Sukses Mengembangkan Bisnis Fashion

Owner LAYA Boutique : Agustine Susanti

Selasa, 31/01/2012

Neraca. Where there is a will, there is a way; ketika ada kemauan, ada jalan keluar. Pepatah yang tepat mengambarkan Agustine Susanti, sosok enterpreneur muda dibidang fashion.

Dibawah bendera LAYA Boutique yang didirikannya sejak April 2011 lalu, kiprah perempuan dua orang putra tercinta Dafi Rafiali Pribadi (10) dan Laya Luna Pribadi (3), buah pernikahannya dengan Dicky Pribadi ini mampu membuktikan bila ketekunan akan membuahkan hasil.

Susan, akrab ia disapa pun berkisah saat bisnisnya dibidang aneka aksesoris dan craft mulai menurun sejak akhir 2010. Kalau dibiarkan pasti akan gulung tikar, ucapnya, “Saya harus berubah,” ia pun bertekad menyelamatkan usahanya dengan melirik bisnis fashion. Ia pun mulai merancang sebuah model baju berbahan kaos, lalu ia pinta seorang penjahit untuk mewujudkannya.

Saat digelar Pameran Inacraft 2011 di Jakarta, ia mencoba membawa disain rancangannya untuk ditawarkan, “Pada hari pertama pameran berlangsung, sekitar 50 busana hasil rancangannya habis terjual,” ungkapnya.

Kreatifitas bisnis pun mulai menggoda. Dibantu beberapa orang penjahit, di hari ke dua dari lima hari pemaran berlangsung, kembali ia buat untuk 100 baju dengan beberapa model rancangan. Hasilnya? “Alhamdulillah habis dibeli pengunjung,” ungkapnya bersyukur.

Sejak itulah bisnis aksesoris yang sebelumnya ia geluti dengan nama SOUL ia tinggalkan, dan beralih dengan nama LAYA Boutique yang menawarkan pelbagai rancangan fashion bervariasi menarik dan modis busana muslim berbahan dasar kaos.

Rancangan yang diberi nama model “Botol” ini, jelas Susan, dipetik dari rancangan yang memang menyerupai bentuk botol. “Saat itu hanya spontanitas saja, kok mirip botol ya setelah dijahit,” ungkapnya, sejak itulah istilah model botol dalam dunia mode dikenal masyarakat.

Menurut Susan, sebenarnya model dengan baju berbahan kaos sudah ada, tapi dengan beberapa improve yang ia lakukan maka jadilah model botol yang ia ciptakan , “Kita coba meng-improve, baik dalam cutting, kerah, atau model tangannya. Dan jadilah model botol dengan pelbagai variasi,” jelas pemilik tujuh buah toko yang tersebar di Jakarta (ITC Kuningan dan Citos Bazaar), Bandung (Paris Van Java), dan Surabaya (SUTOS) ini. Bahkan wilayah seperti Palembang, Balikpapan, Samarinda, Makasar, Batam, hingga Aceh sudah merebak busana muslim dengan model botol hasil kreasi dirinya.

Bahan kaos yang ia pilih bukan tanpa alasan. Selain harganya lebih terjangkau, tambah Susan, bahan kaos memiliki banyak kelebihan. Ia lebih lentur, praktis, nyaman dikenakan, mudah perawatannya, dan dapat dikenakan bagi setiap wanita, “Kita memang merancang untuk all size. Semua bisa pakai, baik berbadan kurus atau gemuk, dan dapat tampil lebih cantik, ” ujarnya. Harga yang ditawarkannya juga terbilang murah, sekitar Rp 20 ribu untuk aksesoris hingga busana seharga Rp 400 ribu dengan ratusan model yang tersedia.

Ia berprinsip hidup harus dinamis, begitupun dengan menjalankan bisnis. “Kadang kita mengalami kendala dalam bisnis kita, dan kita sudah berusaha untuk memperbaiki, kita jangan patah semangat. Lakukan improve dengan merambah bisnis lain dan tetap harus fokus pada bidang yang kita lakukan. Serius menjalankan bisnis adalah kunci keberhasilan, maka jalankan saja dan tetap mensyukuri apa yang telah kita miliki kehadiratNYA,” ujarnya berpesan.