Waspadai Krisis Global, Harga Minyak Bisa Capai US$200/barel

NERACA

Jakarta - Krisis politik di Timur Tengah di terutama Libya dan Aljazair membuat gejolak harga minyak dunia kini menjadi tak menentu. Apalagi kilang minyak terbesar di Irak di bom. Meski harga minyak diragukan bisa US$200/barel, tak tertutup kemungkinan bisa mencapai US$150/barel, suatu batas psikologis yang bisa menyeret krisis global.

”Saya tak yakin harga minyak dunia mencapai U$ 200/barel. Tapi mungkin bisa ke tahap U$ 150 /barel. Itu pun OPEC akan cepat-cepat intervensi untuk menurunkannya, karena harga yang logis saat ini U$100,” ujar ekonom LIPI Dr. Latif Adam kepada Neraca, Minggu (27/2).

Namun dia mengakui, harga minyak US$150/barel sudah berbahaya dampaknya terutama sektor industri. Karena itu bisa menyeret ke jurang krisis global. “Sektor industri itu paling parah, bisa berhenti produksi kalau minyak terlalu tinggi. Itu jelas (masuk kedalam krisis global), bila harga minyak dunia sudah mencapai U$ 200/barel, pertumbuhan ekonomi di dunia termasuk negara kita akan melemah” katanya.

Hal yang sama juga dikatakan Mantan Menko Perekonomian Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, bahwa terlalu didramatisir harga minyak mencapai US$200/barel. "Orang itu terlalu mendramatisir, tak mungkin US$200/barel. Pada 1990 saja harga minyak tak pernah setinggi ini karena dulu nggak ada Rusia," katanya.

Dia menambahkan jika harga minyak dibiarkan naik terlalu cepat maka negara OPEC dan non OPEC akan merugi. "Seperti 2008, harga minyak sampai US$ 140 per barel, kemudian 2009 dibanting ke angka US$ 36 per barel," katanya.

Secara terpisah, Direktur Center for Petroleum and Energy Economic Studies (CPPES) Kurtubi menilai, kenaikan harga minyak dunia bakal berpengaruh besar bagi industri Indonesia.. ”Apalagi industri yang pakai bahan impor. Selain memperlemah daya saing juga perekenomian dunia terancam,” kata Kurtubi kemarin.

Dosen Pascasarjana UI ini memastikan, masyarakat bakal terkena imbas paling berat. Bahkan Kurtubi memperkirakan bisa menyeret ke krisis global, seandainya gejolak meluas hingga di atas US$ 140 per barel. ”Hal ini karena Libya memasok sebagian besar minyak ke Eropa Barat. Sebagian kecil ke China juga sedikit ke Indonesia,” paparnya.

Yang jelas, kata Kurtubi, harga minyak bakal tembus US$ 200 per barel kalau Saudi Arabia dan Kuwait juga ikut mengalami krisis. “Karena itu, untuk mengantisipasinya, pemerintah harus mencari solusi lapangan minyak baru terutama Blok Cepu,” katanya.

Direktur Eksekutif ReforMiner Pri Agung Rakhmanto menilai beban subsidi oleh negara makin tinggi seiring harga minyak. Hingga akhir pekan lalu (25/2), harga minyak jenis Brent mencapai US$ 112,43 per barel. Ini menunjukkan tren peningkatan karena pada Senin (21/2), harga minyak sejenis di posisi 108,7 per barel.

Apabila harga minyak mencapai level US$ 120 per barel maka akan terjadi tambahan subsidi energi sekurang-kurangnya Rp 20 triliun. Keuangan negara juga akan tergerus karena terjadi defisit anggaran. Ketika harga minyak dunia naik, Indonesia juga menikmatinya dengan tambahan Rp 2,6 triliun untuk setiap kenaikan US$1.

"Namun, kas negara juga tergerus Rp 2,6 triliun setiap kenaikan US$1 karena kita negara pengimpor minyak," katanya. Akibatnya terjadi defisit sebesar Rp 700 miliar. Jika harga minyak mencekik hingga US$ 110- 120 per barel, lanjut Pri Agung, dikurangi asumsi minyak APBN US$ 80 maka terlihat beban keuangan makin besar.

Pri Agung juga mendesak pemerintah mengubah asumsi harga minyak APBN 2011 yang sebelumnya sebesar US$ 80 per barel menjadi US$ 85-90 per barel. Menurut dia, harga besaran asumsi sudah tidak realistis. ”Soal momentum, sebaiknya pemerintah mengubah asumsi sebelum April mendatang atau kuartal III,” katanya.

Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Erwin Aksa mengungkapkan, bergolaknya harga minyak dunia hingga di atas level US$ 100/barel bisa saja menyeret krisis ekonomi dunia seperti pada 2008. Karena itu, dia berharap agar pemerintah harus melakukan efisiensi sehingga beban subsidi tidak semakin bertambah besar. “Pengaruh minyak tinggi sekali terhadap perekonomian dunia. Karenanya, pemerintah harus benar-benar efisiensi terhadap subsidi BBM,” katanya.

Menurut dia, melambungnya harga minyak dunia akibat konflik politik di Timur Tengah, terutama Libya akan memberikan dampak yang besar terhadap dunia usaha, termasuk di Indonesia.

Hal yang sama juga dikatakan SekJen Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Herman Heru Suprobo mengatakan semakin lama kondisi politik timur tengah tidak mereda. Maka bisa semakin mendorong kenaikkan harga minyak. “Saya pikir untuk mencapai tahap itu (U$ 200 perbarel) akan sangat sulit, mungkin bertahap," tegasnya.

Namun, kata Herman, bila memang terjadi lonjakan harga minyak dunia sampai pada titik U$ 200 perbarel maka akan terjadi bencana dan terjadi perubahan tatanan perekonomian yang sangat besar. "Memang perlu diantisipasi kalau kenaikan sampai US$200/barel, itu bencana”, tambahnya.

Masalahnya, kata Herman, kenaikan harga minyak yang terlalu tinggi bisa menyebabkan industri menjadi kolaps. “Begitu besar ketimpangan antara ekspor dan impor, dan industri bakal kolaps” tegasnya.

Hanya saja, Herman belum yakin harga minyak bisa mencapai US$200/barel. Sebab kenaikkan sebesar itu bisa menyeret menjadi krisis global. “Bisa masuk krisis global seandainya sampai U$ 200/barel, namun saya belum melihat sampai jangka panjang. Tapi memang kondisi politik yang tidak menentu di timur tengah tidak akan berlangsung lama seperti perang teluk”, pungkasnya. ruhy/farouk/inung/cahyo

Related posts