KKP Serukan Masyarakat Untuk Konsumsi Ikan Lokal

NERACA

Jakarta - Puncak perayaan Hari Ikan Nasional yang digelar di Taman Mini Indonesia Indah juga dilengkapi dengan seruan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) agar warga dapat konsumsi ikan lokal. "Makanlah ikan lokal, seperti ikan patin lokal," kata Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan KKP Nilanto Perbowo di Jakarta, Selasa (21/11).

Apalagi, ia mengingatkan bahwa ikan patin atau yang dikenal dengan sebutan "catfish" dalam bahasa Inggris merupakan ikan asli nusantara dan banyak terdapat di berbagai daerah di Tanah Air. Hal tersebut juga mengingat ditengarai adanya filet impor ikan patin yang ternyata diduga mengandung kandungan zat yang berbahaya sehingga sudah selayaknya produk lokal diutamakan.

Dengan menyantap produk yang ditangkap oleh nelayan Indonesia maka juga bakal meningkatkan pendapatan yang diperoleh mereka sehingga juga membantu meningkatkan perekonomian.

Pada kesempatan sebelumnya, NIlanto juga berjanji akan terus mengkampanyekan Gemar Makan Ikan (Gemarikan) ke semua lapisan. “Upaya kami untuk terus meningkatkan konsumsi ikan perkapitanya tidak akan pernah berhenti. Kami terus melakukan kampanye Gemarikan merangkul semua lapisan, baik masyarakat bawah, menengah, maupun atas. Di pedesaan, perkotaan, kampung-kampung, bahkan di pelosok akan kami lakukan,” tegasnya.

Meski, sambung Nilanto, konsumsi ikan perkapitanya saat ini sudah cukup menggembirakan, dimana tahun 2016 konsumsi ikan dalam negeri 43,94 kg per kapita, dan target tahun 2017, 47,12 kg per kapita tapi tetap kampanye harus terus dilakukan agar konsumsinya lebih tinggi lagi. “Kalau bicara target tahun ini dipastikan tercapai. Bahkan kami berharap bisa lebih. Karena kita tahu ikan sehat, dan sekarang stok ikan banyak harga juga lebih terjangkau. Itu yang sering kami utarakan pada masyarakat,” sambungnya.

Lebih jauh Nilanto, menjelaskan, ikan sebagai sumber protein sangat relevan untuk mendukung program prioritas pemerintah dalam rangka meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia dan meningkatkan kemandirian ekonomi berbasis pada kelautan dan perikanan. Menurutnya, Indonesia memiliki potensi sumberdaya ikan sebesar 9,9 juta ton dan potensi luas lahan budidaya 83,6 juta Ha yang dapat dioptimalkan untuk mendorong perluasan dan kesempatan kerja, serta meningkatkan ketersediaan dan konsumsi sumber protein ikan bagi masyarakat.

“Jika konsumsi ikan nasional meningkat, ini dapat menjadi penghela industri perikanan nasional. Ini juga dapat meningkatkan produktivitas masyarakat dan mewujudkan kemandirian ekonomi untuk mendukung percepatan pembangunan industri perikanan nasional,” lanjutnya.

Menurut Nilanto, pelaksanaan program Gemarikan sendiri tidak hanya menjadi tugas dari KKP sebagai instansi teknis yang membidangi kelautan dan perikanan, namun menjadi tugas seluruh komponen institusi, lembaga, dan masyarakat dalam rangka mempersiapkan generasi bangsa yang sehat dan cerdas. Butuh strategi, koordinasi, dan harmonisasi yang melibatkan seluruh komponen bangsa.

Pada kesempatan sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menyoroti masih rendahnya tingkat konsumsi ikan masyarakat Indonesia. Sehingga, pemerintah terus giat berkampanye menggalakkan konsumsi ikan. "Kalau dilihat dari statistik dibandingkan dengan negara-negara lain, Jepang misalnya sekarang sudah makan 86 kg per kapita/tahun. Indonesia baru pertama kali menginjak di atas 40 kg per kapita tahun 2016, sebelumnya tahun 2014 konsumsi di Indonesia hanya 36 kg per kapita, tahun 2015 naik menjadi 41 kg per kapita," kata Susi.

Menurutnya, kenaikan tersebut sudah luar biasa tetapi tetap harus ditingkatkan, mengingat saat ini stok ikan di Indonesia telah mengalami peningkatan. Ketersediaan ikan saat ini, lanjutnya, sebagai buah dari kerja keras berbagai instansi di Indonesia misalnya jajaran TNI, khususnya TNI AL, Polair, dan Kejaksaan yang turut memerangi praktik penangkapan ikan secara ilegal.

Menteri Susi menegaskan perang terhadap penangkapan ikan secara ilegal selama ini telah memberikan 7 kilogram (kg) tambahan konsumsi ikan dalam jangka waktu dua tahun ini kepada masyarakat. "Kalau dihitung kenaikan 7 kg dikali dengan 250 juta penduduk Indonesia itu adalah 1.750 ton ikan telah dikonsumsi oleh bangsa Indonesia. Kalau dinilai Rp 10.000 per kg, itu bernilai Rp 175 triliun, dan itu nilai ekonomi yang luar biasa yang telah kita nikmati dari hasil perang melawan illegal fishing," katanya.

Dia juga mengimbau agar masyarakat Indonesia lebih menggemari ikan agar dapat tumbuh sehat dan cerdas. Apalagi, mengingat sejumlah kondisi seperti diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sehingga persaingan antarnegara juga lebih kencang dan semakin terbuka.

Menteri Susi mengingatkan, anak-anak Indonesia usia umur 1-10 tahun harus mendapat asupan protein yang cukup demi pertumbuhan fisik dan perkembangan kecerdasannya, yang dapat dipenuhi kebutuhan asupan protein tersebut dengan menyantap ikan. Selain menyehatkan masyarakat, gemar mengonsumsi ikan juga akan menghemat belanja negara dengan beralih dari konsumsi daging impor kepada ikan yang banyak tersedia di lautan Indonesia, mengingat harga ikan lebih murah daripada daging.

BERITA TERKAIT

IBM Indonesia Berkolaborasi dengan Partner Lokal - Akselerasi Bisnis Digital

    NERACA   Jakarta - IBM Indonesia menggelar IBM Indonesia Partner Solutions Summit, yang diselenggarakan di JW Marriot Jakarta.…

Tak Hanya Masyarakat Miskin, Rentan Miskin Juga Perlu Diperhatikan

      NERACA   Jakarta - Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menyebutkan, selain masyarakat miskin dan sangat miskin, masyarakat…

Merefleksikan Semangat Natal untuk Indonesia Damai & Bermartabat

  Oleh: Faturahman Dewantara, Pemerhati Masalah Sosial, aktif di Lembaga Kajian Ketahanan Sipil   Seolah telah menjadi tradisi bahwa setiap…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Indonesia-Tanzania Tingkatkan Relasi Perdagangan

NERACA Jakarta – Dubes RI untuk Tanzania Ratlan Pardede melakukan pertemuan dengan Presiden Zanzibar Ali Mohamed Shein pada Jumat (24/11)…

Stabilitas Harga Kebutuhan Pokok Terus Dijaga

NERACA Jakarta – Kementerian Perdagangan berupaya menjaga stabilitas harga dan pasokan barang kebutuhan pokok (Bapok) menghadapi Hari Besar Keagamaam Nasional…

Dunia Usaha - HIMKI Tentang Wacana Dibukanya Kran Ekspor Log dan Bahan Baku Rotan

NERACA Jakarta - Ketua Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Soenoto mengatakan sampai saat ini masih ada pihak-pihak yang…