Remote Trading, Bukti BEI Belum Siap Bersaing

INFRASTRUKTUR IT BURSA MASIH LEMAH

Selasa, 31/01/2012

Jakarta – Di tengah tinggi volume transaksi di pasar modal dalam negeri, ternyata kondisi ini belum ditopang kinerja teknologi informasi yang bagus. Pasalnya, persoalan remote trading hingga listrik padam masih terus menghantui transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI). Lantas bagaimana Indonesia mampu bersaing diantara bursa global jika persoalan infrastruktur IT belum dibenahi tuntas.

NERACA

Menurut pengamat pasar modal Budi Frensidy, sistem IT Bursa Efek Indonesia (BEI) memang sudah selayaknya di-up grade. Jika tidak maka tidak akan cukup mendukung transaksi harian pasar modal yang mencapai Rp 5 triliun per hari. “Ini akan terus meningkat. Kalau tidak segera berbenah maka tidak akan maju,” katanya kepada Neraca, Senin (30/1).

Selain itu, dirinya menegaskan, tidak hanya merugikan nasabah yang sedang transaksi akibat permasalahan koneksi IT tetapi akan memberikan imbas yang lebih luas. Sebut saja, soal proses pemisahan rekening dana nasabah dengan perusahaan sekuritas yang akan dimulai 1 Februari 2012, dipastikan bakal terganggu.

Hal senada juga disampaikan Managing Research Indosurya Asset Management Reza Priyambada, persoalan klasik sistem koneksi remote trading BEI harus dijadikan pelajaran berharga. Alasannya, persoalan ini bukan kali pertama terjadi tetapi berkali-kali. Dia menuturkan, persoalan koneksi remote trading telah membuktikan perubahan dan perbaikan infrastruktur sistem IT belum maksimal. “Yang pasti, pusat sistem IT bisa "rapuh", makanya butuh cadangan sistem atau back-up,” jelas Reza.

Belum Siap IT

Dia mengatakan, infrastruktur IT BEI harus dipersiapkan untuk mendukung perdagangan lokal. Kejadian ini, kata Reza, sudah terjadi tidak hanya kali ini saja. Oleh karena itu, dirinya menagih kinerja tim IT BEI agar kapasitas sistem ditambah. “Kita lihat, seberapa cepat kerja mereka (tim IT BEI). Ibarat komputer, Ram-nya harus ditambah, kalau tidak, ya, lambat kerjanya,” tandasnya.

Reza menegaskan, melihat kondisi seperti ini, harus diakui, jika BEI tidak siap menyambut koneksi lintas bursa melalui Asean Linkage pada 2015 mendatang. Karena infrastruktur belum siap telah mengakibatkan gangguan dan 70% sekuritas tidak bisa bertransaksi. Padahal mereka sudah di-back up sistemnya. Sedangkan, potential lost transaction mencapai 20%. “Ini baru satu jam (sistem IT mati) dan bagaimana kalau dua lebih dari satu jam,”cetusnya.

Dia juga mengakui transaksi perdagangan Indosurya Asset Management tidak mengalami pengaruh yang berarti. Karena memiliki back-up sistem data. Pada penutupan perdagangan kemarin, transaksi beli (buy) mereka mencapai Rp 13,4 miliar, transaksi jual (sell) sebesar Rp 1,9 miliar. Sehingga net buy-nya sebanyak Rp 11,54 miliar.

Sementara broker asing yang melakukan transaksi terbesar kemarin yaitu Credit Suisse Securities, dengan total nilai transaksi Rp 479,36 miliar. Diikuti Kim Eng Securities, Macquire Capital, CIMB Securities, dan CLSA Asia-Pacific Markets. “Transaksi beli CLSA mencapai Rp 202,36 miliar dan jual Rp 127,82 miliar. Maka, net buy mereka Rp 74,54 miliar,” tambah Reza. Selanjutnya, tiga broker lokal yang melakukan transaksi terbesar adalah Bahana Securities dengan Rp 323 miliar, Mandiri Sekuritas sebanyak Rp 294 miliar, dan e-Trading Securities.

Bahkan, Vice President Business Development Kim Eng Securities, Hendra Julius S Martono mengklaim penyebab matinya jam perdagangan akibat akibat sistem server hanya berlangsung satu tahun sekali.

Dia mengatakan kejadian matinya jam perdagangan yang terjadi penanganannya cukup baik. “Sekitar lima menit setelah mati, kembali berjalan normal. Harapan saya ke depannya jangan sampai terulang kembali kejadian seperti ini agar tidak mengganggu proses trading di lantai bursa. Banyak klien yang protes soalnya. Otomatis, transaksi harian akan terganggu,” tambahnya.

Terkait dengan penambahan jam perdagangan di BEI, Hendra menyambut positif atas usulan tersebut. Pasalnya, makin banyak waktu bagi para trader untuk bertransaksi sehingga meningkatkan transaksi perdagangan.

Sebelumnya, Sekretaris Perusahaan BEI, Irmawati Amran mengakui telah terjadi permasalahan pada koneksi remote trading dari beberapa anggota bursa (AB) beberapa menit setelah perdagangan sesi pertama pada Senin (30/1). Meski begitu, beberapa saat kemudian masalah koneksi tersebut pulih kembali sehingga perdagangan kembali berjalan normal.

Dijelaskannya, berdasarkan hasil penelusuran BEI terhadap permasalahan tersebut dapat disampaikan beberapa hal. Pertama, tidak ada permasalahan pada sistem perdagangan di BEI maupun di AB. Kedua, permasalahan terjadi pada perangkat jaringan komunikasi di pihak network service provider. Ketiga, masalah ini terjadi hanya beberapa saat dan segera pulih kembali.

"Kami tidak mengambil tindakan khusus terkait hal tersebut karena koneksi segera pulih dan perdagangan kembali berjalan normal. Permasalahan terjadi pada perangkat jaringan komunikasi di pihak network service provider (NSP)," ujar Irmawati dalam siaran persnya. Bahkan sempat terbesit kabar bahwa terjadinya eror pada sistem trading BEI menyebabkan 70% anggota bursa tidak bisa melakukan sistem transaksi.

Potensi Kerugian Nasabah

Di tempat terpisah, Direktur Utama Profindo International Securities, Paul Andi Aulia yakin kalau bermasalahnya IT BEI pada perdagangan sesi pertama sangat berdampak terhadap potential lost transaction bagi para pelaku bursa saham di Indonesia. “Kalau seperti itu, potential lost pasti didapat, tetapi kita sendiri tidak terlalu memperhatikan hal itu,” jelas Paul.

Untungnya, lanjut dia, bermasalahnya IT BEI ini hanya berlangsung singkat. Meski demikian, potential lost pasti terjadi. Karenanya, Paul sangat menyayangkan hal ini bisa terjadi, dan dia berharap hal seperti ini segera diperbaiki, agar tidak terulang lagi di masa mendatang.

Paul lalu memberikan masukan, yaitu supaya lebih intens memantau infrastruktur dan sistem IT yang ada. Selain itu, Semua pihak yang telibat menjalin komunikasi yang baik dengan vendor yang terlibat, dengan demikian dirinya percaya masalah IT yang ada tidak akan terjadi lagi.“Pertama dengan memantau infrastruktur, kedua menjalin komunikasi yang baik dengan beberapa vendor yang terlibat,” tukas dia. Terkait kesiapan BEI menyambut Asean Linkage, ditegaskan Paul tidak ada kaitannya. Karena BEI sudah sangat siap dan masalah IT ini lebih kepada line internet. “Kejadian ini sangat jarang terjadi, sehingga seharusnya jangan dijadikan patokan (kesiapan Asean Linkage),” ungkap Paul. bari/ahmad/ardi/bani