Raih ISO 9001:2008, BPOM Genjot Peningkatan Mutu Kinerja

NERACA

Jakarta - Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) mencanangkan tiga program peningkatan mutu kinerja pengawasan sebagai realisasi reformasi birokrasi. Ketiga program tersebut berorientasi pada kepentingan publik sesuai dengan tata kelola pemerintahan yang baik dan berfokus pada efektivitas, efisiensi dan mutu serta optimalisasi pelayanan publik.

Untuk itu BPOM menerapkan sistem manajemen mutu (Quality Management System/QMS) sesuai standar internasional ISO 9001:2008 menyusul diakui secara internasional dengan diperolehnya sertifikat ISO 9001:2008. Semua ini dilakukan untuk memberikan jaminan kepada publik dalam pengawasan obat dan makanan.

“Tiga program yang dicanangkan BPOM adalah elektronisasi sistem registrasi pangan low risk, Sistem Informasi Administrasi Pegawai (SIAP) secara elektronik, serta penyerahan sertifikat ISO 9001:2008,” ujar kepala BPOM Lucky S. Slamet pada peringatan Hari Ulang Tahun BPOM ke-11, Selasa (31/1).

Pencanangan elektronisasi sistem registrasi pangan low risk merupakan salah satu Quick Wins untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pelayanan publik, dan mempermudah proses. Sistem ini berbasis web/internet dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. “Diharapkan dengan adanya sistem registrasi secara elektronik ini, proses pendaftaran pangan low risk menjadi lebih cepat, tepat, transparan dan akuntabel dengan tetap mengedepankan perlindungan kepada masyarakat,” terang Lucky.

Terobosan utama dalam sistem ini, lanjut dia, antara lain tidak ada pembatasan jumlah aplikasi pendaftaran pada hari yang sama, penyelesaian proses kurang dari tujuh hari, pelaksanaan pengisian formulir dapat dilaksanakan kapan saja tanpa terikat wilayah kerja dan pendaftar dapat memantau prosesnya secara online.

Upaya lain dalam menuju jaminan pelaksanaan Good Governance, yaitu dengan pencanangan SIAP. “Dengan adanya SIAP, maka penilaian kinerja kepegawaian dan pengembangan karir pegawai BPOM dapat lebih transparan, akuntabel dan dapat mengeliminasi terjadinya kolusi ataupun nepotisme, dengan tetap berorientasi pada pemenuhan harapan publik,” tutur Lucky.

Dia mengakui semakin luas dan kompleksnya tugas pengawasan BPOM terutama di era global, akan menuntut seluruh komponen BPOM dalam melaksanakan tugasnya secara efektif, efisien dan profesional dalam suatu kesisteman yang terstruktur.

“Sistem tersebut harus melingkupi seluruh sub sistem pengawasan obat dan makanan di unit kerja baik pusat maupun Balai Besar atau Balai POM di daerah yang mampu memotret seluruh fungsi pengawasan obat dan makanan secara komprehensif dan mengidentifikasi keterkaitan antar fungsi dan atau antar unit kerja,” paparnya.

BERITA TERKAIT

Kadin: Tak Mungkin Terulang Krisis 1998-2008 - PROSPEK PERTUMBUHAN INDUSTRI DAN SEKTOR PERKEBUNAN

Jakarta-Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan P. Roeslani menyatakan sikap optimistis krisis ekonomi 1998 dan 2008 atau…

Lemkapi: Kapolri Pantas Raih Anugerah Raja Malaysia

Lemkapi: Kapolri Pantas Raih Anugerah Raja Malaysia NERACA Jakarta - Lembaga Kajian Kepolisian Indonesia (Lemkapi) memuji prestasi Kapolri Polisi Tito…

Sequis Mencatat Kinerja Keuangan Positif di Kuartal III/2017

  NERACA   Jakarta - Director & Chief Agency Officer PT Asuransi Jiwa Sequis Life Edisjah menjelaskan, Sequis Life kembali…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Strategi Kemitraan Upaya Efektif Bangun IKM Otomotif Mandiri

NERACA Jakarta - Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan strategi kemitraan merupakan salah satu upaya yang paling efektif untuk membangun IKM…

Indonesianisme Summit 2017 - Menjadikan Industri Nasional Pemenang di Negeri Sendiri

NERACA Jakarta - Ketua Umum pengurus pusat IA-ITB Ridwan Djamaluddin mengatakan lemahnya penguasaan teknologi, penguasaan merek dan penguasaan pasar menyebabkan…

e-Smart IKM Berikan Kemudahan Pengembangan Usaha

NERACA Jakarta - Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah (IKM), Gati Wibawaningsih mengungkapkan pihaknya terus mendorong peningkatan produktivitas dan daya…