BEI Masih Tunggu Langkah Hukum Perseroan - Nasib Emiten DAJK Pasca Pailit

NERACA

Jakarta – Sejak dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga Jakarta Pusat, suspensi atau pengentian sementara perdagangan saham PT Dwi Aneka Jaya Kemasindo Tbk (DAJK) belum juga dicabut oleh pihak PT Bursa Efek Indonesia (BEI). Kondisi ini tentunya menjadi kekhawatira bagi investor pasar modal, khususnya pemegang saham emiten perusahaan kemasan ini.

Merespon hal tersebut, pihak BEI sedang menunggu langkah dan keputusan dari manajemen DAJK terkait keputusan pailit yang ditetapkan pengadilan niaga. “Kalau memang dipailitkan, kita kan tinggal konfirmasi apakah mereka ada upaya hukum lain. Apalagi kira-kira yang mereka bisa lakukan,"kata Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Samsul Hidayat di Jakarta, Selasa, (5/12).

Saat ini, pihak DAJK masih menunggu hasil dari pengajuan kasasi yang dilakukan ke Mahkamah Agung (MA). Apabila status pailit sudah final, bursa akan men-delisting saham DAJK.”Iya mau tidak mau, mau ngapain lagi? Contoh kalau kita investasi, beli kambing mau diternakin, kambingnya mati, itu sama dengan pailit," ucapnya.

Sementara itu, terkait dengan nasib pemegang saham publik perusahaan, Samsul menegaskan hal itu bergantung pada proses lelang aset DAJK. Jika aset sudah dibayarkan utang dan kewajiban lainnya, dan masih tersisa maka bisa dialokasikan untuk pemegang saham. ‎Namun, jika tidak ada sisa dari penjualan aset, maka pemegang saham hanya bisa gigit jari. Lantaran, hal itu merupakan bagian dari risiko menjalankan investasi. "Kalau ada sisanya. Karena prioritas bayar utang pajak, utang vendor, utang karyawan, bayarin semua. Kalau ada sisa baru kembali ke pemegang saham,"ungkapnya.

Sekadar informasi, pada kuartal III/2017, DAJK memiliki utang ke beberapa bank sebesar yang nilainya mencapai Rp870,17 miliar. Sementara aset yang dimiliki peruahaan mencapai Rp1,3 triliun, atau turun dari Rp1,5 triliun di akhir Desember 2016. Utang bank ke Standard Chartered Bank sebesar Rp262,4 miliar, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) sebesar Rp414,26 miliar, Bank Commenwealth Rp50,4 miliar, Citibank N.A Rp26,6 miliar, dan Bank Danamon Rp9,9 miliar.

Kemudian ada ‎pembiayaan murabahah dari PT Bank BRI Syariah dengan sub jumlah sebesar Rp106,4 miliar. DAJK juga memiliki kewajiban sewa pembiayaan Rp28,14 miliar dan lembaga keuangan Rp96 juta. Ditetapkan perseroan pailit oleh pengadilan niaga menyusul pengadilan telah mengabulkan pengajuan pembatalan perjanjian damai PT Bank Mandiri Tbk selaku kreditur perusahaan.

BERITA TERKAIT

Gubernur Sumsel dan BEI Jamin Biaya Pengobatan - Korban Selasar Gedung BEI

NERACA Jakarta - Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin menjenguk mahasiswa yang menjadi korban ambruknya balkon gedung Bursa Efek Indonesia (BEI)…

Mirae Asset Sekuritas Bidik Enam Calon Emiten - Kantungi Mandat IPO

NERACA Jakarta –Sukses membawa PT LCK Global Kedaton Tbk (LCKM) listing di pasar modal, memacu PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia…

BEI Pindahkan Engine Perdagangan Bursa - Tingkatkan Layanan Investor

NERACA Jakarta – Terlepas dari pernyataan pengelola gedung PT Bursa Efek Indonesia (BEI) yang menyatakan kondisi gedung masih bagus dan…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Gandeng Kerjasama TICMI - STIE Perbanas Gelar Uji Sertifikasi Pasar Modal

NERACA Surabaya - STIE Perbanas Surabaya menggandeng The Indonesian Capital Market Institute (TICMI) Jakarta menggelar ujian sertifikasi profesi pasar modal…

Pasca Revitalisasi Hotel - Hotel Indonesia Natour Bidik Laba Rp 8,7 Miliar

NERACA Jakarta - PT Hotel Indonesia Natour (HIN) Persero targetkan laba tahun ini sebesar Rp8,7 miliar, melonjak signifikan dibanding tahun…

Dua Pabrik Beroperasi di 2019 - Kapasitas Produksi ROTI Meningkat Tajam

NERACA Jakarta – Seiring dengan rampungnya dua pabrik roti milik PT Nippon Indosari Corporindo Tbk (ROTI) di Lampung dan Gresik,…