ASEAN & Ekonomi Politik

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro SE, MSi

Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo

KTT ke-31 ASEAN di Manila (11-14 Nov.) lalu memberi warna dalam sejarah Asean. Paling tidak, pembahasan kepentingan era global menjadi kajian bersama dan ini tidak lama dari KTT ke-25 APEC di Da Nang, Vietnam 10-11 Nopember 2017. Artinya, ada rangkaian penting terkait persoalan global dalam konteks pencapaian kesejahteraan untuk mereduksi konflik. Argumen yang mendasari yaitu konflik di semenanjung Korea dengan melibatkan AS - Korea Utara. Selain itu, persoalan tentang Rohingnya juga tidak tuntas. Bahkan, kasus terbaru terkait tudingan pembersihan etnis di Rohingya.

Harapan terhadap penyelesaian tersebut bisa dilakukan dengan pendekatan diplomatis tapi juga bisa dilakukan dengan keterlibatan Asean. Selain itu meminimalisasi kekuatan senjata nampaknya juga penting bagi penyelesaian konflik di Myanmar untuk mereduksi korban jiwa. Di satu sisi konflik ini berdampak sistemik bagi pembangunan di Myanmar meski di sisi lain gelombang migrasi juga merepotkan negara tujuan. Oleh karena itu, beralasan jika Bangladesh merasa kerepotan dengan banyaknya pendatang.

Jika diplomasi gagal, bukan tidak mungkin ASEAN juga bisa menerapkan sanksi ekonomi - embargo ke Myanmar. Argumen yang mendasari karena kekerasan dan konflik fisik meningkat. Bahkan pemerintah cenderung tidak mengakui etnis Rohingya dan diyakini ada ethnic cleansing sehingga perlu dukungan dari dunia internasional untuk meredam konflik Myanmar dan sekaligus membangkitkan solidaritas dari etnis Rohingya. Jika benar dugaan kasus pembersihan etnis maka kasus ini menjadi ancaman serius tidak hanya dalam konteks HAM tapi juga kemerdekaan berkehidupan seperti cita-cita Asean.

Meski embargo dibenarkan secara politis, namun di sisi lain hal ini bertentangan dengan komitmen untuk tidak melakukan intervensi apapun terhadap kekuatan domestik. Oleh karena itu, beralasan jika sikap ASEAN cenderung hati-hati karena ada kepentingan sosial-politik-kemanusian dari kasus Myanmar. Hal ini menegaskan keterlibatan ASEAN dalam bentuk diplomasi baik secara bilateral dan multilateral sangat penting dilakukan tanpa mendikte Myanmar. Artinya, penegakan hukum adalah solusi bagi penyelesaian konflik di Myanmar. Kasus semenanjung Korea juga harus dicermati karena implikasinya kian panas dan bukan tidak mungkin antara Korea Utara dan Selatan akan terjadi riak konflik.

Faktor lain kasus Rohingya yaitu kemungkinan konflik berbasis geopolitik. Fakta yang mendasari yaitu target ke daerah etnis Rohingya 10 tahun terakhir dimulai tahun 2013 dan puncaknya di tahun 2017. Dugaan tidak terlepas dari asumsi perebutan tanah yang terdapat minyak-ga. Blok minyak-gas di semenanjung Rakhine cadangannya diprediksi 7.836 triliun kaki kubik gas dan 1.379 miliar barel minyak. Padahal, pengelolaannya melibatkan banyak negara misalnya North Petro-Chem Corp (Cina), MOECO (Jepang), ONGC (India), Interra Resources (Singapura), IGE, Ltd (Inggris) dan Geopetrol (Perancis), dll. Hal ini menjadi pendukung pentingnya pembahasan kasus Rohingya.

BERITA TERKAIT

Ekonomi Jangan Terganggu Politik

NERACA Jakarta - Presiden Joko Widodo wanti-wanti dengan dimulainya tahun politik yaitu Pilkada di 2018 dan Pilpres di 2019. Jokowi…

Integrasi Ekonomi Jadi Penantian Lama ASEAN

Oleh: Roy Rosa Bachtiar Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang telah diluncurkan pada 31 Desember 2015 sebagai tipe baru integrasi ekonomi…

MAMI Prediksi Kinerja IHSG Tumbuh Signifikan - Momentum Tahun Politik

NERACA Jakarta – Pilkada serentak yang bakal di lakukan tahun depan, membuat kekhawatiran tersendiri bagi pelaku pasar modal. Meskipun keyakinan…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Produk Impor dan Produk Domestik

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Masalah Ekonomi dan Industri   Dari sisi pasokan, baik produk impor maupun produk dalam negeri keduanya…

Harbolnas

  Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro Dosen Pascasarjana Universitas Muhamadiyah Solo   Dunia maya dan dunia nyata nampaknya kini semakin…

Peluang Bisnis Ritel Syariah

Oleh : Agus Yuliawan Pemerhati Ekonomi Syariah Bisnis ritel di Indonesia—dalam beberapa tahun  akhir  ini mengalami kelesuan yang luar  biasa,…