.

“Para pengusaha harus cerdik dalam melihat peluang dan menghadapi tantangan serta pentingnya meningkatkan daya saing produk,” ujarnya di Forum Ekspor Tim Nasional Peningkatan Ekspor dan Peningkatan Investasi di Malang, Jawa Timur, Selasa (31/1).

Menurut Bayu, produk yang kompetitif dalam hal harga dan kualitas akan dengan mudah diterima oleh konsumen dalam dan luar negeri. “Jika produk kita kompetitif, maka akan menimbulkan multiplier effects, tidak hanya terhadap peningkatan ekspor, tapi juga membuka banyak lapangan tenaga kerja, dan pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” imbuhnya.

Bayu menjabarkan berbagai tantangan yang akan dihadapi dalam meningkatkan ekspor. Krisis yang terjadi di Amerika Serikat (AS) dan Eropa perlu diwaspadai karena akan mengakibatkan perlambatan pertumbuhan perekonomian global. “Hal ini tercermin dari revisi pertumbuhan ekonomi dunia yang dikeluarkan International Monetary Fund (IMF), dari 4% menjadi 3,3% tahun 2012,” jelasnya.

Selain diversifikasi pasar, Bayu juga menekankan pentingnya untuk melakukan diversifikasi produk. Dia mengingatkan kepada para pengusaha agar dapat melakukan inovasi produk yang merupakan bagian dari peningkatan daya saing. “Diversifikasi pasar dan produk harus sejalan karena keduanya merupakan kunci dalam menembus pasar-pasar luar negeri dan perdagangan yang berkelanjutan,” ujarnya.

Kontribusi Terbesar

Untuk mencapai target ekspor nasional 2012, Bayu mengharapkan eksportir di Jawa Timur dapat memberikan kontribusi yang signifikan. Selama ini, Jawa Timur telah memberikan kontribusi terbesar terhadap ekspor nasional periode Januari-November 2011, yakni mencapai 10,95%.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) provinsi tersebut, nilai ekspor Jawa Timur pada periode tersebut menyentuh US$17,5 miliar atau naik 40,04% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2010. “Wilayah Jawa akan diarahkan sebagai pendorong industri dan jasa nasional,” ujar Bayu.

Adapun komoditi ekspor andalannya adalah produk makanan, perikanan dan perkebunan. Ekspor produk makanan di koridor Jawa sebesar 71% dari ekspor produk makanan nasional. Sementara itu, produk perikanan dan perkebunan wilayah ini mengkontribusi masing-masing sekitar 60% dan 9,4% terhadap ekspor produk tersebut secara nasional.

Di samping memaparkan tantangan dan strategi peningkatan ekspor nasional, Bayu mengakui masih banyak permasalahan yang dihadapi para pengusaha dan eksportir Jawa Timur, antara lain penetapan Nomor Induk Kepabeanan (NIK) yang saat ini wajib dimiliki oleh eksportir, ditutupnya pelabuhan impor Pelabuhan Tanjung Perak, lambatnya pembangunan infrastruktur, rendahnya pembiayaan ekspor, serta hambatan dagang yang diterapkan negara tujuan ekspor.

“Setiap daerah pasti memiliki tantangan dan peluangnya masing-masing, namun upaya peningkatan ekspor harus tetap dilakukan. Pemerintah tentunya akan terus berbenah agar semua peraturan dan kebijakan yang dikeluarkan dapat menciptakan situasi perekonomian yang lebih kondusif,” jelasnya.

Disamping itu, Bayu juga menekankan pentingnya kerja sama yang sinergis antara pemerintah pusat dan daerah, serta para pelaku usaha di seluruh Indonesia untuk mencapai target ekspor tahun ini.

BERITA TERKAIT

Strategi "Survival of The Fittest" Bagi Mal

Oleh: Muhammad Razi Rahman Persaingan dalam ekonomi memang untuk para pelaku usaha yang tangguh, terutama bila kondisi perekonomian ternyata menjadi…

Kemenperin Beri Masukan Kebijakan KITE Bagi IKM - Kemudahan Impor Tujuan Ekspor

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah (IKM) mengusulkan beberapa langkah strategis untuk mendukung pelaksanaan…

Pendapatan BTEL Susut Jadi Rp 1,51 Miliar

Bisnis telekomunikasi milik PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) terus menyusut. Tengok saja, hingga periode 30 Juni 2017 meraih pendapatan sebesar…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Jelang 60 Tahun RI-Jepang - Menperin Pacu Kolaborasi Pengembangan Sektor Industri

NERACA Jakarta – Hampir enam dekade, Indonesia dan Jepang menjadi mitra strategis dalam upaya pembangunan ekonomi kedua negara. Oleh karena…

Produksi Lele Bioflok Sokong Suplai Pangan Berbasis Ikan

NERACA Sleman- Menteri Kelautan dan Perikanan yang diwakili Sekjen KKP, Rifky E Hardijanto melakukan panen perdana budidaya lele sisitem bioflok…

Industri Transportasi - Revolusi Media Digital Untuk Layanan Kereta Api

NERACA Jakarta - Saat ini DKI Jakarta dan sekitarnya sedang menggalakkan pembangunan infrastruktur untuk memenuhi kebutuhan transportasi umum di dalam…