Kredibilitas PLN?

Belakangan ini mencuat kembali polemik terkait wacana baru pemerintah yang akan menyederhanakan golongan listrik. Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) mengusulkan adanya penyederhanaan daya listrik dengan meniadakan golongan 1.300 VA, 2.200 VA, 3.500 VA, dan 4.400 VA untuk ditingkatkan menjadi 5.500 VA.

Rencana kebijakan pemerintah tersebut tentu saja menuai pro kontra di masyarakat. Pemerintah hendaknya sebelum mengambil langkah tersebut, ada baiknya penting menerapkan prinsip kehati-hatian sebelum merealisasikan wacana tersebut. Pasalnya, penyederhanaan golongan listrik dijamin Kementerian ESDM dengan tanpa adanya kenaikan biaya. Biaya pergantian daya sepenuhnya akan ditanggung PLN. Hanya saja payung hukum wacana penyederhanaan masih belum pasti hingga sekarang.

Kita ingat bahwa perhitungan harga per kilowatt hour (kWh) akan mengacu pada perhitungan sebelumnya, yakni harga per kWh 1.300 VA senilai Rp 1.467 untuk golongan 5.500 VA. Nah, publik tetap mencium gelagat strategi pemerintah yang akan menaikkan bertahap di kemudian hari, sehingga tidak terlalu dirasakan.

Menurut Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar, penyederhanaan golongan pelanggan listrik ini dilakukan sebagai upaya pemanfaatan listrik. Harapannya supaya pemanfaatan daya yang sudah ada lebih signifikan dalam hal pemakaiannya. Proyeksi kebutuhan listrik pada tahun 2019 mencapai 59.863 MW. Di sisi lain, pemerintah mencanangkan proyek 35.000 MW. Jika proyek tersebut terealisasi, maka akan terpasang 88.585 MW. Kondisi nantinya akan ada sekitar 40% kapasitas listrik yang bakal menganggur.

Data PLN (2017) menyebutkan bahwa saat ini pelanggan listrik terbagi 34 golongan. Antara lain terdiri dari rumah tangga ada tujuh golongan, bisnis tujuh golongan, golongan sosial sebanyak tujuh golongan, golongan industri tujuh golongan, dan publik ada enam golongan.

Jumlah total pelanggan listrik sampai Agustus 2017 mencapai 66 juta pelanggan. Angka ini meningkat dari 50 juta pada tahun 2012. Beban usaha PLN naik sebesar Rp 8,2 triliun atau 3,32% menjadi Rp 254,4 triliun pada 2016 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 246,3 triliun. Adapun laba bersih yang dibukukan sebesar Rp 10,5 triliun.

Kita melihat paling tidak terdapat tiga permasalahan pokok pada kelistrikan Indonesia. Permasalahan tersebut antara lain biaya pokok produksi (BPP) dan tarif dasar listrik (TDL), serta permasalahan ketenagalistrikan. BPP harus mengikuti harga pasar (market price). TDL menjadi kewenangan serta keputusan presiden. Implikasinya adalah negara mesti merogoh sumber dana dari APBN untuk memberikan subsidi listrik.

Kementerian ESDM penting melakukan kajian mendalam sebagai dasar penerapan kebijakan penyederhanaan tarif tersebut. Keberpihakan terhadap masyarakat menengah ke bawah mesti diprioritaskan. Apresiasi layak diberikan terkait adanya rencana survei guna mendapatkan tanggapan masyarakat. Nah, kuncinya adalah sampling masyarakat mesti dijamin melalui kaidah ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan nantinya. Diskusi ahli dan semua pihak juga penting dilaksanakan guna mendapatkan masukan kualitatif.

Padahal, pemerintah harusnya memprioritaskan perbaikan layanan. Lepas jadi atau tidaknya kebijakan penyederhanaan, layanan yang baik menjadi hak masyarakat selaku konsumen. PLN mesti menjamin semua wilayah sudah teraliri listrik dengan kualitas yang baik dengan minimalisasi terjadinya pemadaman.

Bagaimanapun, pentingnya antisipasi dampak negatif jika kebijakan penyederhanaan diterapkan. Salah satunya adalah soal memacu tingkat konsumsi masyarakat hingga berdampak pada PLN sendiri. Artinya, seiring makin konsumtifnya masyarakat dan meningkatkan permintaan listrik, maka PLN mesti siap menyediakan pasokan listrik besar. PLN mesti menjamin adanya keseimbangan supply dan demand.

Adalah kampanye hemat energi juga penting tetap digalakkan. Prinsip ekoefisiensi pemakaian listrik akan berdampak positif bagi ekonomi, lingkungan, dan layanan kelistrikan itu sendiri. Asumsi awal bahwa penyederhanaan golongan listrik akan berdampak positif umumnya untuk rumah tangga yang memiliki usaha dan sektor industri. Dengan demikian rumah tangga murni mesti tetap terjamin tidak terbebani di kemudian hari.

BERITA TERKAIT

Isu TKA Bertujuan Jatuhkan Kredibilitas Pemerintah

    Oleh: Anisa Medina, Pemerhati Ekonomi, Sosial dan Politik   Pada 2016, China telah duduk di posisi ke-3 sebagai…

Jika Presiden Tidak Turun Tangan, SP PLN Ancam Mogok Kerja - Permasalahan Di PLN

      NERACA   Jakarta - Serikat Pekerja Perusahaan Listrik Negara (SP PLN) mendesak Presiden Joko Widodo untuk turun…

Cegah Efek Rumah Kaca - PLN Wilayah Maluku Tanam 1000 Pohon

Sebagai bentuk kepedulian pada kelestarian lingkungan dan juga mendorong kesadaran masyarakat menanam pohon untuk anak cucu di masa mendatang, PT…

BERITA LAINNYA DI EDITORIAL

Amankan Devisa Ekspor

Melihat pergerakan rupiah dalam sebulan terakhir konsisten melemah terus terhadap dolar AS. Meski kurs rupiah belakangan ini cenderung menguat, pelemahan…

Jaga Kepercayaan Investor

Kondisi nilai tukar rupiah memang berfluktuasi cukup dalam. Ini merupakan dampak ekonomi global yang utamanya berasal dari kondisi ekonomi AS.…

Utang Negara Masih Aman

Menyimak ancaman krisis global belakangan ini, ada baiknya kita melihat kondisi sejumlah negara lain yang kondisinya tidak lebih baik dari…